Budha

ilustrasi

Oleh : B Uster Kadrisson

Ada status seorang teman yang lewat di beranda yang bercerita kenapa dia memilih menjadi atheis setelah beranjak dewasa. Padahal secara terlahir dia mengaku sebagai keturunan penganut agama Buddha dan pernah mendalami ketika dalam masa-masa sekolah. Yang menarik perhatian saya bukan proses bagaimana dia kemudian bisa menjadi berubah. Tetapi ketika ada pernyataan yang mengatakan kalau tidak ada konsep Tuhan Yang Maha Esa di dalam ajaran agama Buddha.

Seketika keingin tahuan saya menjadi sedikit bergelora, karena terus terang dari berbagai ajaran agama yang pernah saya pelajari, mengenai agama Buddha sepertinya terlewatkan. Karena tidak terlalu menarik bagi saya, tidak ada cerita yang njelimet seperti kisah-kisah dewa dewi Yunani Kuno atau dewa-dewi Hindu yang jumlahnya ratusan. Dalam pemikiran saya sepertinya ajaran agama Buddha terlalu simple dengan ajaran kebaikan dan mengusahakan supaya diri menghindari dari kemungkaran. Sebuah konsep etika mengenai baik dan buruk yang sangat mendasar sekali sebenarnya dan universal, sepertinya ada dalam semua ajaran keimanan.

Sejarah agama Buddha dimulai dari sang pembawa risalah yang terlahir sekitar 5 abad sebelum Masehi dengan nama Siddhartha Gautama, yang berasal dari keluarga terhormat keturunan raja-raja Shakya. Sang Ratu Maya yang hamil tua, sedang dalam perjalanan untuk kembali ke kerajaan ayahnya untuk melahirkan di sana sesuai dengan tradisi lama. Tapi sang jabang bayi tidak sabar dan ingin segera keluar untuk melihat dunia, peristiwa itu terjadi di daerah Lumbini ketika bulan sedang purnama. Malang sang ibu cuma bisa mendekapnya selama seminggu, Siddhartha kemudian dibesarkan di Kavilawastu, dalam lingkungan istana.

Kehidupan bergelimang harta dan serba berkecukupan tidak membuat Siddhartha puas dan selalu merasa gelisah. Dia melihat siklus kelahiran, hidup dewasa, kesakitan dan menjadi tua dan akhirnya mati melepaskan nyawa. Ditinggalkannya kehidupan berkeluarga dan gemerlapnya istana saat usia menjelang kepala tiga, Siddhartha kemudian pergi mengembara mencari makna. Setelah belajar dari beberapa orang guru dia tetap merasa tidak cukup dan ketika sedang bersemedi di bawah pohon Bhody, dia menemukan apa yang selama ini dicarinya.

Menurut ajaran Buddha, setiap manusia mengalami siklus kehidupan yang berawal dari lahir, dewasa, dan kemudian mati meninggalkan dunia yang disebut dengan Samsara. Siklus reinkarnasi yang berulang-ulang ini menimbulkan ketidak nyamanan dan penderitaan yang disebut dengan dhuka. Berdasarkan akibat perbuatan baik atau kumpulan pahala yang telah diperbuat selama hidup, siklus ini bisa terputus dan manusia tersebut memasuki nirwana atau surga. Sedang jika karma yang terjadi merupakan sesuatu yang buruk, siklus berputar ke arah kehidupan yang lebih rendah bisa menjadi binatang atau berupa arwah.

Konsep neraka dalam ajaran agama Buddha sedikit berbeda karena 'naraka' bukanlah sebagai tempat hukuman terakhir. Melainkan sebagai tempat manusia dihukum untuk membersihkan diri dari dosa-dosa untuk bisa lagi kembali terlahir. Sehingga siklus kehidupan bisa dimulai lagi dari spedometer nol, bagaikan mobil anyar yang baru disemir. Tergantung nanti sang jiwa akan berakhir di surga nirwana atau kalau kembali lagi ke neraka, ah.. memang dasar pandir.

Dasar ajaran Samsara dalam agama Buddha adalah hampir sama dengan ajaran agama Hindu tapi minus dewa-dewa. Karena menurut agama Buddha, dewa dewi yang ada di lokananta merupakan tingkatan siklus tertinggi yang telah selesai dari jiwa yang sudah moksha. Juga tidak ada ditemui kata akhirat karena menurut mereka kehidupan ini tidak berujung dan juga tidak bermula. Ajaran Buddha sebenarnya simple saja, tidak usah berpikiran terlalu jauh, jalani saja yang ada sekarang dengan berbuat baik supaya mendapat karma untuk mencapai nirwana.

Juga tidak ditemui adanya cerita tentang asal muasal penciptaan dunia atau juga sejarah tentang permulaan keberadaan manusia. Ada dua aliran besar yaitu Mahayana yang banyak dijumpai di kawasan Asia timur dan terbagi-bagi lagi ke dalam beberapa sekte-sekte kecil lainnya. Serta Hinayana yang karena konotasi negatif sehingga sekarang lebih disebut dengan Theravada, banyak dijumpai di Srilanka, Thailand dan Kamboja memang tidak mengenal konsep Tuhan Yang Maha. Sedangkan aliran yang ketiga yaitu Vajrayana, banyak dianut di kalangan penduduk daerah Tibet dan Mongolia.

Walaupun namanya dilantunkan di dalam doa-doa, sosok Buddha bukanlah sebagai sembahan karena dia hanyalah manusia biasa. Melainkan sebuah gelar bagi orang-orang suci yang sudah mendapat pencerahan dan diyakini pasti sangat bijaksana. Ada banyak Buddha yang bisa ditemui dan tersebar di seluruh bagian dunia terutama di daratan Asia. Sehingga tidak heran, terdapat bermacam ragam patung Buddha dengan bentuk tubuh dan etnis yang berbeda, ada yang kurus berwajah India dan juga ada yang gemuk dengan senyum lebar dan beretnis China.

Juga dikenal adanya Buddha wanita yang disebut Tara yang mempunyai 21 bentuk berbeda rupa dan warna. Di pulau Jawa dalam abad 13 saat jaman keemasan kerajaan Singosari yang beragama Buddha, Tara dikenal dengan nama Prajnaparamita. Dewi Kwan Yin, yang merupakan dewi pengasih juga merupakan Buddha wanita yang sangat terkenal di China. Awalnya dikatakan merupakan sosok seorang pria dengan gambaran wajah yang berkumis tapi dalam jaman modern berubah menjadi figur seorang wanita.

Sosok Buddha Gautama juga diyakini dalam agama Hindu sebagai titisan kesembilan dewa Wisnu, sang penjaga. Dalam ajaran Greek Orthodox Church ada legenda dengan nama santo Josaphat yang diperkirakan adalah nama lain dari sang Buddha. Sedang dalam Islam Ahmadiyah, dia juga dipercayai sebagai salah satu dari ratusan ribu Nabi yang pernah diturunkan ke dunia. Mungkin saja benar adanya, karena Islam adalah agama rahmatan lil alamin, rahmat untuk seluruh alam bukan cuma bagi orang-orang yang suka mengaku-ngaku sudah memegang kunci surga.

Tabik.

Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson

Thursday, March 12, 2020 - 08:30
Kategori Rubrik: