Budaya Politik dan Ajaran "Empan Papan"

ilustrasi

Oleh : Supriyanto Martosuwito

- Kita pernah punya presiden yang hobi main gitar dan menyempatkan waktu untuk rekaman dan bikin album - saat masih sibuk jadi kepala pemerintahan, memimpin republik dan berkantor di Istana Negara. Nyaris tak berpolitik, kecuali bagi bagi jabatan dan merangkul semua musuh potensialnya. Sehingga kumpulan serigala, ular beludak dan kadal gurun tumbuh besar dan mengganas di sana. Lalu meninggalkan sejumlah proyek mangkrak.

Justru setelah pensiun - punya banyak waktu luang, bersama keluarga - tak terdengar cerita main gitarnya. Aksi panggungnya. Atau rekaman album barunya. Yang ada bikin pernyataan politik yang garang. Atau melow. Seusai situasi dan kondisi. Sambil nostalgia: "Pada zaman saya berkuasa, ... pada masa saya di pemerintahan.. ...bla.. bla.. bla.... "

Kita juga pernah punya wakil presiden yang sibuk berbisnis ketika duduk di istana Wapres - saat seharusnya menyelesaikan masalah ekonomi negara, tapi malah meninggalkan beban hutang swasta pada negara, yang kini harus ditanggung penggantinya.

Dan setelah tak lagi jadi wapres justru bikin manuver politik, membantu mendatangkan tokoh perusuh yang dideportasi, menciptakan kegaduhan dan terus menyerang pemerintah.

Dalam istilah kaum intelektual dan aktifis yang "nggaya" disebut "anomali". Artinya : penyimpangan.

Wong Jawa kowek seperti saya menyebutnya, "ora empan papan".

Dalam ajaran kehidupan orang Jawa, "empan papan" artinya "menempatkan diri sesuai dengan tempat atau situasi dan kondisi yang tepat".

Sedangkan "ora empan papan" berarti sebaliknya. Orang yang tidak tahu menempatkan diri.

Contohnya adalah yang di atas tadi : dikasi jabatan dan amanah untuk mengurus negara, tapi malah main gitar. Saat jabatan selesai dan bisa bebas gitaran, malah masih mau ikut. mengatur negara!

Dan mantan wakilnya itu : disuruh ngurus negara malah berbisnis. Giliran tak menjabat lagi dan bebas berbisnis malah berpolitik dan merecoki negara.

"Empan papan" merupakan istilah Jawa yang dapat diterapkan secara universal.

Seorang presiden mengurus negara dan mengurus hal hal besar. Membuat perubahan. Memikirkan langkah langkah untuk 10 tahun, 20 tahun atau 50 tahun ke depan. Bahkan lebih. Meletakkan fondasi berbagai bidang. Lalu dieksekusi oleh menteri menterinya.

Dia bersentuhan dengan hal hal kecil sebagai simbolik. Bertemu rakyat, salaman, memberi sertifikat tanah, berkomunikasi dan bercanda sebagai simbol negara peduli.

Untuk menangani pengganggu keamanan itu jatah polisi dan TNI. Atau Menkopolhukham.

Rakyat butuh ketenangan dan ketertiban. Tak penting siapa yang melakukannya : satpol pp - polisi atau TNI. Petugas petugas kebakaran juga boleh.

Tak boleh ada gerombolan yang berada di atas hukum, sewenang wenang, bebas semau maunya - melebihi negara.

Kelanjutan dari ajaran "empan papan" dalam budaya Jawa adalah : "ngerti kahanan" - yang artinya paham situasi dan kondisi.

Merespon situasi yang terjadi dan bereaksi tepat, sesuai dengan situasi dan kondisi tersebut. Itulah hukum universal yang harus dilakukan pemimpin di level nasional. Lokal dan bahkan juga di rumahtangga.

MERUJUK pada laman KBBI kamus besar bahasa Indonesia, anomaly atau ano·ma·li n. 1 ketidaknormalan; penyimpangan dari normal; kelainan; 2 Ling. penyimpangan atau kelainan, dipandang dari sudut konvensi gramatikal atau semantis suatu bahasa; 3 Tek penyimpangan dari keseragaman sifat fisik, sering menjadi perhatian ekplorasi (misalnya anomali waktu-lintas, anomali magnetik).

Dalam tafsir saya, anomali adalah ketika tukang obat disebut habib. Orang yang mengumbar kata kata kotor sebagai "ustadz", provokator disebut "ulama". Perusuh dan pengerah massa anarkis disebut "tokoh kharismatis". Pelaku chat mesum disebut "wakil umat".

Itu adalah ekspresi ketidakwarasan. Kita yang waras diminta menerima itu. Pembodohan massal namanya. Vulgar sekali pembodohannya.

Silakan saja bagi mereka yang mau menerimanya.

Saya jelas : menolak ketidak warasan! Ogah dibodohi. ***

Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito

Monday, November 23, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: