Budaya Memaafkan

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Tidak ada manusia yang sempurna. Tapi semua manusia bisa hebat apabila dia bisa menahan nafsunya untuk memaafkan dan mengedalikan egonya untuk mau minta maaf. Memberi maaf adalah kemulian akhlak dan meminta maaf adalah kekuatan iman.Yang paling sulit adalah ketika anda berada diatas angin untuk dengan mudah memukul lawan namun anda lebih memilih memaafkannya dan kemudian melupakannya. Rasul pernah bersabda “Barangsiapa memaafkan saat dia mampu membalas maka Allah memberinya maaf pada hari kesulitan (HR Ath-Thabrani). Artinya tidak mudah memang memaafkannya namun balasan dari Allah juga besar sekali.

Proses pengadilan memang menempatkan orang tidak ada perbedaan. Semua orang yang berhadapan dengan Hakim adalah sama. Jaksa , pengacara, saksi, dan terdakwa, dalam posisi ibarat sedang bertempur. Menang kalah pasti terjadi dalam perang. Ini berlaku sunattullah. Yang cerdik dan kuat yang menang. Mau apalagi. Inilah faktanya. Karenanya dengan situasi equal itulah Kiyai sepuh ditempatkan dalam arena yang mungkin seumur hidup tidak pernah terbayangkan oleh beliau akan berada diruang peradilan dunia ini. Namun 7 jam di hadapan dewan hakim kasus Ahok, semua dihadapinya sebagai bagian dari pilihannya menerima sebagai saksi ahli dari kejaksaan.

Setelah sidang selesai ,beliau cepat memaklumi bahwa apa yang terjadi pada sidang bukanlah cermin dari pribadi masing masing orang yang terlibat. Itu hanya panggung drama peradilan dunia. Bukan tempat menemukan kebenaran hakiki tapi sebagai upaya mendekati keadilan yang mungkin bisa dicapai. Mengapa mungkin? karena tidak ada lain, harus menerima dengan ikhlas. Makanya tidak sampai membuat beliau baper dengan segala sikap yang tidak mengenakan dirinya selama sidang. Setelah sidang usai, beliau sadar bahwa semua orang yang hadir dalam sidang akan kembali kepada status sosialnya masing masing dan mendapatkan hormat atas status tersebut.

itulah sebabnya , sebelum dia tahu Ahok minta maaf , beliau sudah lebih dulu memaafkan Ahok. Dari peristiwa ini kita mendapaktan hikmah. Bahwa dari perbedaan yang ada, dari proses sidang yang keras , kedua orang ini yaitu Ahok dan Kiyai Ma'ruf menunjukan kelasnya sebagai orang beragama. Bahwa memaafkan bukanlah merendahkan diri dan meminta maaf bukan hina. Dari sikap seperti inilah kita bisa tanpa baper ; bila business is business, politic is politic, religion is religion, law is law...semua di tempatkan pada posisi dan porsinya masing masing. Yang penting terlepas dari masalah formal dan atribut, kita semua sama, anak bangsa.

Yuuk mari biasakan kepada siapapun " Pada hari ini tidak ada cercaan kepada kamu , mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu) ,dan DIA adalah Maha Penyayang diantara Penyayang.” Memaafkan dan meminta maaf itu memang indah, dan membuat kita awet muda, sehat lahir dan batin.

Pahamkan sayang..**

Sumber : facebook Erizeli Jely Bandaro

Thursday, February 2, 2017 - 12:45
Kategori Rubrik: