Budaya dan Modernitas

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Disadari atau tidak..., diakui atau tidak...; eksistensi kebudayaan lokal masyarakat Nusantara semakin tergerus dalam skala besar.

Apa yang masih kita dapati sekarang..., seperti: bahasa..., kesenian..., adat..., tradisi..., karya-karya budaya aneka bentuk lain...; tinggallah sisa-sisa.

Sedikit dari yang tersisa itu pun tinggal menjadi kesaksian peradaban masa lalu yang pernah kita miliki..., keberadaannya tidak lagi utuh sebagai “kebudayaan”.

Mengapa dikatakan demikian...?

Berbagai hal yang kita namai kebudayaan lokal itu tinggal wadagnya..., sudah kehilangan isi..., kehilangan roh.

Segala daya upaya dengan seribu dalih menjaga eksistensi..., hanya berkutat di wilayah permukaan..., nyaris sama sekali tidak menyentuh wilayah kedalaman.

Atas nama kebebasan kreatif...; konvensi dianggap sebagai penghambat kemajuan.

Atas nama jaman...; irasionalitas dianggap sebagai keterbelakangan.

Atas nama akhlak...; religiusitas dianggap anti ketuhanan.

Semua ditarik ke ranah rasional-pragmatis..., simbolisme habis.

Tak aneh jika kemudian disegala bidang..., perikehidupan bangsa Indonesia seperti kehilangan pegangan nilai.

Karena simbolisme sebagai ruang hayatan nilai..., semakin disingkirkan.

Dulu..., dalang itu aktor tunggal.

Dalang tidak boleh kebogelan..., kehabisan cerita sehingga pentas selesai sebelum waktunya.

Dalang juga tidak boleh karahinan..., berpanjang cerita sehingga matahari terbit pentas belum usai.

Posisi dalang tidak boleh ngungkurke ‘membelakangi’..., maupun ngiwakke ‘menyamping-kirikan’ si empunya hajat.

Sekarang....?

Ah..., filosofis itu kuno.

Tidak lagi menarik..., tidak strategis..., tidak punya nilai jual.

Motif kain Parang Rusak..., krama inggil..., tata-upacara adat sebagai wahana membina moral-etik...; dianggap warisan feodalisme yang bertentangan dengan semangat demokrasi.

Itu cuma motif kain..., boleh dipakai siapa saja..., untuk apa saja.

Tidak perlu rumit-rumit..., yang praktis saja..., efektif-efisien.

Sajen..., dupa..., ngelmu gugon-tuhon..., mitos..., dan semacamnya sebagai ruang mengelola religiusitas...; dianggap menyekutukan Tuhan.

Bertentangan dengan ajaran agama..., neraka jaminannya.

Pokoknya harus rasional..., praktis..., steril dari mistik (kegaiban).

Kebudayaan harus bisa dikemas dan laku jual..., terutama harus dipacu agar go international.

Dikenal masyarakat dunia..., hingga mereka berdatangan membawa uang untuk kita.

Lupa bahwa akal tak mampu menjangkau segala persoalan.

Lupa bahwa manusia adalah makhluk sosial..., yang mana hidup bersama perlu aturan main ‘norma-etik’.

Lupa bahwa Tuhan itu gaib..., yang keberadaannya ‘tan kena kinaya ngapa’..., bukan seperti kita yang gampang ditipu dan disogok.

Lupa bahwa kebudayaan itu menjawab segala dimensi persoalan komunitas manusia si pemilik kebudayaan..., bukan menjawab target PAD ataupun APBN.

Lupa..., lupa..., dan lupa.

Banyak lupa dampak dari mengabaikan simbolisme..., menyingkirkan kedalaman makna.

Membuang nilai ‘value’..., semata-mata mengejar harga ‘price’.

Bahwa nilai bukanlah ranah akal ‘rasio’..., melainkan ranah batin ‘rasa’.

Nilai mawujud menjadi gerak..., bukan berangkat dari mengerti (kognisi)..., melainkan dari menghayati (afeksi).

Mengerti adalah kerja akal..., dicapai dengan menyerap pengetahuan.

Menghayati adalah kerja batin..., dicapai dengan menyerap nilai atau makna..., yang prosesnya disebut internalisasi.

Ketika kebudayaan sudah kehilangan ruang internalisasi yang dijembatani oleh simbolisme..., maka kebudayaan itu sudah kehilangan nilai..., kehilangan makna..., kehilangan kedalaman.

Tak mampu menjadi alat mengatur kehidupan..., lantaran setiap orang sudah tidak lagi punya mimpi sekaligus pedoman batin yang sama.

Sebagaimana yang di alami bangsa Indonesia kekinian.

Di Indonesia kini..., apa yang kemudian tidak menjadi liar...?

Politik..., ekonomi..., hukum..., pendidikan..., bahkan praktek keagamaan...; semua menjadi liar.

Semua menjadi liar..., lantaran berkebudayaan tanpa kedalaman.

Nilai terkubur oleh harga.

Semakin lebih banyak orang beragama..., tetapi semakin sedikit orang ber-Tuhan.

Bangsa yang semakin kehilangan per-adab-an.

Rahayu

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

Sunday, July 5, 2020 - 12:30
Kategori Rubrik: