Budaya "Atribut" dan Perilaku Menyimpang

ilustrasi
Oleh : Uju Zubaedi
 
Pembahasan bagian kedua ini melanjutkan pembahasan sebelumnya yg tema intinya :
وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ
Allah-lah yang menciptakan kamu dan juga apa yang kamu lakukan (perilakumu). (Ash-Shaffat : 96)
Segala yg Allah ciptakan di bumi ini, baik yg berwujud materi ataupun imateriel, Allah mengonsepnya (mendesain) terlebih dahulu dg apa disebutNya Kalimatullah/Kalimatu Robbik, dan disebutNya juga sebagai "termaktub dalam suatu kitab".
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ
Apapun yang menimpa (terjadi) di bumi dan juga pada diri2 kalian, semua itu telah tertuang dalam suatu kitab (konsep) sebelum Kami mewujudkannya. Sesesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (Al Hadid : 22)
Konsep (desain) terkait penciptaan manusia dan perilakunya, Allah mengebutnya "Fitrah Allah".
.. فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ ...
suatu fitrah (desain) Allah dimana Dia telah menciptakan manusia berdasarkan fitrah tsb.... (Ar Rum : 30)
Penciptaan perilaku manusia diawali dg diciptakannya manusia dalam tiga perbedaan asasi yakni :
> Dua jenis kelamis (laki2 - perempuan)
> Beberapa golongan RAS
> Sejumlah banyak sekali bangsa2 dan suku bangsa (etnis).
Sehubungan dengan perbedaan2 tsb, Allah mengagendakan agar manusia bisa saling mengenal, baik antar individu maupun antar golongan yg berbeda2 tsb di atas ("li ta'aarofuu"). Maka selaras dg hal tsb Allah menginstal pada jiwa nanusia hasrat untuk dikenal orang dan rasa senang ketika semakin banyak orang yg mengenalnya. Baik terkait masing2 individu maupun terkait kelompok/golongannya masing2.
Di sisi lain, Allah pun memfasilitasi agendaNya tsb ("agar mereka saling mengenali") dengan "menurunkan" berbagai jenis/bentuk PEMBEDA (ciri2 yg membedakan satu sama lain) yg Allah sebut ALFURQON (pembeda)
... وَأَنزَلَ ٱلۡفُرۡقَانَۗ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدٞۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٞ ذُو ٱنتِقَامٍ
..... dan Dia menurunkan pula alfurqon (pembeda). Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat2 Allah bagi mereka azab yang keras. Allah Mahaperkasa lagi mempunyai hukuman. (Ali 'Imran : 4)
Keanekaragaman dan ciri2 yg menandai perbedaan2 tsb di atas adalah bagian dari ayat2 yg Allah "turunkan" sebagai pengejawantahan dari konsep Kalimatullah. Maka jelaslah bahwa orang2 yg anti plurasisme, anti perbedaan adalah orang2 yg kafir thd ayat2 Allah.
Perbedaan gender dan perbedaan ras adalah kodrati, bawaan lahir. Tidak ada sesuatupun yg dilakukan seseorang agar dirinya terlahir sebagai lelaki atau perempuan dan juga sebagai ras yg mana. Tapi pada penciptaan manusia Allah memasang naluri berkomunikasi dan berkelompok yg menjadikan perilaku mereka berkelompok, berkehidupan sosial, berkebangsaan.
Maka terbentuklah golongan2 yg Allah sebut QOBILAH (bangsa), yg terbentuk karena perilaku manusia berhubungan dan begabung satu sama lain, tanpa dibatasi dg perbedaan gender ataupun ras. Maka bisa saja manusia2 yg berbeda2 ras bergabung dalam satu qobilah (bangsa), atau satu bangsa terbentuk dari berbagai ras yg berbeda, seperti halnya bangsa Indonesia ini.
Bangsa2 yg berbeda2 alam lingkungan hidupnya, berbeda2 persoalan hidup yg dihadapi, berbeda2 pula pola pikir, kadar nalar dan kreatifitasnya, maka secara naluriyah semua itu melahirkan perilaku2 khas masing2 yg berbeda2 pula, dan itulah yg disebut perbedaan BUDAYA yg juga merupakan pengejawantahan Kalimatullah dalam menciptakan perilaku manusia.
Begitu sinkron dan selarasnya apa yg Allah terangkan dlm kitabNya dengan apa yg terjadi dalam kenyataan. Bahwa Allah MENCIPTAKAN PERILAKU MANUSIA, Allah menciptakan manusia menjadi BERGOLONG2AN agar satu sama lain SALING MENGENALI, Allah MENURUNKAN ALFURQON (pembeda) sebagai memfasilitasi agendaNya : "agar manusia saling mengenali" itu dan Allah pun memasang pada jiwa manusia naluri hasrat dan rasa senang untuk dikenal dan mengenal.
Maka sikap mental dan perilaku manusia yg menyimpang dan antagonis dg ayat dan fakta2 di atas, adalah perilaku menyimpang menyalahi desain (fitrah) penciptaanya, perilaku yg Allah sebut FASIQ alias produk cacat.
Tergolongkannya manusia menjadi berbangsa2 itu lebih disebabkan faktor2 alami, faktor senasib sepenanggungan dlm perjalan hidup mereka. Maka PEMBEDA (furqon) bagi masing2 bangsa/etnis itupun merupakan kebudayaan yg tumbuh secara natural dari ide dan kreatifitas yg kemudian merata dan mentradisi di kalangan warganya. Bukan didasarkan pada aturan formal/hukum positif, tapi secara alamiyah melahirkan standard/ketentuan yg disebut "pakem" yg meski tidak tertulis tapi dipedomani dan dipatuhi. Jika dilanggar akan mencederai keutuhan dan originalitas budaya ybs. Misalnya, penari Bali, penari Jawa memakai jilbab, itu perilaku menyimpang, menyalahi pakem.
Tapi setelah mereka tergolongkan sebagai suatu bangsa, naluri berkelompok dan dikenali (terbedakan) yg Allah pasang pada jiwa manusia mendorong mereka untuk secara sengaja dengan maksud dan tujuan tertentu, membentuk kelompok2 secara sestemik dan terstruktur, maka terbentuklah kelompok2 yg terstruktur dan terorganisir. Partai, ormas, berbagai macam organisasi bahkan juga Negara.
Naluri "ingin dikenali" dan terbedakan satu sama lain yg Allah pasang pada jiwa manusia juga berpengaruh pada perilaku komunal sehingga komunitas2 itupun butuh PENANDA YG MEMBEDAKAN golongannya dg golongan lainnya. Maka dibuatlah dengan sengaja penanda2 yg membedakan satu sama lain itu yg kemudian disebut ATRIBUT. Penanda eksistensi dan pembeda dg golongan lainnya. Bisa berupa pakaian seragam, bendera, lencana atau panji2, dll. Atribut2 yg tumbuh pada perilaku budaya manusia itupun termasuk pada apa yg Allah sebut "alfurqon" (pembeda).
Selain sebagai PEMBEDA, atribut2 tersebut tadi juga punya fungsi psikologis yg lain.
Adalah fitrah bagi manusia (Allah menginstal pada jiwa manusia) rasa bangga atas hasil karyanya, rasa cinta dan hasrat memuliakan karya2nya yg punya nilai tertentu, juga terhadap apa yg jadi miliknya atau ia punya rasa memiliki atasnya. Lalu manusiapun ingin/butuh mengekspressikan rasa cinta dan memuliakan itu dg merawatnya, menempatkan pada tempat/posisi yg baik, dsb.
Maka demikian pula terhadap karya/bentukan mereka berupa Negara, Partai, Ormas dll yg ia telah merasa jadi bagian darinya atau telah punya rasa memiliki, merekapun akan mencintainya, memuliakan/menghortinya dsb.., dan ingin pula mengekspressikan perasaan2nya itu.
Tetapi NEGARA itu sesuatu yg abstrak. Yg konkrit itu Aparatur Negara, Warga negara, wilayah Negara, dsb. Partai atau organisasi itu sesuatu yg abstrak, yg konkrit itu pengurusnya, anggotanya, gedung kantornya dsb. Sedangkan manusia itu makhluk yg kesulitan mengekspressikan perasaan terhadap sesuatu yg abstrak. Maka atribut2 yg dibuat dan ditetapkan itu berfungsi sebagai simbol yg melambangkan kelompok atau intitusi yg mereka bangun lalu mereka banggakan, mereka cintai dan muliakan.
Menetapkan atribut dan simbol2 (lambang) dari suatu komunitas atau instutusi adalah merupakan domain dari pihak pemegang otiritas (penguasa) pada komunitas ybs. Bukan dibuat menurut kesukaan atau selera masing2 orang dlm komunitas itu, dan bukan pula tumbuh secara alamiyah seperti kebudayaan pada suatu bangsa/etnis. Begitulah "pakemnya" yg berlaku dlm kehidupan manusia dimanapun (universal), dengan kata lain : begitulah fitrah Allah dlm menciptakan perilaku manusia.
Rasa cinta dan bangga atas hasil karya dan atas apa jadi miliknya itu pun fitrah manusia, begitulah Allah menciptakan perilaku manusia, dan demikian pula dg keinginan untuk mengekspressikan perasaan2nya tsb. Allah Yg Maha Pencipta (Al Kholiq) saja mencintai dan memuliakan makhluqNya.
وَلَقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِيٓ ءَادَمَ ...
Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, ... (Al-Isra : 70)
Allah tidak MENGATUR perilaku manusia melainkan MENCIPTAKANnya lewat pemasangan AF`IDAH (komponen2 jiwa) pada penciptaan manusia. Maka sikap dan perilaku yg antagonis dg fitrah manusia adalah perilaku menyimpang menyalahi "desain", refleksi jiwa yg ERROR terpapar virus syaithoni yg kelak pada masa seleksi (yaumul hisab) akan tegolong "produk cacat" lalu diafkir ke neraka.
Untuh mencegah kecacatan jiwa dan keterafkirannya ke neraka, dari langit Allah menggelar MISSI PENYELAMATAN berupa "jasa" petunjuk dan bimbingan untuk mencegah perilaku menyimpang (semacam anti virus) yg Allah tawarkan kepada manusia dalam format TIJAROH (perniagan), alias bukan "aplikasi gratis".
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ هَلۡ أَدُلُّكُمۡ عَلَىٰ تِجَٰرَةٖ تُنجِيكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ
Hai orang2 yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan pada suatu perniagaan menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Ash Shaf : 10)
Pada "perniagaan Robbani" yg "Agen Utamanya Para Rosul dan pelanggan/member/costumernya orang2 Mukmin yg mengikutinya itu terbentuk suatu kelompok/komunitas manusia multi segmen yg secara khusus Allah kategorikan sebagai UMMATAN WAHIDAH (Ummat Yang Satu).
يَٰٓأَيُّهَا ٱلرُّسُلُ كُلُواْ مِنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَٱعۡمَلُواْ صَٰلِحًاۖ إِنِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ عَلِيمٞ - وَإِنَّ هَٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ وَأَنَا۠ رَبُّكُمۡ فَٱتَّقُونِ
Hai para rasul..., Makanlah dari yang baik2 dan bekerjalah dengan baik. Sesungguhnya Aku sangat mengetahui apa yang kalian kerjakan.
Dan sesungguhnya (ummat ini) adalah ummat kalian. UMAT YG SATU dan Akulah Tuhanmu, maka bertakwalah kalian kepada-Ku.” (Al Mukminun : 51, 52)
Ummat pengikut rosul itu, dimanapun dan kapanpun mereka eksis di bumi Allah memandang dan menyebutnya "Ummatan Wahidah" (ummat yg satu), yaitu Ummat Muslimin yg bertaqwa (mengikuti Rosul). Tidak ada dan tidak boleh ada di dalamnya golongan2 yg berbeda2. Perbedaan dan keragaman perilaku manusia sudah Allah ciptakan dlm wujud keragaman bangsa2 (qobilah) dengan ciri2 budayanya masing2. Kehadiran para Rosul dg membawa Dienullah tidak untuk mengusik atau mengganggu keragaman budaya yg Allah ciptakan itu.
شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحٗا وَٱلَّذِيٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِۦٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓۖ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِۚ كَبُرَ عَلَى ٱلۡمُشۡرِكِينَ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِۚ ٱللَّهُ يَجۡتَبِيٓ إِلَيۡهِ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِيٓ إِلَيۡهِ مَن يُنِيبُ
Dia (Allah) telah mensyariatkan untuk kalian agama yang (dahulu) telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa agar kalian mendirikan (membangun) agama tsb dan JANGANLAH KAMU BERPECAH2/BERBEDA2 DI DALAMNYA. Adalah berat bagi orang2 musyrik apa yang kamu serukan kepada mereka (mereka maksa dan kadung berpecah belah. Red) Allahlah yg memilih orang2 yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada (originalitas) agamaNya itu orang2 yang "yunib" (merujuk hanya kepada-Nya). (Asy Syura : 13)
Namun begitulah, virus2 syaithoni itu merusak tatanan yg telah dibangun para nabi/rosul sehingga generasi2 yg datang kemudian melakukan banyak penyimpangan sehingga terjadilah (mereka maksa) bergolong2an dan berbeda2 dalam urusan agama (Islam).
Allah tegaskan bahwa bergolong2an dan berbeda2 dlm urusan agama di kalangan mereka itu adalah wujud KESESATAN dan KEMUSYRIKAN.
فَتَقَطَّعُوٓاْ أَمۡرَهُم بَيۡنَهُمۡ زُبُرٗاۖ كُلُّ حِزۡبِۭ بِمَا لَدَيۡهِمۡ فَرِحُونَ - فَذَرۡهُمۡ فِي غَمۡرَتِهِمۡ حَتَّىٰ حِينٍ
Lalu mereka (pengikut rosul di kemudian hari) mencincang pecah (mengobrak abrik) urusan (agama)nya menjadi beberapa golongan. Setiap golongan (merasa) bangga dengan apa yang ada pada mereka (masing2).
Maka BIARKANLAH mereka dalam KESESATAN sampai suatu saat. (Al Mu'minun : 53, 54)
.... وَلَا تَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ - مِنَ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ وَكَانُواْ شِيَعٗاۖ كُلُّ حِزۡبِۭ بِمَا لَدَيۡهِمۡ فَرِحُونَ
dan janganlah kamu termasuk orang2 yang MENYEKUTUI Allah (melanggar domain Allah),
yaitu orang2 yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka. (Ar Rum : 31, 32)
Tidak ada cara yg bisa dilakukan manusia untuk menyatukan mereka dari perpecahan. Mereka telah terbelenggu dan merasa bangga dg rujukan masing2 yg berbeda2. Maka arahan dari Allah BIARKAN mereka dlm kesesatannya, "sampai suatu saat". Allahlah yg akan memilih dan menuntun mereka yg mau "yuniib" (hanya merujuk kepadaNya) kepada kebenaran (originalitas agamaNya), kepada apa yg dahulu Allah syari'atkan lalu Dia wahyukan/wasiyatkan kepada Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad (Asy Syuro : 13)
وَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِهِمۡۚ لَوۡ أَنفَقۡتَ مَا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا مَّآ أَلَّفۡتَ بَيۡنَ قُلُوبِهِمۡ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ أَلَّفَ بَيۡنَهُمۡۚ إِنَّهُۥ عَزِيزٌ حَكِيمٞ
dan Dialah (Allah) yang mempersatukan hati2 mereka (orang yang beriman). Kalaupun kamu belanjakan seluruh (kekayaan) yang ada di bumi, kamu tidak akan bisa mempersatukan hati mereka, tetapi Allah-lah yg mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana. (Al Anfal : 63)
Manusia2 (mukminin) yg Allah rekrut dan tuntun ke dalam agama yg disyari'atkanNya itu, secara logis terbentuk menjadi sebuah kelompok (golongan) tersendiri. Bukan golongan bawaan lahir sebagaimana ras dan gender, bukan pula golongan yg terbentuk karena akal budi dan perilaku manusia, sebangaimana sebuah bangsa atau kelompok2 (jamaah) yg dibentuk/didirikan orang dan punya atribut sebagai penanda masing2 untuk bisa dikenali, melainkan golongan "besutan" Allah (hizbullah). Terlepas bebas dari segala golongan (bentukan) manusia yg ada dengan segala macam atribut penandanya (furqon) masing2.
Golongan pengikut para Rosul yg Allah kategorikan sebagai UMMATAN WAHIDAH yg mengerucut pada Allah sebagai Robb mereka itu, Allah menamai mereka MUSLIMIIN..
.... هُوَ سَمَّىٰكُمُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ مِن قَبۡلُ وَفِي هَٰذَا ....
.... Dialah (Allah) yg menamai kamu MUSLIMIIN sejak dahulu, dan juga di (masa sekarang) ini... (Al Hajj : 78)
Kemudian Allah membakukan dan menetapkan untuk golongan Muslimin ini suatu konsep hidup rumusanNya (konsep Robbani) yg Allah sebut "KALIMATU`TTAQWA" (kosep ketaqwaan)
... وَأَلۡزَمَهُمۡ كَلِمَةَ ٱلتَّقۡوَىٰ وَكَانُوٓاْ أَحَقَّ بِهَا وَأَهۡلَهَاۚ ....
...dan (Allah) menetapkan pada mereka suatu konsep ketaqwaan ("kalimatu`ttaqwa") dan merekalah yg berhak atas konsep tsb sebagai ahlu (member)nya...... (Al Fath : 26)
Maka dg arahan dan tuntunan yg bersifat ruhiyyah/qolbiyyah dari Allah, terbentuklah suatu kelompok (komunitas) lintas gender, ras dan etnis, yg Allah namai MUSLIMIN, yg menjalani dan membangun kehidupan secara konseptual, struktural dan kultural berpijak dan berpandukan konsep KALIMATUTTAQWA secara benar dan legal.
Golongan manusia yg menjalani dan membangun kehidupan berbasis KALIMATUTTAQWA itulah yg Allah sebut MUTTAQIIN (orang2 yg bertaqwa), dan untuk golongan ini pun Allah menjadikan bagi (memberi) mereka "atribut" alias alfurqon sebagai penanda eksistensi dan legitimasi bagi mereka di mata Allah.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَتَّقُواْ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّكُمۡ فُرۡقَانٗا وَيُكَفِّرۡ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡۗ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ
Hai orang2 yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, pastilah Dia akan memberi kalian suatu PEMBEDA (furqan), menghapus keburukan2 kalian dan memberi kalian koreksi/perbaikan (maghfiroh). Allah itu memiliki karunia yang besar. (Al Anfal : 29)
Selaras dg fitrah penciptaan manusia seperti teruraikan di atas, sebagai pemegang otoritas atas kelompok besutanNya ("Ummatan Waahidah Wa Ana Robbukum") yg Dia namai/sebut Muslimiin/Muttaqiin, maka Allahlah yg berhak menentukan dan nenetapkan "atribut" bagi mereka sebagai PEMBEDA sekali gus LEGITIMASI dan SYI'AR2 ALLAH (simbol2 yg dijadikan media mengekspressikan rasa hormat dan bersyukur)
Tentunya atribut2 tersebut BUKAN sesuatu yg merupakan budaya manusia. Mustahil bagi Allah Yg Maha Agung Maha Tinggi memungut karya budaya makhlukNya sebagai kelengkapan perangkat dalam urusanNya. Manusia saja akan malu memungut karya kelompok lain untuk dijadikan atribut bagi kelompoknya. Jadi, membuatkan atribut untuk urusan Allah sama saja dengan merendahkan dan mempermalukan Allah.
Atribut2 kemusliman dan ketakwaan itu yg juga menjadi syi'ar Allah adalah amalan2 yg khas berupa ritus2 yg Allah sendiri yg mengajarkan dan menetapkannya (Allah "koreografernya"). Allah menyebut amalan2 tersebut sebagai MANSAK/NUSUK/MANASIK. Nabi saja tidak berani ngarang sendiri melainkan memohon agar Allah menunjukkan dan mengajarkannya.
.... وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا ......
Tunjukkanlah "manasi" kami, ... (Al Baqarah : 128)
لِّكُلِّ أُمَّةٖ جَعَلۡنَا مَنسَكًا هُمۡ نَاسِكُوهُۖ ....
Bagi setiap umat telah Kami jadikan suatu "MANSAK" (RITUS) TERTENTU yang (harus) mereka amalkan, ..... (Al Hajj : 67)
... فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُم ...
..... maka ingatlah Allah (solatlah), sebagaimana yg DIA AJARKAN kepadamu ... (Al Baqarah : 239)
Begitulah beberapa bentuk amalan ritual yg Allah tetapkan dan lestarikan sejak zaman Nabi Ibrahim sampai sekarang dan untuk selamanya. Solat yg terjadwal (mawquutan), saum Ramadhan, manasik haji plus penyembelihan hewan kurban dan amalan membaca (qiroah) Alquran.
Semua bentuk amalan ritual tsb, yg sarat dg nilai2 filosofis/ajaran (adz dzikr) dan wajib dilakukan oleh setiap Muslim, itulah yg Allah jadikan penanda (alfurqon) untuk mengenali bahwa seseorang itu Muslim. Bukan suatu apapun yg merupakan produk budaya manusia.
Amalan2 ritual penanda kemusliman seseorang itu memang wajib hukumnya bagi setiap Muslim. Tapi semua itu baru merupakan atribut untuk mengenali bahwa mereka Muslim, dan sebagai simbol ketaatan dan loyalitas.
Ibaratnya kita mengenali bahwa seseorang itu anggota Polisi, TNI, anak sekolah dsb, adalah dari pakaian seragam dan atribut2 resmi yg dipakainya. Memakai pakaian seragam, upacara bendera dll itu benar2 WAJIB bagi nereka, bisa kena sangsi jika dilanggar. Tapi semua itu hanya penanda ("alfurqon") bagi dirinya, dan sebagai simbol kedisiplinan, ketaatan dan loyalitas.
Dengan taat dan disiplin mengenakan atribut, "mengamalkan" ritual upacara dll, sama sekali belum menyentuh essensi dari missi, fungsi dan tugas mereka. Apa artinya seorang anak sekolah selalu memakai pakaian seragam dg rapih dan bersih, tapi ke sekolah bolos mulu, malas belajar, gak ngerjakan PR.., makan tuh baju seragam..!
Demikian pula dg amalan2 ritual dalam ber-Islam. Amalan2 ritual yg wajib hukumnya itu baru merupakan atribut penanda kemusliman dan ketaqwaan, dan sebagai "syi'ar2 Allah", yaitu media untuk mengekspressikan ketundukkan dan penghormatan (ta'dzhim) kepadaNya, belum menyentuh essensi tugasnya sebagai hamba Allah andalan-Nya (khalifah-Nya) yaitu membangun peradaban, mengejawantahkan "Kalimah-Nya" (Kalimatullah), dengan berpandukan "Kalimatuttaqwa" agar mereka selamat dari keterafkiran ke neraka.
Betapa Allah mengingatkan bahwa bisa jadi seseorang yg begitu patuh dan rajin mengamalkan ritual2 tsb, tapi malah dia akan menuai CELAKA (WAIL), disebabkan apa yg dia lakukan dalam kehidupannya tidak nyambung dg solatnya ('an sholaatihim saahuun). Solatnya hanya untuk menarik perhatian (ingin diperhatikan) Allah dan juga perhatian manusia (yuroo`uuna/pamer).
وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمۡ عِندَ ٱلۡبَيۡتِ إِلَّا مُكَآءٗ وَتَصۡدِيَةٗۚ فَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ
Shalat mereka di baitullah (masjid2) itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan (cara menarik perhatian). Maka rasakanlah azab disebabkan perilaku kafirmu itu. (Al Anfal : 35)
Sholat yg di masjid2 saja bisa hanya dianggap Allah sebagai "siulan dan tepuk tangan", perilaku kafir, apa pula dg sholat di jalan raya, di monas, di senayan..
Padahal yg namanya atribut sebagai pembeda antar golongan (alfurqon) itu bersifat definitif, detetapkan oleh otoritas pada komunitas/institusi ybs, baik bentuk/modelnya maupun penggunaannya. Para membernya tidak boleh ngarang/ngatur sendiri atau menambah2 sesukanya. Menambah2 sesukanya itu adalah penyimpangan (perilaku menyimpang).
Demikian pula dg atribut2 Robbani berupa amalan2 ritual yg kadang Allah menyebutnya "adz-dzikr" atau "dzikrullah" (mengingat Allah), Allah-lah yg menetapkan dan harus dilakukan sebagaimana yg Allah ajarkan/tunjukkan. Menyalahi atau menyimpang dari itu Allah sebut SESAT.
فَإِنۡ خِفۡتُمۡ فَرِجَالًا أَوۡ رُكۡبَانٗاۖ فَإِذَآ أَمِنتُمۡ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُم مَّا لَمۡ تَكُونُواْ تَعۡلَمُونَ
.... Kemudian jika telah aman (normal kembali) ingatlah Allah (shalatlah), SEBAGAIMANA YG DIA AJARKAN kepadamu apa yang (semula) belum kamu ketahui. (Al-Baqarah : 239)
... وَٱذۡكُرُوهُ كَمَا هَدَىٰكُمۡ وَإِن كُنتُم مِّن قَبۡلِهِۦ لَمِنَ ٱلضَّآلِّينَ
....... dan berdzikirlah (ingatlah) Dia sebagaimana yg Dia tunjukkan kepadamu, tanpa (sebelumnya) itu tidak lain kamu itu termasuk orang2 yang SESAT. (Al-Baqarah : 198)
Tapi kenyataan yg berkembang di kalangan umat Islam, dalam kegelapan dari petunjuk Allah, amalan2 ritual yg sejatinya hanya merupakan "atribut" dan sebagai cara yg Allah tunjukkan dalam mengekspressikan kekhidmatan (mengagungkan) Allah, justru dianggap sebagai essensi "ibadah", sebagai pengabdian/persembahan/suguhan untuk-Nya. Maka semakin banyak dan beragam dilakun adalah semakin baik karena akan semakin banyak mendulang pahala, dan amalan itulah yg akan membuat mereka "masuk surga". Maka merekapun ngarang lagi brrbagai bentuk amal2an agar bisa lebih banyak lahi menyuguhi Allah
Padahal Allah tidak butuh apapun, tidak butuh "dipersembahi" (diberi upeti), tidak butuh disuguhi.
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ - مَآ أُرِيدُ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٖ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ - إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ
Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.
(Tapi jangan salah...)
Aku tidak menghendaki rezeki (upeti/persembahan) apapun dari mereka dan Aku tidak ingin pula mereka menyuguhi-Ku.
Allah itu, Dialah Pemberi rezeki, Pemilik Kekuatan Sangat Kokoh. (Adz-Dzariyat : 56 – 58)
لَّقَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ فَقِيرٞ وَنَحۡنُ أَغۡنِيَآءُۘ سَنَكۡتُبُ مَا قَالُواْ وَقَتۡلَهُمُ ٱلۡأَنۢبِيَآءَ بِغَيۡرِ حَقّٖ وَنَقُولُ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ
Sungguh, Allah telah mendengar perkataan orang2 yang mengatakan (beranggapan), “Sesungguhnya Allah itu "faqir" (sangat membutuhkan) dan kami "kaya" (punya banyak untuk disuguhkan)” Kami akan catat perkataan mereka dan perilaku mereka membunuh nabi-nabi tanpa hak (kebenaran), dan akan Kami katakan (kepada mereka), “Rasakanlah olehmu azab yang membakar!” (Ali 'Imran : 181)
Tapi kebanyakan orang2 Islam itu tidak menggubris petunjuk dan peringatan dari Allah, mereka lebih manut pada ajaran2 "aabaa`anaa", "syaikhuna" dan khayalan2 mereka sendiri. Semakin banyak dan beragam amalan ritual itu dilakukan, semakin besar ganguannya pada ketentraman publik, semakin besar pahalanya, semakin gede surga dan semakin banyak bidadari yg akan dinikmati.. (mimpi).
Adapan untuk penanda (atribut) kemusliman mereka, mereka ngatur dan ngarang sendiri, mereka anggap produk2 budaya bangsa Arab yg sejatinya merupakan penanda (furqon) untuk qobilah (bangsa) mereka, malah mereka jadikan penanda kemusliman. Gamis, jubah, sorban, jilbab, celana cingkrang, jenggotan sampai "bendera tauhid".
Mereka bangga dg atribut2 aneh karangan mereka sendiri itu, padahal semua itu adalah perilaku menyimpang alias fasiq, menyalahi petunjuk Allah, menyalahi desain (fitrah) perciptaan manusia dan perilakunya. Sedangkan perilaku manusia itu adalah refleksi jiwanya. Maka perilaku menyimpang menyalahi konsep adalah refleksi jiwa yg gagal tumbuh mulus karena paparan virus syathoni
Monday, October 5, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: