Budaya "Atribut" dan Perilaku Menyimpang

ilustrasi

Oleh : Uju Zubaedi

Allah menciptakan alam semesta (langit dan bumi) ini didasari suatu "konsep/desain penciptaan" yg Allah sebut KALIMATULLAH atau KALIMATU ROBBIKA yg SEMPURNA, BENAR dan ADIL sebagai implementasi dari ILMU dan KEHENDAK-Nya. Dengan kata lain, segala yg ada dan terjadi di alam ini adalah manifestasi dari Kalimah-Nya itu.

Ciptaan Allah itu bukan hanya (sebatas) wujud2 materi (sosok fisik) tapi juga sifat2, tabiat dan "perilaku" setiap makhlukNya. Berjuta jenis makhluk ciptaan Allah memiliki ciri masing2 yg berbeda satu sama lain, baik pada sosok fisik, sifat2 dan juga perilaku.

Katak berjalan melompat lompat di habitat lembab dengan suara kang king kung bersahut2an menampilkan padauan suara di pasca hujan. Tokek berjalan merayap di dinding rumah, bernyayi solo di sembarang waktu dg suara bergetar parau. Burung2 berkicau di atas pohon, sesekali terbang melintas angkasa.

Allah-lah yg menciptakan semua itu, semua jenis tabiat dan perilaku makhluk, sebagai manifestasi dari suatu konsep/desain penciptaan karyaNya (KALIMATULLAH). yg untuk mengerakkan berbagai perilaku tsb Allah instalkan suatu "aplikasi robbani" yg manusia menyebutnya insting/naluri.

Semua makhluk tsb hidup berkembang biak dan berperilaku menjalani kehidupan sesuai selaras dg desain penciptaanNya (Kalimatullah). Mengejawantahkan, menayangkan dan merepresentasikan kesucian, kemuliaan dan kebesaran Asma-Nya, tanpa perlu diajari, diberi arahan (perintah dan larangan) oleh siapapun.

Fenomena dan perilaku alam/makhluk yg begitu selaras dan harmonis itulah yg Allah sebut bahwa semuanya "senantiasa BERTASBIH kepadaNya"

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ
Selalu bertasbih untuk Allah segala yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan Dia (Allah) itu Maha Canggih, Maha Tepatsegala (kebijakan dan keputusannya) (Ash Shaf : 1)

أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلطَّيۡرُ صَٰٓفَّٰتٖۖ كُلّٞ قَدۡ عَلِمَ صَلَاتَهُۥ وَتَسۡبِيحَهُۥۗ وَٱللَّهُ عَلِيمُۢ بِمَا يَفۡعَلُونَ
Tidakkah kamu lihat bahwa Allah itu kepada-Nya selalu bertasbih apa yang di langit dan di bumi, dan juga burung dg mengembangkan sayapnya. Masing-2 benar2 telah mengetahui bagaimana "salat dan tasbihnya" (berkehidupan harmonis dan selaras), dan Allah Maha Mengetahui segala perilaku mereka. (An-Nur : 41)

Bagaimana halnya dengan manusia..?
Manusia adalah makhluk Allah yg paling "mutakhir" dan paling canggih, yg juga sama dg semua makhluk lainnya bahwa yg Allah ciptakan itu bukan hanya sosok fisiknya tapi juga tabiat dan perilakunya.

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ
Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu lakukan (perilakumu). (Ash-Shaffat : 96)

Selain dengan struktur anatomi manusia yg paling baik, rumit dan canggih, untuk menggerakkan perilaku mereka Allah pasang pada penciptaan manusia, selain "insting" yg juga terpasang pada makhluk hidup, juga dpasangi JIWA yg komponen2nya Allah sebut "af`idah", yg dalam pengetahuan manusia disebut : RASA (perasaan), KARSA (keinginan/kehehendak) dan CIPTA (nalar dan hayal/imajinasi).

Komponen2 jiwa inilah yg membuat corak dan kualitas perilaku manusia bertumbuh kembang dan beragam dari generasi ke generasi sepanjang zaman, menampilkan KARYA, BUDAYA dan PERADABAN..

Sebagaimana pada makhluk hidup lainnya, pada penciptaan manusiapun Allah memasang berbagai insting/naluri yg bersifat universal, sebagai fitrah manusia. Naluri menyelamatkan/melindungi diri, naluri berekspressi, naluri bergaul, berkumpul, berkomunikasi, dll. Setiap diri manusia memiki berbagai jenis insting tsb, meski dg kadar, kekuatan dan ketajaman yg berbeda2. Insting/naluri inilah yg menggerakkan/mengkativasi unsur2 jiwa berupa "rasa", "karsa" dan "cipta" tersebut tadi.

Berawal dari hidup/aktifnya RASA. Rasa inilah yg pertama aktif ketika bayi manusia lahir ke dunia. Saat seseorang merasakan sesuatu, maka secara naluriyah ia mengekspressikan perasaannya dengan menangis, tersemyum, tertawa, marah dst. Kemudian apa yg dirasakannya itu secara naluriyah pula menginspirasi/mengaktifkan KARSA, maka muncullah hasrat/keinginan untuk bisa meRASAkan yg lebih baik, lebih nyaman, lebing menyenangkan, dan (paling utama) melindungi/menyelamatkan.

Selanjutnya, hasrat dan keinginan itu mengaktifkan komponen jiwa berikutnya yaitu CIPTA, aktifnya pikir, nalar dan imajinasi, untuk bisa menampilkan KARYA (perbuatan/petilaku), dimana perilaku (karya) tsb menampilkan kesan (CITRA) yg diakses/disensor oleh RASA lagi, baik rasa pada diri sendiri dan juga perasaan orang lain.

Demikianlah canggihnya penciptaan manusia. Melalui siklus interaktif dari RASA – KARSA – CIPTA – KARYA – CITRA – RASA (kembali).. dst yg merupakan perangkat lunak (soft ware) rancangan (desain) Allah yg diinstal-Nya pada penciptaan manusia, dg itulah TERCIPTANYA PERILAKU manusia yg bersifat dinamis dan terus bertumbuh kembang menampilkan BUDAYA dan PERADABAN yg disebut sebagai produk akal budi manusia.

Allah "menciptakan" dan membentuk perilaku manusia itu bukan dg arahan/pengaturan yg bersifat naratif berupa perintah dan larangan, melainkan dg "desain"/konsep penciptaan sebagai bagian dari Kalimatullah yg Allah sebut juga sebagai FITHRAH manusia.

Arahan berupa perintah dan larangan itu adanya pada PETUNJUK yg Allah "tawarkan" kepada manusia untuk keselamatan mereka di Hari Akhir. Itupun bukan bersifat mengatur bentuk2 (modus) perilaku, melainkan melainkan terkait NILAI dari perilaku2 tsb, dan menunjukkan perilaku mana yg tumbuh membudaya dlm kehidupan manusia tsb yg harus dihindari/dijauhi ("fahsya" dan "munkar"), dan perilaku mana yg sebaiknya dilakukan dan dikembangkan ("ma'ruf")

Petunjuk Allah yg kemudian disebut juga Agama Allah itu benar2 sesuai, sejalan dan selaras dg FITRAH manusia tersebut tadi, tidak ada titik2 bagian yg menyalahinya. Mana mungkin Allah membuat petunjuk (aturan) yg, mengganggu, merecoki atau menabrak karya cipta-Nya sendiri. Selain itu pula manusia tetap punya pilihan, akan menerima tawaran petunjuk dan bimbingan dari Allah itu, atau tidak.

Terpasangnya "af`idah" berupa komponen2 jiwa manusia (rasa, karsa, cipta) yg kadar keaktifannya berbeda2 pada setiap orang, itu berefek pada perilaku manusia yg kaya ragam dan variasi sehingga menampilkan kehidupan sosial yg semarak dan dinamis. Jauh berbeda dg kehidupan makhluk lainnya.

Selain dg profil jiwa yg berbeda2 pada setiap diri manusia, Allah membangun keberagaman perilaku manusia itu dg dijadikanNya tiga jenis perbedaan mendasar pada penciptaan manusi tsb.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ
Hai manusia, sesungguhnya Kami telah ciptakan kamu dari jenis laki2 dan jenis perempuan, kemudian Kami jadikan kamu beberapa RAS dan bangsa2 (etnis) agar kamu SALING MENGENAL. Sesungguhnya (dan ingatlah bahwa) ketakwaanmu itulah kemuliaanmu di sisi Allah. Sesungguhnya Allah itu Maha Berilmu dan juga Maha Tahu. (Al Hujurat : 13)

Ketiga perbedaan (gender, ras dan etnis/bangsa) tsb pada ayat diatas bukanlah faktor penentu kemuliaan seseorang di sisi Allah. Jadi nyata sekali bahwa tidak ada satu ras/etnis/bangsa tertentu yg Allah pandang lebih mulia dari yg lain, maka demikian pula dg budayanya. Merasa lebih mulia dan bangga karena asal usul peciptaan dirinya (kelahirannya) itu sikap dan perilaku IBLIS yg merasa lebih mulia daripada Adam sehingga menuai kutukan dan laknat sampai hari kiyamat.

Kemuliaan di sisi Allah itu ditentukan dg faktor TAQWA. Daan.. perilaku orang yg bertaqwa itu akan selaras dengan desain/konsep Allah dalam penciptaan perilaku manusia (Kalimatullah - Kalimatuttaqwa) yg juga Allah sebut : FITRAH PENCIPTAAN MANUSIA.

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ...
Maka posisikanlah dirimu (setiap perilakumu) pada Agama ini secara bersih dan lurus, (selaras dengan) FITRAH Allah dimana Dia telah ciptakan manusia berdasarkan (fitrah) tsb. ..... (Ar Rum :30)

مُنِيبِينَ إِلَيۡهِ وَٱتَّقُوهُ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَلَا تَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ
Dengan senantiasa merujuk pada (fitrah)-Nya itu, bertakwalah kepada-Nya, dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang2 yang mempersekutukan Allah (menandingi konsep Allah) (Ar Rum : 31)

Perilaku yg disebut "selaras dengan fithrah-Nya" itu adalah perilaku yg tumbuh secara alamiyah-naluriyah digerakkan dan dibentuk melalui aktifitas AF`IDAH (rasa - karsa - cipta) seperti tersebut di atas. Bukan diarahkan dan dibentuk paksa dengan doktrin/ajaran/mitos tertentu, seperti pohon (tanaman) yg dibonsay atau dibentuk mengikuti kerangka kawat yg dibuat orang, sehingga suatu tumbuhan perdu terbentuk seperti unta pipis, misalnya.

Maka dengan demikian orang Papua berperilaku sesuai budaya Papua, orang Dayak berperilaku sesuai budaya Dayak, itu lebih mulia di sisi Allah daripada orang Jawa berperilaku dg budaya Arab.

Dengan diciptakanNya manusia dalam 3 perbedaan (gender, ras dan etnis) tsb pada Al Hujurot : 13, Allah mengagendakan (punya maksud) agar mereka bisa SALING MENGENALI. Maka sebagai konsep Robbani yg sempurna dan tidak melewatkan sesuatupun (6:38), pastinya Allah pun menciptakan pula media untuk manusia bisa saling mengenali tsb, yaitu sesuatu yg Allah sebut FURQON (penanda/ciri2 yg membedakan)

..... وَأَنزَلَ ٱلۡفُرۡقَانَۗ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدٞۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٞ ذُو ٱنتِقَامٍ.
.......... dan Dia menurunkan pula alfurqan (pembeda). Sesungguhnya orang-2 yang kafir terhadap ayat-2 Allah bagi mereka azab yang keras. Allah itu Mahaperkasa dan mempunyai hukuman. (Ali 'Imran : 4)

Mengenai kata "menurunkan", itu bukan menunjukkan bahwa alfurqon (pembeda) itu sesuatu yg datang dari "atas" alias turun sebagai fenomena, melainkan perbedaan2 (penanda2 yg membedakan) itu merupakan pengejawantahan alias "terlahir" dari konsep penciptaanNya (Kalimatullah), dan semua itu merupakan "ayat2Nya", fakta2 pewujudan/manifestasi dari Kalimah-Nya. Maka siapapun mengingkari perbedaan yg Allah ciptakan itu, mereka itu kafir (mengkafiri ayat2 Allah) dan akan menuai azab yg keras.

Dalam hal PAKAIAN yg muncul secara alami dalam budaya/peradaban manusia, Allah pun mengklaim bahwa Dia telah "menurunkan" pakaian tersebut.

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ قَدۡ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكُمۡ لِبَاسٗا يُوَٰرِي سَوۡءَٰتِكُمۡ وَرِيشٗاۖ وَلِبَاسُ ٱلتَّقۡوَىٰ ذَٰلِكَ خَيۡرٞۚ ذَٰلِكَ مِنۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمۡ يَذَّكَّرُونَ

(Terjemahan versi Depag yg paling dominan di publik itu sarat rekayasa mengubah2. sehingga memalingkan petunjuk Allah, mengusung kepentingan/paham tertentu. Berikut terjemahan yg sebenarnya)

Hai anak cucu Adam, sesungguhnya Kami telah MENURUNKAN PAKAIAN pada kalian untuk menyembunyikan KEBURUKANmu (citra buruk dirimu) dan (telah menurunkan pula) pakaian yg INDAH dipandang. Dan pakain takwa itu lebih baik (dlm menyembunyikan/mengeliminasi keburukan. Red.) Itulah bagian dari ayat2 Allah, mudah2an mereka mengambil pelajaran. (Al A'raf : 26)

Frase "menurunkan pakaian" itu mengandung arti bahwa hadirnya pakaian pada kehidupan manusia adalah merupakan implementasi/manifestasi dari Kalimatullah, konsep penciptaan manusia, sebagai mahluk yg punya NALURI berpakaian, bukan DIPERINTAH untuk berpakaian. Maka bisa dikatakan bahwa Allah tidak mengajarkanp manusia agar berpakaian, tetapi menginstal "aplikasi" naluri berpakaian pada penciptaan manusia. Maka ajaran apapun yg dianut golongan2 manusia, mereka pasti berpakaian

Kembali ke wacana alfurqon, bahwa pada peciptaan manusia dg tiga jenis perbedaan itu Allah mengagendakan agar mereka saling mengenali, maka Allah menunjukkan dalam kitabNya ciri2 yg menandai perbedaan tsb, yg Allah sebut alfurqon.

Mengenai perbedaan lelaki dan perempuan itu sudah sangat jelas dan kasat mata, maka ttg ini Allah hanya mengatakan :
... وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ ...
... dan tidaklah laki2 itu seperti perempuan.. (Ali 'Imran : 36)

Jadi jika ada seorang perempuan suka tampil seperti laki2 ata sebaliknya, itu terbilang perilaku menyimpang dari fitrah (desain) penciptaan dirinya.

Adapun perbedaan ras Allah tandai dengan perbedaan ciri2 fisik (a.l warna kulit) dan dan perbedaan qobilah (bangsa) ditandai dg perbedaan budaya, a.l bahasa.

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦ خَلۡقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفُ أَلۡسِنَتِكُمۡ وَأَلۡوَٰنِكُمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡعَٰلِمِينَ
Dan di antara ayat2-Nya, ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar2 terdapat ayat2 (fakta2 ilmu/kebenaran) bagi orang2 yang mengerti. (Ar Rum : 22)

Jelaslah bahwa fakta dan fenomena perbedaan yg Allah "turunkan" berupa keberagaman perilaku budaya (alfurqon) adalan bagian dari ayat2 Allah, pengejawantahan Kalimatullah, selaras dg apa yg Allah agendakan : "agar kalian saling mengenali".

Dalam konteks penanda qobilah (identitas bangsa) itulah, antara lain, Allah memberi arahan kepada kanjeng Nabi dengan Al`ahzab : 59, agar para perempuan beliau itu mendekat/akrab/familiar/suka akan Jilbab budaya mereka (itu terjemahan yg benar dari :
"... يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّۚ ..."
bukan terjeman rekayasa alakadrun pemalsu : "menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”)

Terusannya :
... ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ فَلَا يُؤۡذَيۡنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا
itulah cara agar mereka lebih mudah dikenali dan tidak DISAKITI (diejek, dicela, dicemooh dsb)

Jelas sekali keselarasannya dg agenda Allah pada Alhujurot : 13 : "agar mereka (antar bangsa itu) bisa saling mengenali (bukan : agar mereka terkurungi dan susah dikenali) Dan orang tampil dg busana khas bangsanya, seberapapun adanya budaya tsb orang2 akan nenghormatinya, tidak akan berani mencela dsb karena bukan menyangkut seseorang yg mengenakannya melainkan menyangkut bangsa pemilik budaya tsb. Kecuali jika budaya tsb dipaksakan pada bangsa lain dg menjual nama Tuhan.

Sedangkan terjemahan alakadrun itu diubah2 dan dipaksakan meskipun janggal dan tidak nyambung :
...” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. ..."

Dengan turunnya (mengejawantahnya) alfurqon (pembeda) tersebut di atas, sudah cukupkah Allah mengimplementasikan agendaNya "agar kalian saling mengenali"..? Belum. Masih ada sisi lainnya lagi, a.l : Pada penciptaan manusia, Allah menginstal pula pada jiwa mereka naluri untuk tampil diri dan hasrat dikenal orang arang/publik, baik secara individial maupun komunal.

Dan secara universal manusia sejagat mengakui hak setiap orang untuk tampil diri, hak untuk dikenali dan mendapat keuntungan dari karya ciptanya, sebagai hak asasi manusia yg tidak boleh dilanggar. Tetlebih lagi membajak karya cipta orang lain adalah kejahatan (kriminal).

Allahlah yg memasang pada jiwa manusia semua sifat dan tabiat yg demikian itu, dan diperkuat pula dengan kalamNya dalam Alquran :

.... لِّلرِّجَالِ نَصِيبٞ مِّمَّا ٱكۡتَسَبُواْۖ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٞ مِّمَّا ٱكۡتَسَبۡنَۚ ...
...bagi laki-laki ada bagian (hak) dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada hak pula dari apa yang mereka usahakan.... (Annisa : 32)

... لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا ٱكۡتَسَبَتۡۗ ...
... Bagi setiap diri ada hak atas apa apa yg dia usahan dan juga beban tanggung jawab atasnya ...... (Al Baqarah : 286)

Lebih jauh lagi Allah pun melindungi "karya cipta" dari aksi pemalsuan atu pembajakan. Maka yg mengklaim prestasi orang lain sebagai prestasi dirinya, mengklaim prestasi golongan lain sebagi prestasi golongannya, Allah mengancam mereka dg azab yg pedih.

لَا تَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡرَحُونَ بِمَآ أَتَواْ وَّيُحِبُّونَ أَن يُحۡمَدُواْ بِمَا لَمۡ يَفۡعَلُواْ فَلَا تَحۡسَبَنَّهُم بِمَفَازَةٖ مِّنَ ٱلۡعَذَابِۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ
Jangan sekali2 kamu mengira bahwa orang2 yang berbangga dengan apa yang mereka tampilkan dan mereka senang dipuji (dihargai) atas sesuatu yang bukan mereka yg lakukan, jangan sekali2 kamu mengira bahwa mereka akan lolos dari azab. Mereka akan mendapat azab yang pedih. (Ali 'Imran : 188)

Allah yg Maha Tinggi dan Maha Agung begitu menghargai dan juga melindungi karya cipta dan kreatifitas budaya manusia, yg semua itu tidak lain adalah pengejawantahan dari KalimahNya. Bahkan jika karya budaya itu berupa tempat/rumah peribadatan agama apapun, Allah melindunginya..

.. وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لَّهُدِّمَتۡ صَوَٰمِعُ وَبِيَعٞ وَصَلَوَٰتٞ وَمَسَٰجِدُ يُذۡكَرُ فِيهَا ٱسۡمُ ٱللَّهِ كَثِيرٗاۗ ...
....” jika saja Allah tidak menangkal (kezaliman) sebagian manusia dengan (menggunakan) sebagian manusia lainnya, tentu telah dirobohkan biara2 Nasrani, gereja2, rumah2 ibadah orang Yahudi dan masjid2, yang di dalamnya banyak diingatkan Asma Allah. ... (Al-Hajj : 40)

Maka hanya kedunguan akut, ketidakwarasan fatal yg membuat segolongan "orang" bisa menghina, melecehkan dan merusak karya budaya hanya karena tidak nyambung dan tidak selaras dg kedunguan mereka.

Jika memalsukan atau membajak karya/produk manusia saja diamcam Allah dg azab yg pedih, apalagi membajak karya cipta Allah (Kalimatullah) dan memalsukannya. Allah menyebut perilaku manusia yg demikian itu ..:

.... وَيُشۡهِدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلۡبِهِۦ وَهُوَ أَلَدُّ ٱلۡخِصَامِ

.. dan dia mempersaksikan Allah atas apa yg ada di hatinya, padahal dia itu oposan/antagonis radikal... (Albaqarah : 204)

Apa yg Allah sebut dg : "apa yg ada di hatinya" itu..? Banyak hal yg bisa ada di hati manusia oposan itu : kenginan, hasrat, ambisi, gagasan, angan2, persangkaan, dugaan, dllsb.. atas semua yg merupakan produk hati dan pikiran sendiri itu mereka labelkan (persaksikan) ALLAH. Ambisi dan keinginan sendiri mereka sebut "perintah Allah", peraturan bikinan sendiri (manusuia) mereka sebut "syari'at", pengetahun dan anggapan yg hanya berupa persangkaan (dzhonnu) yg mereka sepakati, mereka sebut "akidah".

Itulah yg dilakukan kaum muslimin di muka bumi ini selama berabad2. Selain Alquran dan ritus2 (amalan ritual) yg memang Allah lestarikan, tidak sebutirpun dari apa yg mereka sebut "ajaran Islam" itu yg terbuktikan dari Allah, pengejawantahan Kalimatullah. Semuanya merupakan produk manusia yg Allah sebut : "apa yg ada di hatinya", tapi mereka branding (persaksikan) dg "brand" milik Allah : DIENUL ISLAM. Sungguh pemalsuan dan pembajakan yg bodoh, nekat, menantang laknat.

Gugusan ayat yg mewacanskan perilaku antagonis radikal itu, Allah ujungi dg :

.... فَحَسۡبُهُۥ جَهَنَّمُۖ وَلَبِئۡسَ ٱلۡمِهَادُ

... Maka kelayakan baginya adalah neraka Jahanam, benar2 tempat tinggal yang paling buruk. (Albaqarah : 206)
.....................................

Belum sampai ke pembahasan materi dari judul tulisan ini, tapi sudah terlalu panjang, Insyaallah berlanjut di lain waktu..

Sumber : Status Facebook Uju Zubaedi

Saturday, August 22, 2020 - 14:45
Kategori Rubrik: