Budak ISIS

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Awalnya saya kurang percaya kalau ISIS menghidupkan lagi perbudakan, hingga saya dikabari salah seorang mantan murid yang dulu pernah ikut ngaji.

Mantan murid inilah yang bercerita saat itu, bahwa di Suriah sana ada banyak budak diperjual-belikan. Harganya tergantung usia. Kalau yang muda masih 20 tahunan memang agak tinggi harganya. Mungkin yang sedikit lebih terjangkau yang agak tua, 40 tahunan ke atas lah, katanya.

Ngaco banget ini anak. Bukannya meneruskan kuliah malah kabur tanpa pesan, tiba-tiba sudah sampai di Suriah, langsung cerita tentang budak.

Waktu itu saya diamkan saja, tidak saya jawab. Sayang sekali memang, dulu waktu SMA pernah bandel, terus sempat sadar dan ikut macam-macam pergerakan. Akhirnya mati meninggal di Suriah sebagai bagian dari ISIS.

Budak Dalam Pandangan Syariah

Ada pertanyaan agak menggelitik, yaitu apakah Islam mengakui adanya perbudakan manusia atau tidak?

1. Quran Membolehkan Menyetubuhi Budak Sendiri

Kalau dibilang anti perbudakan, kok ada banyak dalil yang kesannya justru mengakui perbudakan. Misalnya surat ke-23 Al-Mu'minun. Di awal surat disebutkan ciri-ciri orang beriman, yaitu satu, dua, tiga dan mereka yang menjaga kemaluannya, kecuali kepada istri atau budaknya.

إلا على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم

Nah, ini Al-Quran lho, kita tidak lagi bicara shahih atau tidak shahih. Quran pasti shahih, kok membolehkan tuan menyetubuhi budaknya? Tanpa harus dinikahi pula. Kok bisa?

2. Quran Memberi Hak Zakat Kepada Budak

Coba perhatikan Surat At-Taubah ayat 60 terkait dengan siapa saja yang berhak menerima zakat. Dari 8 golongan, salah satunya adalah budak (fi ar-riqab).

Meski konteksnya siapa yang berhak menerima zakat , tetapi secara tidak langsung Islam seperti mengakui keberadaan para budak. Buktinya, budak-budak itu disebutkan di dalam Al-Quran dan diberikan harta zakat.

3. Budak Mesir Mariyah Al-Qibtiyah

Raja Mesir Muqauqis menghadiahi Nabi Muhammad SAW dua orang budak, Mariah dan Sirin. Itu fakta dan tidak bisa dipungkiri. Dan budak itu manusia, kok dijadikan hadiah? Dan kok bisa Nabi SAW menerima hadiah itu?

Kalau Islam menentang perbudakan, seharusnya hadiah budak itu ditolak. Sebab menerima kedua manusia sebagai budak seharusnya sama saja dengan mengakui perbudakan itu sendiri.

Ternyata dua budak itu malah diterima oleh Nabi SAW. Bukankah itu berarti Islam mengakui perbudakan?

Bagaimana Kita Menjawab Tuduhan Miring Ini?

1. Ketika Islam diturunkan di abad ke-7 masehi, seluruh dunia mengakui adanya perbudakan, bukan sekedar sebagai kesenangan saja, tetapi juga menjadi sendi-sendi perekonomian dunia.

Kalau dikatakan Islam menghidupkan perbudakan, jelas keliru fatal. Sebab perbudakan sudah ada sejak zaman terdahulu. Cuma kebetulan pas zaman Nabi Muhammad SAW perbudakan masih berlangsung.

2. Syariat Islam menentang perbudakan, hanya caranya bukan menolak eksistensi dan keberadaan para budak. Dalam pandangan Islam, seorang yang punya budak saat itu masih diakui sebagai orang yang punya harta.

Sehingga kalau perbudakan dihapuskan begitu saja, maka akan terjadi gonjang-ganjing ekonomi. Orang yang berinvestasi dengan memelihara koleksi budak, pastilah tiba-tiba jatuh miskin, kalau perbudakan tiba-tiba tidak diakui.

Kira-kira mirip keberadaan mata uang di suatu negeri. Seandainya terjadi penggulingan suatu rezim oleh kelompok pemberontak, lalu mata uang yang ada sebelumnya dinyatakan tidak berlaku oleh pemberontak yang menjadi rezim berikutnya, maka rakyat juga yang susah.

3. Cara Islam menghilangkan perbudakan lewat proses alami, dimana prinsipnya menutup semua pintu perbudakan dan membuka semua pintu ke arah pembebasan budak.

a. Ada begitu banyak pelanggaran yang dendanya dengan cara membebaskan budak, seperti jima' siang hari bulan Ramadhan, melanggar sumpah, terlanjur menzhihar istri dan lain-lain.

b. Bila orang merdeka menikahi budak, maka dipastikan anaknya tidak akan menjadi budak lagi, tetapi menjadi manusia merdeka.

c. Islam mengharamkan riba sejak awal, salah satunya demi terhindarnya masyarakat dari perbudakan. Hubungannya apa?

Di masa lalu, salah satu pintu masuk perbudakan yang paling lebar adalah karena bunga riba. Ketika seorang berhutang dengan sistem bunga ribawi, bisa dipastikan bunganya semakin membesar dan membesar, sehingga tidak akan mampu lagi membayar bunganya saja.

Maka di masa itu, tebusannya adalah menjual anaknya untuk dijadikan tebusan pembayaran hutang yang berlipat-lipat. Disitulah Islam hadir mengharamkan riba.

d. Islam mengharamkan pembegalan, penculikan, dan peperangan antar suku dan qabilah yang jadi hobi bangsa Arab di masa lalu. Sebab semua itu akan membaca kepada perbudakan.

Pihak yang dibegal dan dirampok, kalau tidak dibunuh maka akan dijadikan budak. Demikian juga perang antar suku yang tidak jelas penyebabnya, pihak yang kalah akan dibunuh atau dijadikan budak.

Islam sejak awal sudah mengharamkan pembegalan, perampokan dan juga peperangan antar suku.

Dunia Tidak Lagi Mengakui Perbudakan

Meski agak terlambat dibandingkan dengan perdaban Islam, dunia akhirnya sampai pada titik sepakat, muslim dan kafir, bahwa perbudakan itu terlarang. Kalau pun di beberapa wilayah tak berperadaban masih ada sisa-sisa sedikit, tetap tidak diakui sebagai perbudakan, tetapi sebagai salah satu bentuk pelanggaran fatal yang merusak tata nilai kemanusiaan.

Siapa pun hari ini yang memaksa anak manusia menjadi budak, dengan melakukan penangkapan, penyekapan, hingga penjualan manusia, sepakat dianggap sebagai penjahat kemanusiaan, bisa dihukum berat.

Kalau pun mereka menyebutkan budak, sebenarnya secara hukum jelas bukan budak, melainkan human traficking alias penculikan dan penjualan manusia.

Tidak ada satu pun pemerintahan di dunia saat ini, baik negara muslim atau non muslim yang mengakui perbudakan. Kalau pun ada, maka yang melakukannya adalah kelompok mafia dan teroris yang kucing-kucingan melawan hukum semua negara.

Lha kok ISIS yang teroris dan hobinya membunuh nyawa manusia, merampok, membegal, dan memperkosa para wanita serta memperdagangkan mereka seperti hewan, malah diikuti? Korbannya adalah kita orang awam, yang teramat mudah untuk dibohongi dengan memakai simbol-simbol agama secara tidak resmi.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Sunday, November 4, 2018 - 17:00
Kategori Rubrik: