Buang Jauh-Jauh Konspirasi Corona

ilustrasi

Oleh : Aldie El Kaezzar

"Jangan-jangan ada yg ditutupi pemerintah soal Corona ini? Kok negara lain dah kena, masa Indonesia satupun belom ada korban?"

Sebelum melakukan prasangka macam-macam ada baiknya dicek kemungkinan sebagai berikut:

1. Indonesia tak sendiri. Saat ini di ASEAN, ada Myanmar, Laos, Brunei dan Timor Leste yang juga belum positif kasus Corona.

2. China yang otoriter, sangat ketat dan rapat mengontrol media/nternet saja tak mampu menutup soal wabah ini. Kenapa sekarang banyak yang yakin Indonesia punya kemampuan jauh di atas China? Sudah segitu tingginya "apresiasi" kalian ke pemerintah saat ini?

3. Andai ada salah diagnosa, logikanya, pasien tak dikarantina. Akibatnya penularan bisa jauh lebih masif. Potensi korban akan lebih tinggi. Namun, adakah data pendukung peningkatan penyakit pernafasan dan angka kematian yang tidak normal di suatu area? Makin dibiarkan, makin masif menyebar, justru makin mustahil ditutupi. Logikanya begitu kan?

4. Masyarakat mungkin tak semua aware soal Corona, tapi dokter dan tenaga medis di pelosok pun paham bahayanya. Mereka adalah garis terdepan menghadapi wabah. Apa kita tega menuduh mereka tak kompeten menangani pasien atau sengaja menutup kesalahan diagnosa? Perlu diingat, mereka sendiri adalah calon terdepan sebagai korban kalau sampai salah penanganan. Siapa yang mau?

5. Dengan kondisi "menguntungkan" bahwa sejak awal Indonesia belum ada kasus Corona, tentu tingkat stres warga +62 tidak setinggi warga Wuhan atau tempat rentan lain. Perlu diingat, tingkat stres bisa mempengaruhi daya tahan tubuh. Makin stres warga, makin rentan terkena penyakit, makin mudah menularkan, makin mudah terjadi wabah. Ini lingkaran setan. Jadi jangan malah membuat stres masyarakat.

6. Dengan level julid dan ghibah kelas dunia, siapa yang mampu mencegah netizen +62 untuk posting info andai ada orang yang terkena gejala Corona dibiarkan tanpa perawatan? Atau paksaan menutup info Corona? Banyak akun alter atau anonim yang bisa dipakai bersuara. Apalagi kamera HP sudah jamak di semua lapisan. Bagaimana mungkin Indonesia mampu "menutupi" semua ini?

7. Dulu sewaktu ada wabah SARS dan MERS, yang virusnya masih satu keluarga dengan COVID-19 alias Corona Wuhan ini, Indonesia juga tidak mencatatkan sebuah kasus pun. Mengingat virus baru ini tidak "seganas" pendahulunya. Jadi sebetulnya bukan hal aneh kalau (insya Allah) Indonesia bisa kembali selamat melewati wabah Corona. Perlu diketahui jg bahwa angka kematian dari MERS bisa mencapai 17 orang untuk setiap 50 pasien dan SARS adalah 5 dari 50 pasien, sementara Corona19 adalah 1 dari setiap 50 pasien.

8. Jauh lebih mungkin menganggap penetrasi Corona sudah ada, namun dalam perjalanannya, virus gagal membiak. Entah karena faktor imun, kondisi lingkungan, perilaku/kebiasaan masyrakat atau sebab lain. Ini lebih masuk akal ketimbang menyebar teori konspirasi bahwa pemerintah mampu menutup arus informasi jauh di atas negara seotoriter China sekalipun.

9. Semua kembali ke diri sendiri, mau percaya yang mana. Saya cuma tinjau ini dari sisi penalaran logika saja. Kalau mau liat penjasan dari sisi medis, ini ada yg kasih insight bagus soal penanganan Corona di Indonesia. Jangan lupa, wabah Corona bukan pertama kali di dunia, dan Indonesia pernah sukses 2x menghadapi keluarga Corona ini. Jadi soal pengalaman, jangan diragukan.

10. Tak perlu takut berlebihan. Waspada itu harus, tapi tetap santuy jauh lebih wajib. Jangan malah dipolitisasi sampai buat teori konspirasi macam-macam. Makin stres seseorang justru makin mudah sakit.

11. Daripada hasut atau buat hoax, mending maen tiktok sana, lebih berfaedah.

Sumber : Status facebook Aldie El Kaezzar

Sunday, March 1, 2020 - 11:45
Kategori Rubrik: