Buah Tangan Dingin Presiden Jokowi

Oleh : Damar Wicaksono

Dalam 2,5 tahun, tangan dingin pakdhe Jokowi membuat banyak terobosan dan inovasi bagi proyek-proyek infrastruktur. Ada setidaknya 3 contoh yang bisa dibilang tangan dingin Presiden dan pada pembantunya

1. Dimulainya pembangunan PLTU Batang 2 x 1000MW.

Ini sekaligus adalah keberhasilan pertama model kerjasama pemerintah dan swasta yang mengimplementasikan UU No. 2 tahun 2012 ttg Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum, peninggalan Presiden SBY. Tapi tetep mandeg sampai Presiden Jokowi mengawal dan mengontrol sendiri hampir tiap bulan. Problem pembebasan tanah yang sempat terkatung 4 tahun bisa selesai dalam 7 bulan pada 2015 akhir.

2. Dimulainya proyek tol ruas Pemalang-Batang (39,5 km) dan Batang-Krapyak di Semarang (76 km) pada awal 2015, setelah sempat terkatung sejak 2006. Gara-garanya juga pembebasan lahan. Berkat pantauan serius Presiden selama 6 bulan awal pemerintahannya, proyek dua ruas tol ini bahkan bisa fungsional pada lebaran tahun ini.

3. Bandara internasional Kertajati di Majalengka. Proyek prestisius ini tertunda agak lama (sejak mulai dibangun pada 2013) karena masalah sepele: tak ada yg sepakat soal bagaimana mengalihkan aliran sungai di ujung calon landas pacu. Lalu Presiden mengawalnya. Bandara ini bahkan direncanakan beroperasi pada awal 2018, ada percepatan dalam 3 tahun terakhir pembangunan.

 

Dulu kerap kali proyek mangkrak selama 10 tahun lebih karena pembebasan lahan. Sekarang, semua tuntas dalam hitungan bulan. Salah satu hasilnya, panjang jalan tol baru 196 km pada akhir 2014. Sekarang sudah hampir 1000 km. Pada akhir 2019 akan mencapai 2000 km.

Banyak percepatan proyek infrastruktur. Salah satu strategi jitu pemerintah adalah memacu pembangunan jalan tol luar Jawa dengan sistem bundling atau subsidi silang. Dengan sistem ini, pemenang tender tol pulau Jawa diwajibkan pula membanguj sebagian ruas tol di luar Jawa, seperti tol Trans-Sumatera dan Trans-Sulawesi.

Dampaknya, kontraktor ataupun operator tak hanya mengambil jalur gemuk, tapi juga mau mengambil ruas yang belum menguntungkan secara ekonomi. Inovasi-inovasi semacam ini bisa menjawab keterbatasan fiskal pemerintah.

Selain itu ada sistem dana talangan. Dana ini diberikan oleh Badan Usaha Jalan Tol. Yang nantinya akan diganti oleh pemerintah. Ada pula pembenahan sistem penganggaran

Pembenahan sistem penganggaran membuat pelaksana proyek bekerja efektif. Misalnya proyek bisa dilakukan dengan sistem lelang dini dan (hampir selalu) kontrak tahun jamak (multiyear).

Proyek-proyek infrastruktur dasar (jalan, rel kereta, jembatan, bandara, pembangkit listrik, bendungan dan pelabuhan) harus terus dibangun dengan bagus di seluruh pelosok nusantara. Karena banyak dari proyek itu seharusnya dibangun belasan atau puluhan tahun lalu.

*) Sebagian dipetik dari berita koran Kompas dan majalah Tempo

Semoga kita semua bisa terus mengabarkan berita baik dari Indonesia. Dan tak lelah atau menyerah karena suara nyinyir atau pesimisme**

Sumber : facebook Damar Wicaksono

Monday, May 8, 2017 - 10:30
Kategori Rubrik: