Buah Simalakama Taksi

Oleh: Ustad Abu Janda Alboliwudi
 

Ustad turut prihatin atas dilema keluarga besar Taxi pangkalan yang terganggu "priuk nasi" nya oleh hadirnya teknologi transportasi online berbasis aplikasi smartphone.

Kemajuan teknologi memang terkadang bagai "buah simalakama", dimakan bapak mati, tidak dimakan ibu mati. Dalam kasus ini, Taxi pangkalan yang jadi korban.

Salah siapa? Sejatinya bukan salah siapa-siapa bila Taxi pangkalan "tergilas roda jaman" kalah bersaing karena pengguna lebih memilih memesan lewat aplikasi semudah menggerakkan dua jempolnya.

Begitulah dunia tempat kita hidup.. bagai rimba siapa kuat dia yang menang. Siapa yang paling cepat punya teknologi paling canggih dia yang kuasai pasar, mereka yang "gaptek" (gagap teknologi) akan perlahan-lahan tersingkir.

Lagian hal seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Kita ambil contoh saja, sudah berapa bisnis percetakan & majalah yang gulung tikar sejak hadirnya teknologi internet, dikarenakan orang sekarang lebih memilih Mbah Google daripada pergi ke toko buku.

Tapi tentunya kita tidak bisa mengesampingkan aspek Kemanusiaan. Karena ribuan pengemudi Taxi pangkalan turun ke jalan demonstrasi hari ini bukan ingin menuntut sesuatu yang muluk, hanya ingin bisa kembali menafkahi anak istrinya.

Aspek kemanusiaan inilah yang menjadi Buah Simalakama bagi pemerintah. Di satu sisi, tentu tidak mungkin menekan laju teknologi, malah bisa jadi preseden buruk. Tapi di sisi lain priuk nasi ribuan pengemudi Taxi pangkalan di ujung tanduk.

Sebuah dilema. Ustad hanya mendoakan semoga bisa ditemukan SOLUSI yang "win win" (menang menang) bagi semua pihak, tanpa ada yang harus dirugikan, aamiin.. meskipun prakteknya sangat jarang terjadi di dunia yang tidak adil ini.

Mungkin GO ONTA bisa jadi solusi untuk diusulkan oleh salah satu balon (bakal calon) Gubernur Muslim untuk DKI. Demi Jakarta bersyariah juga ramah bagi Taxi pangkalan. Subhanallah..

(Sumber: Facebook Ustad Abu Janda)

Tuesday, March 22, 2016 - 18:45
Kategori Rubrik: