Bu Risma, Perempuan Dengan Dua S dan Satu C

Ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Perempuan ini 'terpaksa' saya panggil dgn kata 'Ibu'. Meski umur lebih muda dari saya. Waktu kuliah, ITS, dia adik kelas saya juga.

Saya rakyat jelata, beliau 'Walikota'. Kata walikota saya beri tanda khusus. Kalau ada 'gubernur' rasa presiden, ini juga rasa Presiden (asli) meski baru jadi Walikota (Republik Bonek)

Banyak yg saya suka dari Ibu ini. Salah satunya waktu beliau marah. Sangar dan keren pol ! Cari saja di you tube 'action'nya. Tapi ada juga satu-dua yg ndak suka. 'Bikin malu orang', komennya.

Namun jika di survey beneran, ya pasti lebih banyak yg suka. Wong di pilkada dia dpt 86% lebih suara untuk jadi Walikota kali kedua. Untung juga bu Risma itu Muslimah, berjilbab pula. Kalau ndak sudah berpanjang-panjang komen nyinyirnya. Mulut Comberan. Antek Cina bermulut kotor. Tidak beradab ! . . . 

Tapi kalau komen terlalu nyinyir sebaiknya sembunyikan alamat rumah. Kalau ndak, hari ini hilang pagar, besok ilang pintu rumah, lusa keplas gentengnya. Kalau sampai sebulan belum minta maaf atau islah, istri juga pasti amblas ndak tahu kemana ! Bonek dilawan ! 

Bu Risma pernah jalan-jalan keluar negeri juga. Saya jamin pasti naik kelas ekonomi. Kecuali ada yg mbayari.

Terakhir ke Liverpool, Inggris. Melihat kondisi pasar. UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) Surabaya mau jualan kesana. Plus mau melihat Sister City-nya. Ada gunanya . . .

Rumah relatif sederhana. Di kompleks perumahan yang biasa2 saja pula. Mobilnya ? Seperti gerobak sampah. Isinya pacul, sapu, jas hujan, sepatu booth, peluit, . . . .

Karena kadang beliau turun ikut nyapu jalan, nyangkul sumbatan got, bahkan semprat-semprit atur lalu-lintas.

Pencitraan ? Embuh yo ! 
Yang tidak senang mungkin 'ngrasani' begitu.

Pencitraan atau ndak, yg penting Suroboyo dan atau Walikota nya telah beroleh berbagai macam penghargaan. Dari luar negeri kebanyakan.

Meski 'tar-ter' dan terlihat sangar, beliau ini memang 'sembada'. Artinya sepadan dengan prestasinya 

Di lapangan, kalau anda ke Surabaya, ndak ada tanah kosong yg tidak dibikin taman. Sungai ? Meski belum bening, tapi bersih dan tidak bau. Jadi ndak perlu ditutup jaring 

Trotoar kebanyakan mulus dan bagus. Ada kali kecil di tutup dgn boxculvert, atasnya jadi jalan. Setahu saya sudah jadi 6.7 Km. Itu sama dengan 6700 meter lho ! 

Sungai kecil di pinggiran kota yg dulu banyak sampah, sekarang jadi tempat berenang anak kampung sekitarnya. Saking bersihnya 

Perempuan ini sebenarnya 'kesayangan' Ibu Mega. Waktu 'bentrok' dgn DPRD yg mayoritas berisi anggota partai Banteng, dibiarkan saja. Dan memang akhirnya 'Wanita Besi asal Kediri' ini terbukti tak terkalahkan. Wong seluruh rakyat Surabaya juga sudah ready 'nggruduk' para 'wakil'nya 

Sayang, meski Ibu Mega ngrayu2 untuk ikut Pilkada DKI, beliau tetep bersikukuh. Mau tetap berdiam di Surabaya. Nggak tahu mengapa. Akhirnya ya sudah. Inilah akhirnya nasib saya, penghuni Ibukota. Apa beliau mengukur diri ? Kita tunggu saja kelanjutannya . . . 

Sebenarnya kalau pas ada di sebelah Pak Jokowi, akan saya bisiki. "Pak, Walikota kota asal saya itu mbok yo njênêngan pakai . . . " 

Jadi apa kek, terserah. Sukur-sukur dijadikan Cawapres 

Tapi memang, kalau ikut maju sebagai Cawapres, pasti muncul lagi ulah para penjual ayat mengusung hadits yg tidak membolehkan wanita jadi pemimpin. Yang dulu dipakai utk 'nembak' Ibu Mega . . . 

Habis apalagi yg bisa 'diserang'. Wong semua program sudah jalan. Administrasi transparan. Jujur ndak makan duit haram . . .

Tapi, Bu. Jadi Cawapres, tetep Walikota, atau jadi Dosen nantinya, saya usul. Bisa tidak dikurangi 'sedikiìiiit' saja suka 'muring2'nya. Takut kepleset. Kan ndak asyik lihat Ibu 'mondok' di Mako Brimob, spt 'Beliau' yang itu.

Soalnya 'Disini' kalau tidak 'sealiran' meski 'se-Iman', dicari-cari salah buat alasan, ditunggu keplesetnya, dan bisa dimasukkan ke neraka mereka lho . . . . 

Wong sekelas mBah Moen, Gus Mus, Abah Quraish, dan Kiai Said saja disodok-sodok ! Terakhir Tuan Guru Bajang (TGB) yg dulu dipuji-puja, sekarang 'Deplok paku deluang kertas !', teriak mereka. Biyen koncoku sak iki tak lepas !. . . .

Sikat terus ! Hajar terus ! Omeli terus, Bu ! Biar yang bengkak-bengkok jadi lurus ! 

Sik - sik, tunggu dulu . . . Lha Dua S dan Satu C di judul tadi maksudnya apa ?

Sangar tapi Sembada, Cuuuuk ! 
Lihat saja foto dibawah ! Pencitraan ?!
Wong lipstik, pensil mata, bedak, sudah lama ditinggalkan . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Friday, August 3, 2018 - 19:00
Kategori Rubrik: