Bu, Jangan Nunggu Suami Berkafan Baru Merasa Kehilangan

ilustrasi

Oleh : Warda

Aku ikut sedih melihat foto mbak BCL yang dilansir @Selebrita7 yang memperlihatkan tatapan nanarnya, terduduk di kursi dengan balutan kaftan dan kerudung serba putih. Hanya foto itu, sebab di rumah TV kami simpan supaya anak-anak tak keranjingan nonton. Ia menggenggam sesuatu, terlihat seperti untaian tasbih berwarna hijau tua. Entah apa yang ia tatap, entah jenazah suami atau sedang merenungi kehidupannya setelah ini. Membayangkan kalau yang di foto itu adalah diri sendiri. Ya Allah, aku takkan siap.

Dalam media online BCL pernah berkomentar tentang kehidupannya jika harus hidup tanpa suami.

"So far sih sampe sekarang aku tidak pernah bisa membayangkan hidupku tanpa Ashraf," kata Bunga suatu hari di akhir tahun 2019.

Sama halnya kita para wanita di rumah, takkan pernah bisa membayangkan jika harus menjalani hidup ini tanpa suami. Dan kebanyakan wanita pastinya tak ingin hal ini terjadi apalagi dengan cara tiba-tiba seperti yang dialami mbak BCL. Suami yang tampak sehat, bugar dan ceria. Apalagi sekembali dari berlibur di Amerika. Tiba-tiba saja dipanggil yang maha kuasa dalam keabadian.

Tapi untuk kata kematian benarkah kita tak siap?

Bukankah malaikal maut mengintai kita bahkan konon dikabarkan baginda Nabi, ia mendatangi kita 70 kali dalam sehari. Hanya saja saat hari ajal kita ditentukan akan dicabut baru dia benar-benar melakukan tugasnya.

Sungguh setiap yang hidup pasti akan mati!

Namun terkadang kita sangat lalai mengharapkan eksistensi di dunia hingga lupa mempersiapkan diri kita untuk kembali pulang dalam kehidupan yang jauh lebih kekal.

Mungkin suami kita tak sehebat Ashraf sinclair yang kepergiannya sampai mengejutkan siapa saja yang mengenalnya di dunia fana ini. Tapi coba pandangi suaminya Bu, Mbak, saat dia tidur nanti malam, dan tanyakan diri sendiri sebesar apa bakti kita padanya selama ini.

Bayangkan bagaimana jika tiba-tiba dia direnggut dari sisi kita dalam kondisi kita tak pandai bersyukur padanya. Selalu mengeluh atas kekurangannya, selalu merasa kurang akan pemberiannya. Menuntut banyak hal di luar kemampuannya, tak perduli akan kehadirannya yang lebih banyak menguras perhatian ke dunia maya dibandingkan dunia nyata.

Sudahkah sekedar menghafalkan dan mempraktekkan doa sholat jenazah untuk pasangan kita? Saat hari itu tiba, setidaknya kita bisa ikut menyolatkannya untuk terakhir kalinya. (Ah, jadi ingat sholat jenazah almarhum Bapak).

Hei, suamimu masih hidup. Masih ada waktu menggapai ridhonya di dunia, masih ada waktu mendapatkan bahagia bersama meski takkan pernah semewah fasilitas yang dimiliki mbak BCL-Alm. ASHRAF.

Ibu masih bisa memeluk dan memilikinya utuh. Bahkan tak perlu hanya menjadi hiasan dalam syair-syair indah dalam puisi-puisi kita. Perlihatkan cintamu selagi bisa. Dia masih nyata dan fana. Manfaatkan waktu untuk menggapai ridhonya, salah satu kunci menuju surga.

Bukankah baginda Nabi berkata :

“Perhatikanlah posisimu terhadapnya. Sesungguhnya yang menentukan surga dan nerakamu terdapat pada (sikapmu terhadap) suamimu.” (HR. Ahmad: 18233)

Saat bersamanya, hidup menjadi tenang karena penuh syukur, maka percayalah, anda tak perlu terlebih dahulu keliling dunia untuk bahagia. Cukup dengan sesekali menjadi makmumnya saat sholat berjamaah saat dia udzur sholat jamaah ke masjid. Bisa juga saat saling memperbaiki makhraj saat menambah hafalan atau murajaah. Atau tak jerah untuk saling mengingatkan tentang batasan aurat dan pergaulan terhadap lawan jenis baik di dunia nyata maupun maya.

Bahagiapun bisa lahir hanya dari tos-tosan segelas teh hangat atau saling mencelupkan biskuit gabin di segelas kopi bersama-sama, dia dan anak-anak.

Jangan Bu! Jangan tunggu dia berkain kafan baru kau merasa kehilangan.

Jangan biarkan waktumu berlalu begitu saja tanpa mendapat pahala dari sekedar menyalim tangannya saat dia pergi atau pulang ke rumah. Manfaatkan waktu bersama dalam saling mengingatkan setiap harinya, kita hidup di dunia hanya sementara, hanya hitungan beberapa atau puluhan tahun. Namun kita akan kekal di keabadian kelak. Isi waktu untuk saling mengingatkan dan saling mendoakan, hingga bisa berbagi tak hanya di dunia ini namun hingga ke surga Allah yang mulia.

Sungguh, kisah kepergian Mas Ashraf ini mengandung hikmah. Salah satu peringatan untuk kita, betapa umur suami tak harus sakit dan tua untuk direnggut. Tapi jangankan suami, nyawa kita sendiripun akan pergi meninggalkan raga tak berharga ini dan kembali menghadap Rabbnya, Sang Pemilik Jiwa.

Tapi manakala hari-hari telah kita lalui bersama-sama dengan sejumlah kasih sayang tulus, saling memiliki, saling menasehati akan kebaikan dan saling mendoakan. Saat kita terpisah akan menjadi lebih siap dan kehilangan itu tak menjadikan terjerembab ke dasar jurang apalagi hingga putus asa, naudzubillah.

Akan sedih tentunya berpisah. Seperti syair mbak BCL di dalam penggalan lirik lagu cinta sejati (OST. Habibie Ainun) berikut ;

Manakala hati menggeliat mengusik renungan
Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku

Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian

Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku
Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu
Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita

Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian

Kini lantunan tembang ini sedang menjadi ujian hati terbesar Mbak BCL. Semoga diberi ketabahan, demikian juga Dek Noah yang kini yatim, semoga bersabar dan senantiasa dilindungi Allah. Doakan Ayahnya Dek, karena itulah yang sangat dia harapkan saat ini, doa anak yang soleh.

Ya Allah, ikut berduka yang sedalam-dalamnya atas kepergian kekasih hatimu Mbak BCL. Semoga beliau yang terkenal ramah dan dermawan, donatur rumah-rumah yatim diterima dan ditempatkan Allah di surga. Mendapatkan nikmat kubur tak putus atas amal jariyahnya di dunia dan diampuni segala khilaf, lupa, lalai dan dosa.

Innalillahi wainnailaihi rojiun.

Seseorang yang bukan siapa-siapa, hanya mengenal mereka sesekali di layar kaca.

Free for share ya, jika dirasa bermanfaat untuk saling mengingatkan. Bukankah setiap nasehat bernilai pahala? Silahkan.

Sumber : Status Facebook Warda

Sunday, February 23, 2020 - 11:15
Kategori Rubrik: