Brutalnya Medsos Tanpa Tombol Stop

Oleh: Sunandi

Bersamaan dengan kasus Sonya, muncul pula foto2 anak-anak SMA yang merayakan kelulusan dengan corat-coret seragam mereka.
Foto-foto tsb lantas mengundang banyak komentar, bully katanya. Berhari-hari foto-foto tersebut melayang-layang di halaman facebook. Namun tak ada tanda-tanda untuk berhenti atau "STOP BULLY MEREKA". 

Jika pada kasus Sonya, orang akan ada yang berkata, " dia masih muda, seharusnya dibimbing bla bla bla". Akan tetapi bagi foto2 corat-coret tersebut semua satu suara, tidak pantas. Padahal jika kita ingat, apa yg mereka lakukan pun sama seperti apa yg pernah kita lakukan. Merayakan kelulusan dengan mencorat-coret seragam. Tapi, adakah yang simpati terhadap mereka?

BULLY ZASKIA
Zaskia gothic menjadi buah bibir karena ucapan "bebek nungging" nya di acara televisi. Semua membully Zaskia karena dianggap melecehkan Pancasila, padahal bisa jadi Zaskia tidak sadar apa yang diperbuatnya. 
Apa yang dilakukan Zaskia padahal pernah juga kita lakukan. Masih ingat dengan PANCASILA versi PADANG yang beredar di medsos? Kita tertawa bukan membacanya? Bedakah dengan yg dilakukan Zaskia? Tak ada simpati buat Zaskia dengan "STOP BULLY ZASKIA".

SATIRE GAGAL GHAZALI RAHMAN
Sempat beredar di facebook, skrinsut perkataan Ghazali Rahman tentang Islam boleh korupsi. Itu satire tapi karena tidak ada tulisan satire maka orang salah memahaminya dan menyebarlah skrinsut tersebut yang ditanggapi dengan berbagai komentar. Meskipun kadang ada yang menyampaikan bahwa aada klarifikasi dr ybs, tetap saja tak ada yang berhenti mengecam. Ada yang mengatakan " STOP BULLY GHAZALI"?

Itulah brutalnya medsos, sekali tersebar tak ada tombol STOP untuk menghentikannya. Apalah itu kemudian naamanya, bully atau apa. Kita mengomentari sesuatu yang tidak sesuai dengan kaidah norma masyatakat. Yang dikomentari itu adalah sebuah perilaku.

Mengapa kasus Sonya kemudian menjadi berbuah simpati? Karena pada kasus tersebut pada akhirnya memakan korban meninggalnya orang tua Sonya. Tapi pada kasus foto corat2, zaskia, ghazali tak ada korban yang jatuh, oleh karenanya netizen masih terus menyebarkan berita, komen, skrinsut tentang mereka.

Yah...itulah brutalnya medsos. Hukuman atas sebuah perilaku yang dianggap berbeda dari kaidah umum, akan mendapatkan hukuman sosial, sesuai dengan namanya, media sosial. Suatu peristiwa akan cepat sekali menyebar tanpa pandang bulu siapa pelakunya, apakah dia anak-anak, orang tua, orang biasa, pejabat, aparat, artis, politikus, siapa saja.

Tak ada tombol STOP di medsos, sekali berbuat kesalahan, maka itu akan menjadi tattoo kehidupan. Mengerikan? Pastinya, dan ini berlaku bagi siapa saja. Entah suatu saat, aku, kamu, saudara, keluarga, atau sahabat kita bisa menjadi korban kebrutalan media sosial.

 

(Sumber: Facebook Sunandi)

Wednesday, April 13, 2016 - 19:15
Kategori Rubrik: