Brainswash Politik

ilustrasi

Oleh : Budiman Hakim

Peristiwa dengan Akhmad membuat saya merasa perlu berkonsultasi dengan kawan lama saya Bagus. Dia adalah kawan sesama pecinta alam yang sekarang bekerja sebagai psikolog. Bagus juga seorang konsultan politik sehingga dia banyak tau seluk-beluk seputar kegilaan pilpres ini.

Di ruang meeting kantornya kami berdua berdiskusi soal politik. Panjang lebar saya bercerita pada Bagus pengalaman saya bersama Akhmad beberapa waktu yang lalu.

“Lo pernah denger istilah Reptilian Brain?” tanya Bagus setelah saya menyelesaikan cerita.

“Reptilian brain? Apa itu?”

“Ada orang yang bernama Paul D. MacLean. Dia seorang physician and neuroscientist yang memperkenalkan teori triune dalam otak manusia.”

“Triune?”

“Triune itu sendiri artinya three in one.”

“Sebentar-sebentar. Coba lo terangin ke gue seakan-akan gue anak SD,” protes saya.

“Menurut teori ini, otak manusia sebenarnya terdiri dari tiga bagian. Otak reptil, otak mamalia dan neo cortex atau biasa disebut dengan human brain.”

“Buset! Kok makin susah aja ngertinya.”

“Kalo kita mengikuti teori evolusi, otak reptil ini adalah jenis otak yang pertama kali dimiliki oleh manusia purba."

"OK. Terusin cerita lo."

"Otak reptil tidak berbeda dengan binatang. Jadi manusia kala itu bertindak tanpa mikir alias hanya mengandalkan insting. Dengan kata lain, dahulu kita adalah binatang berbentuk manusia karena kita belum memiliki human brain.”

Saya makin kebingungan mendengar penjelasan Bagus.

“Otak reptil sifatnya untuk survive. Tindakannya hanya pada wilayah: Fight, flight, food, fuck. Agar gampang diingat, orang biasa menyebutnya 4F.”

“Okay, lalu?”

“Fight dan flight itu adalah situasi ketika kita dihadapkan terhadap ketakutan (fear). Ketika berhadapan dengan ketakutan, insting kita akan mempunyai dua pilihan; apakah melawan (fight) atau melarikan diri (flight)."

Bagus behenti sejenak untuk menunggu reaksi saya tapi saya memutuskan untuk menunggu kelanjutan omongannya.

“Sementara Food adalah naluri untuk mempertahankan hidup karena semua makhluk hidup perlu makan. Dan fuck adalah naluri mencari pelampiasan ketika libido menyerang dan menuntut kepuasan seksual. Semua insting spontanitas ini dikendalikan reptilian brain.”

Saya berusaha untuk fokus pada cerita Bagus yang amat sulit dipahami.

“Inget gak lo, waktu SD, kita diajarkan oleh guru bahwa gerak refleks adalah gerakan otomatis yang tidak diperintah oleh otak.”

“Iya, inget.”

“Nah, sebenarnya yang mengatur gerak refleks tersebut adalah otak reptil. Otak reptil bertugas mengatur gerak refleks dan keseimbangan koordinasi pada tubuh manusia. Ketika bahaya mengancam dengan tiba-tiba, otak reptil inilah yang memberi komando untuk bereaksi.”

“Oh, gue ngerti sekarang. Tapi apa hubungannya dengan peristiwa yang mengubah Akhmad?”

“Lo pernah denger teori Firehose of Falsehood?” tanya Bagus lagi.

“Ya, taulah. Itu kan strategi yang dipake sama Donald Trump ketika mengalahkan Hillary Clinton saat pemilu di Amerika, kan?”

“Betul. Lo tau bagaimana cara Trump menggunakan strategi itu?”

“Kalo gak salah dia mengimplementasikan teorinya Hitler yang pernah mengatakan bahwa kebohongan yang dilakukan secara terus menerus, lama kelamaan akan menjelma menjadi sebuah kebenaran.”

“Tepat sekali. Di Amerika kebohongan Trump sering disebut dengan fake news. Dan kebohongan itu sengaja didesain untuk menciptakan ‘FEAR’ pada masyarakat Amerika.”

“Ah, iya betul. Bagian itu gue setuju.”

 

“Trump menggunakan isu agama dengan mengatakan bahwa Islam itu teroris. Dia juga menggunakan isu ras dengan mengatakan bahwa pengungsi itu berbahaya makanya dia akan membangun tembok besar di perbatasan Mexico.”

“Lo kok pinter banget, Gus? Iya gue pernah baca itu semua.”

“Trump juga bilang bahwa tenaga asing akan merebut lapangan kerja di Amerika. Dia juga menakuti-nakuti rakyatnya bahwa negara China sangat membahayakan perekonomian negeri adidaya tersebut.”

“Terus apa hubungannya semua itu dengan topik kita?” tanya saya kebingungan.

“Trump menciptakan ‘fear’ yang luar biasa. Dan sasaran semua kebohongan itu ditujukan langsung ke otak reptil rakyatnya.”

"Oh? Jadi otak reptil kita masih ada?"

"Masih. Otak reptil itu yang diserang secara terus menerus tanpa jeda sehingga human brain gak sempet bekerja. Mereka gak sempet meggunakan logika."

"Kenapa Akhmad jadi pemarah?

"Karena reptilian brain itu otak binatang. Mereka lagi diserang 'FEAR' makanya naluri binatangnya berusaha melawan dan mempertahankan diri."

"Akmad sarjana, loh. Kok bisa-bisanya percaya bumi itu datar?"

“Mau S1 atau S3 gak ada bedanya. Mereka gak bisa berpikir dengan logika. Karena otak reptil yang diberondong dengan fake news tidak sempat masuk ke human brain.”

“Oh ya? Lalu apa yang terjadi?”

“Karena ditembakkan terus menerus dengan berita bohong, fake news tersebut langsung masuk ke subconscious mind dan menjelma menjadi believe system.”

“Gila! Padahal kalo udah masuk ke believe system susah banget disembuhkan, ya?”

“Susah banget. Korbannya sudah seperti di-brainswashed. Mereka akan kebal terhadap data dan fakta.”

“Maksudnya?”

“Kita gak bisa berdebat dengan orang semacam itu, Mereka gak percaya pada data dan fakta. Fake news yang telah masuk ke Believe system perlu diterapi secara khusus untuk menyembuhkannya.”

“Wuiiih! Mengerikan banget, ya?”

“Sangat mengerikan. Makanya Scott Pelley, seorang jurnalis Amerika, pernah mengatakan ‘I believe the fastest way to destroy democracy is to poison the information.’”

“Siapa lagi itu Scott Pelley?”

“Scott Pelley itu news anchor di Televisi CBS News."

Selesai meeting dengan Bagus, saya kembali kekantor di Jalan Fatmawati. Pemilu kali ini bener-bener gak masuk akal. Entah berapa banyak saya kehilangan teman cuma gara-gara pilpres. Gak ilmiah banget! Kesel saya!

Tapi, ya, sudahlah. Gapapa kok kehilangan teman. Ada bagian dari omongan Akhmad yang saya sangat setuju. Daripada bermusuhan lebih baik kita tidak berteman.

Sumber : Status Facebook Budiman Hakim

Wednesday, October 9, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: