BPN Dan Saksi Inkonsisten

ilustrasi
Oleh : Nophie Kurniawati
 
Kapan siy kalian bisa konsisten? Kalau sudah tahu sistem pemilu di Indonesia ini masih konvensional, menggunakan penghitungan manual berjenjang, terus kenapa kalian, tim kalian sampai pendukung2 kalian dari level atas sampai level ecek2 semua meributkan soal website situng KPU ? 
 
Kenapa kalian membuat narasi2 bego dengan hoax dan fitnah dari mulai server disetting 57% untuk paslon #01, server diretas, server disedot , server ditiup dll. Sampai ahlinya ahli IT kalian bikin robot copy paste website KPU segala. Itu semua buat apa bambaaaank ??
 
Toh udah di bilang berkali2, dasar perhitungan KPU masih manual. Dimulai dari TPS yang dihitung oleh KPPS dan ditandatangani masing2 saksi. Kalau di TPS saksi kalian sudah setuju terus kenapa diatas kalian yang ribut? Kenapa gak saksi kalian itu yang kalian gantung? 
 
Ini masih dengan sistem manual saja kalian sudah ributin web site, apalagi kalau sudah pakai sistem digital. Tambah kaya apa ributnya? 
 
Hanya 2 pilpres ini saja dimana ada peserta yang ributin soal web site sementara hasil perhitingan resminya manual. Masih mau begitu lagi tahun berikutnya? 
 
Wolo wolo kuwato..
 
"Kami menghabiskan uang berapa miliar hanya untuk memfotokopi C1. Bawaslu juga katanya menghabiskan beberapa miliar," kata Iwan. 
 
Menurut Iwan, uang miliaran rupiah yang harus dikeluarkan untuk biaya fotokopi tersebut tak terlepas dari sistem Pemilu di Indonesia yang masih konvensional. 
 
Saat ini, kata Iwan, sudah terjadi lompatan besar di dunia karena sudah masuk era digital. Seharusnya, penyelenggaraan pemilu juga bisa dilakukan dengan mengikuti perkembangan zaman.
 
Sumber : Status Facebook Nophie Kurniawati
 
 
 
 
Saturday, June 22, 2019 - 16:15
Kategori Rubrik: