Botol Kosong Xixo dan Xixa

ilustrasi

Oleh : Eddy Pranajaya

Tersebutlah dua suku pedalaman ditengah hutan, tidak pernah mengenal dunia luar ; mereka hidup rukun berdampingan dari generasi ke generasi, dipimpin oleh dua orang saudara sepupu yang bernama Xixo dan Xixa sebagai kepala suku masing-masing.

Kedua suku tersebut hidup damai bercocok tanam sebagai petani-petani handal, saling tolong menolong satu dengan lainnya tanpa pernah ada permusuhan selama berabad abad lamanya. Hidup berdampingan saling menghormati layaknya keluarga sendiri ; kekayaan mereka berlimpah ruah dan dimiliki secara bersama.

Pada suatu siang yang cerah, tampaklah benda besar aneh melayang layang diatas permukiman mereka seperti seekor burung raksasa dengan suara bising memekakkan telinga.

Mereka sangat ketakutan melihat benda aneh seperti burung raksasa yang terbang berputar putar menimbulkan suara menakutkan, yang baru pertama kali mereka lihat itu, dan tanpa dikomando, seluruh penduduk desa terpencil itu langsung bersujud menyembah dengan wajah pucat menengadahkan kepalanya, sambil berseru : " oohhh dewa burung, kasihanilah kami semua, ampunilah kami semua ... ".

Kemudian dari langit jatuhlah sebuah benda asing ditengah-tengah suku Xixo, demikian pula sebuah benda aneh yang hampir sama bentuknya ditengah-tengah suku Xixa. Ternyata benda aneh yang jatuh ditengah-tengah suku Xixo adalah sebuah botol bekas minuman keras kosong yang ramping bentuknya, sebuah botol Tequila kosong dengan sisa beberapa tetes cairan didalamnya, sedangkan benda aneh yang ditemukan oleh suku Xixa adalah sebuah botol kosong bekas minuman keras Chivas Regal dengan sisa beberapa tetes cairan alkohol didalamnya; kemudian setelah menjatuhkan kedua botol kosong tersebut, burung raksasa itu terbang menjauh dan hilang dari pandangan seluruh penduduk kedua suku terasing tersebut.

Xixo, sebagai kepala suku lalu berjalan membungkuk penuh hormat mendatangi lokasi jatuhnya botol kosong Tequila, lalu memungutnya dengan perasaan penuh hormat. Demikian pula dengan Xixa, dengan terbungkuk bungkuk dia mendatangi tempat jatuhnya botol kosong Chivas Regal, kemudian dengan penuh hormat memungut botol kosong itu.

Xixo dan Xixa beserta seluruh penduduk desa terpencil itu kemudian berkerumun untuk melihat keajaiban "benda dari langit" milik masing-masing.

Pertama, mereka coba memukul- mukul botol kosong itu dengan ranting kering, dan ternyata "benda dari langit" itu mengeluarkan bunyi aneh yang belum pernah mereka dengar sebelumnya, kemudian mereka mencium ujung bibir botol yang berbau harum ; begitu pula ketika mereka coba meniup bibir botol itu dengan mulutnya, muncul suara aneh yang sangat asing bagi telinga mereka. Mereka beranggapan bahwa suara dan aroma harum menyengat yang keluar dari botol kosong itu adalah suara dan aroma dewa tentunya.

Suara yang ditimbulkan oleh kedua botol kosong itu memang berbeda, walaupun banyak kemiripannya. Botol Tequila menimbulkan bunyi yang lebih tajam, lebih banyak trebel daripada bassnya, karena bentuknya yang lebih kecil dan ramping ; sebaliknya bunyi yang ditimbulkan oleh botol Chivas Regal lebih berat, lebih ngebass, karena bentuknya lebih besar dan memiliki rongga didalamnya yang lebih besar pula daripada botol Tequila.

Penduduk desa Xixo beranggapan bahwa botol kosong milik mereka lebih baik daripada botol kosong milik desa Xixa ; demikian pula sebaliknya penduduk desa Xixa menganggap bahwa botol kosong milik mereka lebih sempurna daripada milik tetangganya. Kemudian mulailah mereka memuja botol kosong mereka masing-masing, seolah olah botol kosong itu adalah benda langit pemberian dewa mereka yang mengandung kesaktian luarbiasa.

Gara-gara bersaing akan kesaktian dua botol kosong yang berbeda bentuk dan ukuran itu, dua penduduk desa pedalaman yang masih berkerabat erat itu akhirnya terpecah, lupa siapa diri mereka, lupa asal usul mereka, lupa ajaran leluhurnya, lupa bekerja mengembangkan ilmu bercocok tanam mengusahakan tanah pertanian warisan nenek moyangnya, lupa apa itu hidup bergotong royong, lupa bahwa mereka masih bersaudara.

Setiap hari kedua penduduk desa terpencil itu hanya sibuk bermain main dan menyembah "barang baru yang turun dari langit" itu. Bergantian mereka memukul, meniup, dan membaui barang aneh itu untuk memperoleh manfaat dari botol kosong itu, kemudian saling membanggakan bahwa barang mereka lebih baik daripada barang milik tetangga desanya.

Xixo dan Xixa yang menjadi kepala suku mereka pun ikut terbuai oleh botol kosong milik mereka, sehingga lupa untuk membimbing warga desanya kembali bekerja di ladang mereka.

Akhirnya desa yang dahulu begitu makmur, guyub, dan saling mengasihi itu, sekarang jadi kering kerontang, persediaan makanan pun semakin menipis, warga desa jadi malas bekerja ; setiap hari keasyikan bermain main botol kosong dari langit, malah sering terjadi pertengkaran diantara dua kerabat dekat itu akibat tak mau saling mengalah membanggakan kehebatan botol kosong masing-masing.

Botol kosong yang tidak ada gunanya dan tidak ada harganya sama sekali ; tapi ditangan orang-orang bodoh yang kurang pengetahuan malah dianggap sebagai barang luarbiasa, sangat mahal, sangat bertuah, bahkan dianggap sebagai barang yang turun langit, sehingga disembah-sembah layaknya barang pemberian dewa atau penjelmaan sang dewa sendiri.

Namun pada akhirnya mereka harus kecewa karena sampai bertahun tahun lamanya mereka berkutat dengan botol kosong itu, tapi sama sekali tidak ada perubahan pada nasib mereka, justru permusuhan dan kebencian serta kemelaratan yang mereka peroleh sejak hadirnya botol kosong itu di tengah-tengah mereka.

Seandainya Xixo dan Xixa tidak menemukan botol kosong yang jatuh dari langit, tentunya sampai kapanpun kedua penduduk desa terpencil di pedalaman itu akan tetap hidup rukun dan damai, penuh kemuliaan dan kesejahteraan. Botol-botol kosong itu telah merubah hidup mereka, membangkitkan ego dan kesombongan dimana mana.

Demi "botol kosong yang turun dari langit" dua warga desa yang dahulu hidup rukun berdampingan selama puluhan generasi, sekarang saling bermusuhan dan saling melecehkan satu dengan lainnya. Menganggap botol kosong milik mereka adalah lebih sempurna daripada botol kosong milik desa tetangganya.

Botol kosong yang tidak ada harganya, tidak ada manfaatnya, dan tidak ada kelebihannya sama sekali, bahkan yang tidak pernah diturunkan dari langit, tapi terbukti mampu memecah belah kerukunan umat manusia, menciptakan permusuhan dan perang serta pembenaran diri sendiri, selama berabad abad lamanya. Sungguh tragis memang ...

Dan sampai hari ini, botol-botol kosong itu tetap dianggap sebagai botol dewa yang turun dari langit, yang memiliki kesaktian super, yang harus disembah-sembah, bahkan harus dipertahankan dengan ceceran darah dan taruhan nyawa oleh banyak manusia di seluruh dunia. Tapi yang kenyataannya justru telah menimbulkan perpecahan dan perang, serta menebar kematian dimana-mana.

Ternyata ajaran leluhur sendiri justru jauh lebih sempurna dan lebih bermanfaat untuk kemakmuran, kesejahteraan, dan kedamaian bagi seluruh umat manusia, daripada botol-botol kosong berbau harum tapi tidak nemiliki manfaat apapun selain halusinasi bagi seluruh umat manusia.

Sumber : Status facebook Eddy Pranajaya

Monday, May 25, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: