Bom Waktu Pendidikan

Oleh: Eko Kuntadhi

 
Di Solo ada berita seru. Seorang anak didik putri di keluarkan karena mengucapkan selamat ulang tahun pada temannya.

Ia bersekolah di SMP Islam Terpadu Nur Hidayah. Sekolah yang disemangati oleh gerakan Ikhwanul Muslimin. Corak keislamannya kaku. Gaya Wahabi. Hal yang biasa saja, menjadi persoalan besar. Mengucapkan selamat ulang tahun dianggap pelanggaran serius pada aqidah.

 

Apalagi kalau mengucapkan selamat Natal?

Sekolah Islam Terpadu banyak bertumbuhan. Sebagian beraliran keras. Mencetak anak-anak jadi robot agamis. Suasana keindonesiaan yang pluralis dan menghargai perbedaan melorot. Habis.

Di Depok, sekolah-sekolah jenis ini juga bertumbuhan. Tidak ada pengajaran toleransi. Yang ada suasana beragama kaku dan keras. Anak didik yang masih unyu-unyu dibelah dengan pandangan agama yang sempit. 

Seringkali diracuni dengan politik identitas. Wajar. Sekolah Islam Terpadu banyak diinisiasi oleh kader PKS. Pendidikan dijadikan sarana mencetak kader-kader.

Di Seragen, siswa Rohis mengintimidasi rekan putrinya yang tidak pakai jilbab. Itu terjadi di sekolah negeri. Bagaimana mungkin mereka bisa toleran pada siswa yang beragama lain, jika pada siswa seagama saja sudah hobi menteror.

Dan kelakuan seperti ini dianggap biasa. Bagian dari dakwah siswa. 

Orang-orang dengan pandangan dunia yang dikotomis --muslim dan non-muslim-- merasuki dunia pendidikan kita. Mereka menularkan pandangannya kepada anak didik. Bukan hanya di sekolah berlabel Islam Terpadu. Mereka juga ada di pendidikan umum. Menjadikan sekolah negeri seperti berorientasi agama.

Padahal ini Indonesia. Negeri yang diikat dengan semangat berbeda-beda tapi merupakan kesatuan. Jika semangat berbeda yang selalu ditonjolkan dalam dunia pendidikan, rasanya kita hanya sedang mencetak orang yang hilang keindonesiaan dalam dirinya. 

Jika belakangan sering dipertentangkan antara keindonesiaan dan keislaman, rasanya itu adalah hasil dari pendidikan yang mencetak pandangan dikotomis seperti ini.

"Membela agama ada dalilnya. Membela negara gak ada dalilnya," kata Felix Siauw. Pandangan ini sebagai dasar orang lebih terikat pada khilafah ketimbang Indonesia.

Maka orang tidak merasa berdosa menghianati negerinya. Mereka akan merasa dosa jika menentang ustadnya. Sedangkan si ustad tidak mengajarkan cinta tanah air. Malah mempertentangkan.

Masa depan bangsa sangat bergantung pada kualitas anak didik. Mereka penerus Indonesia. Jika suasana pendidikan kita seperti itu. Apa yang akan terjadi dengan Indonesia ke depan?

Rasanya ini adalah PR besar bangsa ini. Para bigot menjadikan dunia pendidikan kita berwajah muram. Keceriaan hilang di dunia anak-anak. Digantikan dengan ideologi keras dan kaku. Yang selalu menonjol-nonjolkan peebedaan.

Anak-anak sudah dikotak-kotakan dengan label agama. Jangan heran jika intoleransi kini terbesar melanda dunia anak-anak. Sejak meletek jadi janin, mereka sudah dibatasi isi kepalanya. 'Saya muslim, yang tidak sama dengan saya neraka tempatnya.'

Permusuhan disesapkan. Seperti menenam bom waktu yang sekali waktu akan meledak. 

Jika dalam peristiwa politik banyak anak-anak meneriakkan jihad yang salah kaprah. Itulah hasilnya. Ada satu video segerombolan anak bernyanyi 'bunuh Ahok.' Anak yang membedakan jahe dan lengkuas saja masih salah. Eh, diajarkan untuk berfikir ekstrim. 

Mengerikan.

Tapi itulah dunia pendidikan kita sekarang. Wajah intoleran hadir. 

Sebetulnya pendidikan berbasis agama silakan saja. Tapi mempertentangkan agama dengan keindonesiaan adalah problem serius. 

Silakan mengajarkan Islam pada anak didik. Tapi Islam yang justru menjadi penguat akar kebangsaan. Silakan mengajarkan Kristen atau Katolik, tapi Kristen dan Katolik yang mengindonesia. Jika malah dipertentangkan akan berefek serius bagi masa depan negeri ini.

Rasanya ini adalah PR berat Mendikti. Bukan soal kurikukum teknis yang memberi seperangkat anak didik kemampuan artifisial memasuki dunia industri. Yang justru mendasar adalah menanamkan bahwa mereka adalah warga Indonesia. Mereka dididik untuk menjamin keberlangsungan bangsa ini.

Membongkar semangat intoleran. Menanamkan sikap menghargai perbedaan. Mengembangkan rasa cinta tanah air. Dan memandang dunia tidak dikotomis dan hitam putih harus dibangkitkan kembali. Dunia pendidikan dituntut punya modal seperti itu.

Jika dunia pendidikan kita isinya selalu mempertentangkan perbedaan, sepertinya kita sedang menggali kuburan bagi negeri ini.

Untung saja Abu Kumkum tidak dididik dalam alam yang seperti itu. Sebagainl lulusan TK Tumben Lestari, Kumkum diwarisi semangat memandang perbedaan sebagai rahmat.

"Mas, aku juga sarjana lho. Lulusan STTS," ujar Kumkum.

"STTS apaan Kum?"

"Sekolah Tinggi, Tinggi Sekali..."

(Sumber: www.ekokuntadhi.id)

 
Sunday, January 12, 2020 - 16:15
Kategori Rubrik: