Bom Sarinah 'Hanya' Salah Satu Upaya Lengserkan Jokowi

 

Oleh: Alif Khalifah

Salah besar jika ada analisis yang mengaitkan bom sarinah untuk mengalihkan isu soal sidang PK Abu Bakar Ba'asyir, penangkapan Damayanti yang anggota DPR PDI Perjuangan oleh KPK, hingga penawaran negosiasi ulang Freeport pada pemerintah Indonesia. Teroris yang jumlahnya hingga kini simpang-siur (berita terakhir polisi menyebutkan dari tujuh korban meninggal, lima orang adalah pelaku serangan, sedangkan dua orang adalah warga sipil. Satu dari warga sipil tersebut adalah WNA Belanda), jelas merupakan skenario global. Beberapa analisis menyatakan inilah kontra intelejen internasional.

Kontrak Karya (KK) PT Freeport Indonesia akan habis pada Tahun 2021. Sebelumnya sudah ada MoU sewaktu SBY menjadi Presiden (2009) dan berupaya diperpanjang lagi hingga 2041. Limit akhir pengajuan memang masih 2 tahun lagi (2018) tetapi salah satu klausul menyebutkan KK baru bisa dievaluasi 2 tahun sebelum kontrak habis. Sudah santer terdengar kabar Jokowi membatalkan MoU tersebut. Dengan rumor itu, Amerika kebakaran jenggot. Apalagi upaya yang dilakukan oleh Freeport melalui lobby yang dilakukan Setya Novanto ternyata bohong belaka (alias demi kepentingan Setya dan Golkar saja).

Apabila Indonesia tidak memperpanjang kontraknya, maka cadangan emas Amerika yang menjadi pondasi mata uang Dolar di seluruh dunia bakal rontok. Mereka berkeinginan kuat menguasai Freeport yang jelas-jelas memiliki cadangan emas hingga 80 persen cadangan emas dunia, apapun taruhannya. Negosiasi ulang KK Freeport baru bisa dilaksanakan pada 2019, Padahal Joko Widodo masih menjadi Presiden sampai Oktober 2019.

Hanya ada 2 pilihan bagi Freeport, memperpanjang kontrak Freeport (meski ada beberapa penyesuaian dan pasti terjepit alias tidak berkuasa penuh) atau hancurkan Indonesia.

Tampaknya, kedua strategi ini dijalankan dengan pola berbeda. Strategi pertama dijalankan melalui 'pintu depan' dan strategi kedua dengan 'nabok nyilih tangan'. Strategi pertama merupakan strategi normatif, melalui jalur resmi dan akan terlihat manis di permukaan. Tetapi strategi kedua, akan sangat kejam. Mereka akan berupaya tidak hanya memakai tangan orang Indonesia dengan mengadu domba tetapi juga menggunakan isu agama yang cukup potensial mengobrak-abrik kesatuan rakyat. Targetnya adalah jatuhkan Jokowi. Mereka ngeri melihat Jokowi mampu menaikkan optimisme, semangat, rasa persatuan dan bahu membahu yang bagi Amerika tidak bakalan mampu melawannya.

Maka dari itu hingga 2 tahun kedepan 2016 - 2018 bangsa ini akan banyak digoncang dengan issue separatis, politik, dan konflik SARA. Kelompok garis keras, radikal dan “jalan surge” bakal kebanjiran transfer uang dolar maupun Real. Menggunakan kelompok anti keberagaman cukup efektif. Cara memecah Islam terbukti ampuh diterapkan di berbagai negara timur tengah. Pentolan kelompok intoleran itu aslinya cuma menjalankan peran sebagai event organizer bernama kerusuhan. Mereka tidak sadar karena jargon yang kerap digunakan adalah term-term syiah, iluminati, freemason, PKI, komunis dan sebagainya.

Memporak-porandakan kesatuan, kebhinekaan dan gotong royong. Lihat saja penyesatan, tudingan kafir sesama muslim, ajaran sesat yang mudah diterima, tempat ibadah dibakar, ditambah media sosial yang men-share berita dari website yang sulit dipercaya seperti voa-Islam, Portal Piyungan, PKS Piyungan, Arrahmah dan lain sebagainya. Mereka mendapat order besar untuk turut dalam hiruk pikuk kesesatan informasi. Mereka yang ingin beragama tetapi miskin pengetahuan, bakal jadi korban hasutan provokator yang memimpin mereka angkat senjata. Isu Sunni-Syiah yang sukses menghancurkan Suriah dan Irak akan diduplikasi di republik ini.

Indonesia sebagai Negara besar terancam, dan 2 tahun ke depan merupakan pertaruhan besar. Amerika bergembira dengan soal masih berlanjutnya 2 kubu pro-Jokowi dan pro-Prabowo. Mereka senang Jonru terus-terusan melakukan black campaign terhadap Jokowi sehingga tanpa perlu berkeringat mereka tinggal memetik hasilnya. Mereka sudah gagal menggoyang isu-isu besar soal terorisme tapi mereka tidak akan pernah menyerah. Melalui media sosial, mereka terus menerus meracuni pemuda dan masyarakat dan menjauhkan dari majlis taklim, membuat jarak dengan tempat ibadah dan makin percaya berita di media dibandingkan tausiah dari ustaz, kiai, pendeta, pastur maupun bhiksu mereka.

Ingat, targetnya memang menjatuhkan Jokowi dan mereka belajar bagaimana caranya. Amerika berhasil menggulingkan Gus Dur melalui tangan Amien Rais. Kini mereka berupaya masuk melalui tokoh-tokoh Parpol setelah Prabowo menolak menjadi kaki tangan mereka secara langsung. Parpol-parpol itulah yang masih hijau matanya melihat uang sehingga lalai akan tugasnya yang utama.

Sebagai rakyat, ini bukan soal membela dan mempertahankan Jokowi tapi dalam jiwa Joko Widodo-lah negara ini secara perlahan menuju kebangkitannya. Memang tidak mudah, tapi setidaknya Jokowi punya sifat koppig yang terbukti tidak mudah dipengaruhi untuk 'menjual' Indonesia. Jika Jokowi lengser, makin mudahlah Amerika menguasai Freeport bahkan 'Indonesia'.

Thursday, January 14, 2016 - 19:15
Kategori Rubrik: