Bom Kampung Melayu; Haruskah Keluarga Kita Jadi Korban untuk Bisa Berempati?

Oleh: Deny Sidharta
 

Di tengah hiruk pikuk berita Bom di Kampung Melayu tadi malam, ada dialog di grup WA keluarga, adik ipar saya kebingungan mencari sepupu suaminya yang tiba-tiba tidak bisa ditelepon.

Konon sepupunya tersebut baru saja pamit dari rumah mertuanya dan jalan menuju arah terminal Kampung Melayu. Seluruh keluarganya mencoba menelepon namun tidak ada jawaban, bahkan nada sambung pun tidak ada. Ditengah kebingunan tersebut, ternyata ada adiknya si sepupu ini yang katanya juga lagi di daerah dekat Terminal Kampung Melayu tidak bisa dihubungi.

 

 

Saya turut mengalami bagaimana tegangnya dialog dalam grup WA tersebut, segala do’a keselamatan terucapkan ditengah komunikasi keadaan dilapangan dari saudara yang sedang mencari dan upaya-upaya lain yang dilakukan untuk mendapatkan sekedar kabar dari 2 orang tersebut. Ada saudara yang mendatangi kantor kepolisian setempat, rumah sakit , selain yang mencoba mendatangi lokasi kejadian. 
 Tengah malam, kami mendengar kabar, bahwa sang sepupu ini sudah ditemukan, dia di RS Hermina dalam keadaan mengalami luka ringan, namun sudah langsung boleh pulang setelah dilakukan penanganan. Namun sang adik belum ada kabar, dan akhirnya dicari juga di rumah sakit yang sama dan juga ke tempat-tempat lainnya. Alhamdulillah akhirnya sang adik juga ditemukan selamat. Kami semua bersyukur dan mengucap Alhamdulillah.. Allah masih memberikan perlindungan kepada saudara kami. Meskipun ditemukan dalam keadaan luka ringan, kami masih bersyukur, karena kami dapat merasakan bagaimana kepedihan dan kesedihan saudara-saudara dari korban luka berat atau bahkan yang meninggal dari kejadian pemboman tersebut.

Dari kejadian semalam, saya semakin dapat merasakan bagaimana bingung, cemas dan sedihnya keluarga polisi atau korban sipil dari kejadian semalam. Bagaimana sedihnya ibu, saudara, atau anak dari korban tewas dalam bom itu. Sungguh perilaku yang sangat biadab dari otak atau pelaku pemboman tersebut.

Semalam sudah muncul himbauan untuk tidak menshare gambar-gambar korban ledakan tersebut, entah apapun tujuannya, saya setuju dengan himbauan itu, karena memang sangat tidak layak membagikan gambar- atau video potongan tubuh manusia. Bayangkan kalau misalnya korban itu adalah teman atau saudara kita… bagaimana perasaan keluarganya melihat potongan tubuh keluarganya disebar-sebar seperti itu, sementara pemilik tubuh itu adalah korban tidak berdosa. Masih kurangkah pederitaan mereka sebagai korban hingga harus ditambah dengan postingan gambar-gambar bagian tubuhnya.

Pagi ini, di timeline FB saya ada lagi yang sharing gambar-gambar tersebut.. Apakah hanya karena ingin dianggap dekat dengan sumber berita atau sekedar takut dianggap kudet, hingga menyebarkan gambar-gambar sadis tersebut??
Belum lagi selesai dengan penyebar gambar, ada lagi yang menyebarkan berita-berita dari sumber tidak jelas mengenai teori konspirasi atau bahkan analisa-analisa kelas jonru (yang kebenarannya masih sangat perlu dipertanyakan), ditambah lagi yang nulis di statusnya menjadikan kejadian ini seakan-akan hal yang patut dijadikan dagelan. Hmmm.. saya benar-benar mengelus dada, ya Allah dimanakah hati mereka?

Dimanakah nurani mereka?? Haruskah keluarga atau kerabat anda menjadi korban terlebih dahulu, agar anda punya empati atas kejadian ini??

Ya Allah semoga tidak ada lagi kejadian biadab seperti ini lagi di Negaraku… INDONESIA …

Buat yang masih bangga dengan sharing gambar, sharing berita ngawur atau analisa konyol soal kejadian Bom Melayu… Semoga Allah membuka pintu hati dan perasaan anda…

 

(Sumber: Facebook Deny Sidharta)

Thursday, May 25, 2017 - 18:45
Kategori Rubrik: