Boleh Benci Tapi Tidak Boleh Jahat

ilustrasi
Oleh : Ahmad Sarwat
Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). (QS. Al-Maidah : 2)
Petikan dari ayat kedua Surat Al-Maidah ini rasanya istimewa sekali. Allah SWT menegur para shahabat agar tidak berlaku aniaya kepada orang-orang yang mereka benci.
Konteksnya di masa itu orang musyrikin Mekkah memang sangat keterlaluan, karena menghasung hak-hak kaum muslimin untuk bisa berkunjung ke Baitullah Masjid Al-Haram.
Namun bersama dengan kebencian itu, justru Allah SWT menegur para shahabat agar berlaku adil kepada orang yang dibenci.
Larangan ini jelas sulit untuk dikerjakan. Kepada orang yang kita benci, kok kita malah dilarang berlaku zhalim. Padahal seharusnya, kalau kita mengikuti nafsu, mumpung dia pernah bikin gara-gara sama kita, lalu kita punya kesempatan balas dendam, maka bisa-bisa saja kita zhalimi.
Orang yang kita benci itu enaknya kan kita musuhi bersama-sama, atau setidaknya kita rampas uangnya, bisa juga kita bikin dia ketakutan, atau bisa juga kita intimidasi.
Lebih asyik lagi sekalian saja kita telanjangin dan plorotin celananya sekalian. Rasanya tuh puas di dada.
Ternyata perbuatan macam itulah yang justru dilarang Allah. Benci boleh, tapi berlaku zhalim kepada yang kita benci ternyata malah dilarang.
Sebagian mufassirin menceritakan bahwa turunnya ayat ini terkait dengan awal mula terjadinya Perjanjian Hudaibiyah. Nabi SAW dan seribu lima ratus shahabat berpanas-panas melintasi padang pasir menuju ke Baitullah dalam rangka umroh. Ternyata baru sampai di Hudaibiyah, rombongan umroh dihadang dan tidak boleh masuk ke Mekkah.
Akhirnya Nabi SAW dan para shahabat gagal total masuk Mekkah, dan terpaksa bertahallul dan sembelih hadyu hanya di luar kota Mekkah. Siapa yang tidak kesal ditolak masuk ke kampung halaman sendiri.
Maka setelah ditanda-tanganinya Perjanjian Hudaibiyah itu, ada beberapa kaum musyrikin yang terlihat hendak menunaikan umroh. Saat itu ada sebagian shahabat usul agar umat Islam menghalangi mereka pergi umroh. Lalu turunlah ayat ini.
Pelajaran dari ayat ini buat saya pribadi mengajarkan bahwa bermusuhan itu harus profesional dan adil, tidak asal sradak-sruduk seenak berok.
Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat
Tuesday, January 12, 2021 - 09:30
Kategori Rubrik: