Boikot dan Move On

Ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Anda pernah dengar cerita tentang Soeharto yang menolak hadir di sebuah acara—meski diundang dengan cara paling terhormat—kalau kedapatan anggota Petisi 50 juga diundang? Pernah dengar cerita tentang Megawati di satu kurun waktu, yang bersikap serupa jika tahu SBY hadir di sebuah acara? The list goes on and on.

Ngertikah, dalam pengetahuan terbatas kalian, bahwa ada yang disebut dengan sitting arrangement? Saya tidak nyaman jika harus duduk semeja dengan orang tertentu. Dan kalau panitia mengundang saya, mereka harus tahu itu. Mengingkarinya akan membuat saya secara provokatif pindah meja saat acara berlangsung atau meninggalkan gedung.

Saya berposisi sejajar dengan si Dul yang tak saya suka itu: sama-sama sebagai pihak yang diundang. Saya berhak bersikap apapun atas masa lalu. Buat saya, ada persoalan yang belum diselesaikan si tolol itu. Melihat dia menyé-menyé, seolah tak ada apa-apa, bakal bikin saya muak dan barangkali muntah di depan publik. Anda tak mau itu terjadi? Jangan undang saya, atau jangan undang si Dul, atau kalian atur Si Dul datang setelah saya meninggalkan tempat.

Itulah cara-cara beradab dalam berkomunikasi dan bersikap. Anda tak bisa memaksa saya menganggap selesai persoalan yang sama sekali belum selesai. Anda tak becus kalau secara serampangan menuduh saya belum move on. Sebaliknya, kalian berhak menuding saya manusia sampah kalau setelah Si Dul minta maaf secara tulus saya masih juga uring-uringan dan merepet. Itu yang dinamakan belum “move on”, dodol.

Anggota DPR berhak walk out jika persidangan di gedung parlemen dinilai tidak mengindahkan suaranya. Dia dan anggota legislatif lain berada di pihak segolongan: sama-sama tuan rumah. Gedung DPR adalah rumah mereka. Kalau salah satu walk out, tak ada pihak dipermalukan. Dia meninggalkan rumahnya sendiri di hadapan sesama pemilik rumah.

Yang biadab adalah ketika Anda, sebagai pihak yang diundang, datang ke rumah pengundang tapi mereka tak berada di rumah.

Ananda Sukarlan berada di posisi yang sama dengan si pemimpin rasis itu; sama-sama sebagai pihak yang diundang. Sila belagak bego dengan berkata: Ananda adalah keluarga besar Kanisius, si pemimpin rasis orang luar. Kenyataannya, Ananda dan Ancur Badut sama-sama menerima undangan. Jelas tertera di sana, mereka diundang.

Sebagai undangan kehormatan untuk menerima penghargaan, Ananda Sukarlan berhak menyampaikan beberapa syarat kalau panitia sungguh-sungguh berharap dia hadir. Syarat tersebut, misalnya, tak bakal datang kalau Ancur Badut diundang. Kita tak tahu apakah hal tersebut sudah dikomunikasikan atau belum. Amannya, kita anggap saja Ananda tak tahu. Dia baru tahu saat membaca buku acara dan menemukan nama Ancur Badut di sana.

Tapi dia sudah berada di dalam gedung, tak mungkin mengubahnya lagi. Di sisi lain, dia mencintai almamaternya sekaligus bangga, namun tetap tak bisa menerima kelakuan Ancur Badut. Cara yang paling aman dan beradab adalah tetap mengikuti acara dengan tertib, dan minggat ketika Ancur Badut berbicara di podium, lalu balik lagi setelah si bego itu turun dari sana. Itulah yang dilakukan Ananda. Lalu para begowan Jakarta menganggap Ananda tidak beretika?

Justru sangat tidak beretika kalau Anda memaafkan seseorang yang telah menyilet-nyilet Jakarta begitu saja. Rekonsiliasi hanya bisa dilakukan setelah pendamaian diberikan. Dan pendamaian dianugerahkan setelah salah satu pihak mengaku salah dan bermohon ampun. Tanpa itu, semua omong kosong, taik kerbau, telék asu.

By law, dia adalah gubernur saya, tak bisa dibantah. Saya tak boleh membangkang. Itu saya tunjukkan dengan membayar pajak sehabis makan di restauran. Saya selalu memerintahkan supir untuk tidak pernah masuk ke jalur TransJakarta. Saya pun tidak membuang sampah sembarangan. Pendeknya, seluruh peraturan gubernur DKI Jakarta saya patuhi.

Tapi saya tetap tak bisa dan tak akan pernah bisa menerima caranya dalam Pilkada kemarin. Saya terluka, saudara-saudara saya yang lain juga. Ribuan orang dua hari lalu bahkan merasa diperdaya saat mendapati banjir sedada di kawasannya—sesuatu yang tak pernah terjadi selama 4 tahun ke belakang. Sejumlah teman saya yang kemarin memilih Ahok masih termangu membayangkan apakah mereka masuk surga kelak atau neraka. Ancur Badut tahu tapi tak peduli, dan bahkan berpidato lantang membanggakan nilai-nilai demokrasi dalam pilkada DKI 2017.

Hari Minggu, 21 Mei 2017, 2.081 mahasiswa Notre Dame berada di lapangan terbuka dalam acara Commencement Day, hari kelulusan. 85% dari mereka beragama Katolik, mirip Kolese Kanisius. Sila tanya Mun'im Sirry untuk verifikasi.

Sebagai mantan senator Indiana, tempat Notre Dame campus berada, Mike Pence, Wakil Presiden Amerika Serikat, dijadwalkan berpidato sekaligus menggambarkan masa depan Amerika di hadapan para wisudawan yang sebentar lagi mengabdi di masyarakat. Seluruh siswa diberitahu rancangan acara. Tapi, tentu saja, mereka wajib menghormati acara kelulusan. Itu hari bersejarah.

Para wisudawan dan orangtuanya datang, mengikuti acara dengan khidmat dan tenang. Tibalah giliran Mike Pence berpidato. Apa yang terjadi? Nyaris separuh kursi kemudian kosong, ditinggalkan penghuninya yang dengan demonstratif beranjak meninggalkan acara. Sebagian dari mereka menggenggam poster sebagai protes terhadap Trump dan Pence atas cara-cara yang digunakan sewaktu pilpres 2016.

Saya tak bisa menerima tindakan mereka yang menolak pengungsi Syria, kata salah seorang siswa, Saya punya anggota keluarga, dia gay, sampai sekarang tak berani ke luar rumah karena dihina habis-habis dalam pidato kampanye Trump dan Pence, kata yang satu lagi. Mereka telah memecah-belah Amerika, sembur yang lain.

Para mahasiswa itu sungguh beradab. Mereka memilih untuk bersetia kepada nurani, peduli kepada mereka yang dipinggirkan, dan berkeputusan untuk tetap menyuarakan ketertindasan itu. Tapi mereka tetap bayar pajak, tetap menyanyikan Stars Spangled Banner dengan berapi-api. Mereka Katolik sejati.

Ananda Sukarlan bersikap serupa karena pernah mengenyam pendidikan Katolik yang selalu peduli pada harmoni, keadilan, cinta, dan damai sejahtera—nilai-nilai yang ada di semua agama. Tapi kini Romo Magnis mengingkari hak Ananda, saya turut berduka atas kegamangannya. Menyesakkan.

Mulai sekarang, berhati-hatilah. Kalau Anda mengadakan acara dan bermaksud mengundang kehadiran Ancur Badut, pastikan kalian tidak mengundang saya. Sekali lagi, jangan silap. Saya tetap bayar pajak. Saya pun patuh jika diperintahkan kerja-bakti, gotong royong, membersihkan lingkungan. Tapi Ancur Badut tak boleh hadir kalau tak mau saya dan Niluh Putu Ary Pertami berbalik badan, membungkuk, dan menepuk pantat kami yang bahenol. Gak percaya? Try me!

Hujan deras mulai melanda Jakarta, sayang. Matikan televisi. Matikan radio. Padamkan sinyal internet. Kamu gak mau kan mengalami mabuk darat mendengarkan pidatonya yang santun itu di tengah banjir seleher di rumahmu?

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Wednesday, November 15, 2017 - 14:45
Kategori Rubrik: