Bocornya Data Pribadi Kita

ilustrasi

Oleh : Supriyanto Martosuwito

Berhadapan dengan 'hacker' piawai semua orang tidak berdaya. Bahkan instasi sekelas NASA di Amerika kebobolan juga. Tapi bagaimana jika data dibocorkan oleh orang dalam yang bekerja sama dengan kelompok penjahat penguras uang tabungan dan dan simpatisan pihak yang membahayakan negara?

Karena itu, kebocoran data yang menimpa Denny Siregar dan H. Ilham Bintang sungguh mengerikan.

Apa yang terjadi jika menimpa kita? Uang kita di bank dikuras dari ATM? Lokasi rumah diketahui, data pribadi bocor di medsos, padahal dalam posisi yang sedang diincar kaum militan.

Ini adalah "wake up call" agar negara lebih waspada dan peduli kepada warganya. Saatnya negara bersih bersih.

Dalam kasus Denny Siregar, diyakini data yang beredar memang sengaja dibocorkan orang dalam di perusahaan operator telepon yang menduduki posisi penting. Hal yang sama terjadi dalam kasus Ilham Bintang dimana nomor hape dan rekening bank jatuh ke tangan komplotan penguras tabungan.

Uang tabungannya dibobol setelah kartu hpnya digandakan oleh penjahat di gerai perusahaan telekomunikasi swasta. Ada 9 orang yang terlibat yang kerjasama dari berbagai keahlian.

Dan kasusnya mulai hari ini, Rabu (8/7/2020) ini, disidangkan di PN Jakarta Barat. Bang Ilham Bintang menolak damai dan ingin kejelasan dimana ujung pangkalnya mengapa pelaku bisa begitu mudah membobol data dan rekening banknya.

PERUSAHAAN perusahaan besar di bidang telekomunikasi mensyaratkan konsumen pengguna kartu mereka mengirimkan data pribadi, KTP dan KK. Namun mereka tidak menjaga data itu dengan maksimal. Padahal mereka meraup triliunan per tahun dari pemilik handphone dan rekening banknya. Untung banyak, tapi layanan buruk.

Kerabat saya yang bekerja di bank menyatakan, korporasi besar akan menyewa pengacara mahal dan menggunakan semua sumber daya yang ada untuk membersihkan diri dan memenangkan kasusnya.

Tapi itu tak menghapus ingatan bahwa mereka sudah cacad. Betapa rentannya data dibobol penjahat dan mereka tetap meraup keuntungan dan berlindung di balik sistem.

DI NEGARA komunis data warga diketahui negara lewat mata mata atau warga yang menjadi mata mata bagi yang lain.

Di era reformasi kini data bocor melalui BUMN, peusahaan komersial milik negara yang disusupi para kadrun dan simpatisan kadrun. Pro khilafah, anti NKRI.

Saya sungguh sungguh percaya bahwa kelompok intoleran dan para pemimpi negara khilafah sudah menyusup dan meresap ke instansi pemerintah, lembaga negara dan BUMN. Mereka memiliki kehlian di berbagai bidang dan menduduki posisi strategis.

Para penceramah yang mengumbar kebencian kepada negara dan pemerintah juga hadir di masjid masjid BUMN. Hal itu didukung oleh orang orang BUMN yang mengundang mereka dan menjadi panitianya.

Denny Siregar adalah aktifis yang menentang kaum kadal gurun, kelompok intoleran, anti NKRI, yang menjual agama untuk menghancurkan negeri. Denny bagian dari kita - wakil kita yang cinta negara ini.

Denny membela negara. Tidak seharusnya negara membiarkan Denny Siregar terancam. Dan berjuang sendiri. Apa yang disampaikan pihak operator masih normatif. Tidak memperlihatkan kesungguhan gerak cepat.

Karena itu, saya mendukung Bang Ilham Bintang dan Denny Siregar untuk mendapat keadilan serta pelindungan dan menjadikan kasus ini sebagai isu bersama. Agar negara bersikap tegas kepada mereka yang merongrong kita. ***

Sumber : Status facebook Supriyanto Martosuwito

Thursday, July 9, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: