BMKG dan Jin Tomang

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Untung Jakarta sudah jarang ada sawah. Kalau tidak, para petani sudah rame2 demo 'sarngi'. Karena beberapa instansi Pemerintahan Jokowi, BMKG, BPPT, BNPB, dan TNI AU, bekerja sama 'menolak' berkah. Hujan yang dibutuhkan para petani di-buang2 . . .

Banjir2 pertama Jakarta di bulan Desember 2019, dikatakan bukan banjir. Cuma telat ngantri . . .

Banjir Tahun Baru, dikatakan cuaca ekstrem dan Pemerintah Pusat telat bangun waduk. Di area hulu. Ya sudah . . .

Pemerintah ngalah, biarkan saja 'orang' Jakarta bersikukuh tentang 'naturalisasi' dan 'drainase vertikal', yang cuma kencang di mulut, bagus di angan2, namun 'memble' dan 'lelet" di lapangan. Namun begitu ber-semangat saat 'babad alas' Monas . . .

Pemerintah mengalah dan segera bekerja, seperti biasa, tapi kali ini sekaligus bikin dosa, karena menolak berkah dan ingkar 'sunatullah'. Hujan yang berkah 'ditolak'. Sunatullah-nya air itu masuk keserap kembali ke tanah, eh malah dibuang ke laut . . .

Empat instansi yang disebut tadi, kerja sama me-rekayasa cuaca. Ndak pakai 'keris' kayak jaman dulu, atau lempar celana dalam berisi cabe ke atas genting.

Tapi menebar garam, bahasa kimianya NaCl, Natrium atau Sodium Khlorida. Tentu saja ndak semudah tebar pupuk.di sawah.

Dilihat dulu area yang 'pekat' tumpukan awannya, arah angin kemana, garam yang di tuang seberapa banyak, dan lain-lain. Mungkin agak rumit itung2an dan atur waktunya.

Awan hujan jauh2 dari area Jabodetabek, sudah 'disemai' dan 'dipanen'. Di Laut Jawa, Ujung Kulon, atau Selat Sunda. Curah hujan area Jabodetabek berkurang hingga 44 persen dari 'prakiraan'. Lumayan kan ?

Operasi dimulai tanggal 03 Januari 2020, sampai akhir masa musim hujan. Mungkin nyaris tiap hari, sampai 4 atau 5 kali. Kecuali jika hari cerah. Minimal awan tipis matahari masih bisa mengintip . . .

Masalahnya, meski sudah dibantu begitu, banjir masih saja suka singgah. Kiriman dari Bogor tipis2 saja. Ndak tahu kenapa . . .

Tugu Monas sering ndak kelihatan 'kaki'nya, karena terendam banjir atau genangan air, underpass Kemayoran juga jadi kayak kolam renang atau pancing . . .

Mau dibantu apalagi ? Berdoa pun sudah 'ndrêmimil'. Saya juga. Takut kebanjiran lagi. Akibat banjir tahun baru, habis ongkos yang lumayan. Benahi 2 mesin cuci dan 1 tivi. Belum buku-buku, tikar lantai lampit, lantai parket, dan lain sebagainya.

Lagipula 'berdoa' kan keahlian 'mereka' dan memang cuma itu saja.

Mungkin masih ada pilihan . . .

Dulu ada cerita mahluk supranatural asli Jakarta. Entah beneran atau fiktif. Ada yang bilang seram, ada yang cerita malah mahluk lucu dan menggemaskan. 'Seorang' Jin, berasal dari Tomang, makanya disebut Jin Tomang. Tahun 90an kembali populer, dibuat bahan lawakan.

Semua instansi sudah bantu, namun banjir masih acap mampir. Jadi mengapa ndak terpikir minta bantuan 'tetangga' itu, Jin Tomang . . . ?

Ayolah, ke-empat instansi, BMKG, BNPB, BPPT, dan TNI AU, ganti 'garam' dengan 'kemenyan'. Tebar dari udara seperti biasa, tapi fokus area Tomang dan sekitarnya.

Kami yang di bawah akan bantu panggil dengan berteriak setiap mendung datang,

"Wahai Jin Tomang . . . Datanglah . . . !"
"Wahai Jin Tomang . . . Tolonglah . . . !"

Sembari berharap, semoga Jin Tomang paham tugasnya, yakni 'nyedot' air banjir. Bukan malah nambahi dengan air kencing . . .

Kadar dosa kita pun makin meningkat. Karena itu 'syirik' dan pula ber-jamaah . . .ah ah ah

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Thursday, February 6, 2020 - 11:15
Kategori Rubrik: