The Blusukan, Ilmu Politik Gus Dur dan Jokowi

Oleh : Asep  Bahtiar Pandeglang

Namanya pola, orang kalau tidak tahu pola akan sengsara, pola itu seperti arus, arusnya lambat berdayunglah cepat, kalau arusnya cepat berdayungnya juga cepat hancurlah perahu. Berdagang ada polanya, kalau musim hujan dagang bakso dan air jahe panas akan cepat laku, jangan musim hujan jualan es geprok, es teller, es campur, sampai sore tidak ada yang mau beli.

Cari ikan di laut juga ada polanya, kalau bulan purnama orang cari ikan juga percuma, alam semesta ini ada polanya, termasuk pola para rentenir, lintah darat yang suka menghisap uang rakyat, orang hanya bisa kepingin, inginnya beli peralatan rumah, tapi duit tidak punya, gaji pas-pasan, pinjamlah ia ke bank lokal yang salah, berkenalanlah ia dengan rentenir kejam, tiap bulan harus menyusut gaji, bayar hutang satu juta belum di potong bunga 30%, lah mereka makan dari mana? Pola rentenir itu mengejar sperti koboy, kalau kita bukan pelari cepat sulit mendapat pujian dari rentenir sialan itu.

Politik juga ada polanya, seluruh rakyat sudah muak sama pejabat yang tong kosong, banyak omong tapi kosong melompong tak berisi, rakyat hanya butuh pejabat yang turun kelapangan. Siapa yang menciptakan pola turun kelapangan? Dari jaman Nabi, pola turba sudah ada, cuma seiring perkembangan jaman pola turba atau turja menghilang. Pada era SBY, pejabat lebih suka duduk ongkang-ongkang diatas singgasana, pejabat lebih enak duduk di kursi ketimbang makan bakso bareng rakyat, hasilnya di seluruh Indonesia muncul simbol protagonis, Pencitraan.

Sekarang pola politik sudah jauh berbeda, yang menciptakan pola turja itu Jokowi, nama kerennya The blusukan Show, Mark Zuckenberg di Amerika sampai bertanya “What is blusukan?” Blusukan jadi Trand membooming di seluruh jagat maya, Mark sampai turun ke Indonesia ingin merasakan moment the blusukan.

Pahami pola politik kontemporer, pejabat yang cuma omong, duduk ongkang-ongkang di kursi sekarang sudah ketinggalan jaman, jika ingin mendapat simpati rakyat, para pejabat harus Blusukan, Turba, Turja, ikuti pola politik yang sedang nge-trand.

Ketika SBY naik ke podium dan menyindir jokowi itu lemah, pemerintahan jokowi itdak seperti pemerintahan saya kata dia, rakyat kembali bertanya, apa prestasi SBY? Orang di seluruh indonesia jadi bertanya-tanya, SBY ini ingin maju lagi atau gimana, sekarang, pejabat yang cuma modal omong tapi tidak pernah mau turun ke jalan akan ditertawakan orang, mungkin pikiran SBY dia ingin seperti Gus Dur yang selalu hadir di masyarakat, jangan mau disamakan dengan Gusdur.

 Gusdur sejak kecil sudah beda, dia tidak terbatas, tidak ada yang bisa membatasi, walau tidak punya pangkat presiden, Gusdur mengkritik pemerintah sambil terus Silaturahmi, dulu namanya silaturahmi bukan blusukan yang tenar sekarang, selain pintar ngomong dan mengkritik pemerintahan, Gusdur empatinya tinggi ke masyarakat, suka silaturahmi ke jalan, suka bantu orang, bahkan pengemis dekil minta makan ke rumahnya saja dia kasih daging ayam.

SBY mungkin berpikir, walau tidak punya jabatan dia ingin seperti Gusdur, tetap hadir di mata masyarakat, yang membedakan, SBY tidak pernah silaturahmi ke bawah, malah selalu naik podium. Sekarang pola politik sudah berganti, orang tidak mau lagi percaya sama pejabat yang ngomong lewat mikrophone, lewat podium, orang lebih percaya sama pejabat yang ngomong langsung di hadapan mereka, didengar langsung oleh telinga mereka, dirasakan betul bantuan dan uluran tangannya.

 Orang Papua sampai nangis-nangis karna selama hidup belum pernah ada Presiden yang berjalan melewati lumpur Cendrawasih, padahal mereka belum diberi apa-apa tapi sudah nangis. Orang-orang yang tahu diri di Kalijodo sampai terharu karna sudah puluhan tahun baru melihat pejabat yang begitu berani menghancurkan lokalisasi, begitu peduli terhadap masa depan anak-anak mereka, orang Bandung sampai mewek-mewek meminta Ridwan Kamil agar tidak meninggalkan kota Parahyangan, orang Surabaya begitu mencintai Risma, orang jawa tengah begitu mengagumi Ganjar Pranowo. Nah mereka itu dicintai karna tahu situasi dan menerapkan pola politik jaman sekarang.

Sekarang kalau DPR hanya bisa nyinyir lewat mikrophone, tampilnya cuma di televisi, rakyat sudah tidak mau dengar lagi, rakyat sudah basi, mereka sudah muak, jijik, bahkan bilang najis amit-amit, rakyat sekarang makanannya social media, di seluruh Indonesia sampai plosok desa rakyat sudah jadi the citizen journalisme, santapannya internet, mainannya aplikasi, rakyat akan lebih peduli pada pejabat yang turja turba, the blusukan show, tahu situasi politik sekarang. tidak seperti pejabat kemaruk yang doyan makanan sok sok sok, sok pintar, sok cerdas, ngomong cuma lewat mikrophone, pakaiannya rapi berdasi cuma di televisi, itu politik kampungan, pola nya sudah ketinggalan jaman, kenapa dipakai lagi? Sekarang sudah waktunya silaturahmi, turun ke bawah, turun ke jalan, nama kerennya The Blusukan Show. (*)

Sumber : Kompasiana

Foto: indepnews.com

Monday, February 29, 2016 - 07:30
Kategori Rubrik: