Blusukan dan Pencitraan

Oleh: Jumrana Sukisman

 

Sejak menjadi walikota Solo, presiden Jokowi kerap melakukan blusukan, melakukan kunjungan resmi atau tdk resmi ke seluruh bagian Kota Solo untuk melihat, berbicara, dan mendengar langsung kondisi, pendapat, dan keluhan masyarakat.

Aktifitas semacam ini terus beliau lanjutkan saat menjadi Gubernur, bahkan saat ini sebagai Presiden. Bukan karena beliau tdk mempercayai laporan bawahannya, tapi bertatap muka dengan masyarakat memang adalah hal yg disukainya. sesuatu yg jg diterapkannya di perusahaannya, dekat dgn buruh dan pekerja. Ia tak mau berjarak dengan rakyatnya.

 

 

Dulu, ada istilah ABS, asal bapak senang. Sebuah istilah yg diberikan pada gubernur, bupati, atau kepala instansi yg seringkali hanya melaporkan hal yang bagus2 saja kpd atasannya, bahkan kepada presiden. Dengan blusukan hal itu dpt dihindari.

Sejak menjadi Gubernur hingga menjadi presidrn, fitnah serta caci maki sering diarahkan padanya. Banyak orang menuduhnya melakukan blusukan untuk pencitraan. Padahal relevansi antara blusukan dan pencitraan sama sekali tidak ada. itu hanya ada dlm pikiran orang2 delusional.

Saya pernah bertemu dan berbincang dengan staf presiden. mereka bercerita saat melakukan blusukan presiden mencatat semua keluhan masyarakat. Kerika kembali ke Istana beliau mengumpulkan semua stafnya dan menteri terkait dan mendiskusikan hal-hal mendesak yg perlu dilakukan untuk memecahkan persoalan pembangunan di daerah yg dikunjunginya.

Beberapa proyek yang dilakukan dari hasil blusukan adalah jalan lintas Papua dan kalimantan. Pembenahan di daerah-daerah perbatasan dan lain-lain. Jadi menuduh blusukan sebagai usaha pencitraan hanyalah salah satu bentuk keputusasaan opososi dalam upaya menurunkan elektabilitas Presiden Jokowi.

Pada prinsipnya, oposisi hanya bisa terus menyerang dan mendelegitimasi berbagai kebijakan dan program yg dilakukan oleh pemerintah dan pribadi presiden karena tidak ada satupun hal positif yg bisa mereka banggakan dari diri dan kelompoknya.

Demikianlah kualitas oposisi kita, sama sekali tidak memberikan contoh etika politik yg baik pada masyarakat. Malah semakin memperuncing polarisasi politik dan ideologi di tengah masyarakat.

Kendari 04072018

 

(Sumber: Facebook Jumrana S)

Wednesday, July 4, 2018 - 20:45
Kategori Rubrik: