Blundernya Edy Rahmayadi

Ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Ketua PSSI ini tidak tahu bahwa dirinya disorot karena perilaku kasarnya belakangan ini. Mengusir ibu-ibu yang sedang demo. Mengancam merampas kendaraan pendemo. Kemudian menampar penonton bola. Dia bertindak menurut naluri militer gaya kuno. Mengancam dan menggertak untuk membungkam orang yang mengkritisinya.

Seharusnya, sebagai prajurit TNI yang mengayomi , dia harus paham suasana kebatinan masyarakat ketika seorang pendukung Persija dibantai sadis. Seharusnya, sebagai ketua PSSI dia segera menggelar sidang darurat PSSI untuk menyikapi peristiwa itu.

Sebagai Ketua PSSI dia harus memberikan guyuran yang menyejukkan untuk melawan tekanan masyarakat yang mendesak dia segera berbuat. Crisis management harus diambil misalnya dengan langsung mendatangi korban dan mengantarnya ke pemakaman. Atau setidaknya menggelar jumpa pers menyikapi kejadian tersebut dan mendinginkan amarah banyak orang.

Namun jenderal kuno itu berjalan dengan pikirannya yang serba komando. Bahkan dalam wawancara Kompas TV dia menolak menyebut pelakunya biadab lengkap dengan pernyataan klise. Tampak jelas si jenderal ini sangat tidak nyaman dicecar oleh pertanyaan kritis. Naluri militer kuno menyebabkan dia marah karena merasa derajatnya diatas. Wartawan adalah kasta kelas bawah. Begitu kira-kira.

Eddy bisa berbuat demikian kepada prajuritnya. Termasuk menampar bahkan menendang atau memaki. Tapi tidak dengan masyarakat sipil yang berani melawan perilaku kekerasan tersebut bahkan balik memakinya. Siapapun itu tidak perduli militer sekalipun.

Dan di zaman sekarang, dia tidak bisa mengancam masyarakat sipil dengan popor bedil. Dia harus menyesuaikan perilaku dan tindak tanduknya ketika berhadapan dengan masyarakat kebanyakan. Tidak dengan gaya yang petantang petenteng, sambil bilang, " kalau gua mau lu mau apa? "

Tak heran jika perkataan Edy Rachmayadi, “ Apa urusan anda menanyakan itu? Bukan hak anda juga untuk bertanya kepada saya”, menjadi kemuakan tersendiri masyarakat sipil melihat ulah jenderal kuno ini.

Yang ketinggalan jaman. Yang justru antagonis pada saat TNI makin bergerak menuju pendekatan yang makin humanis dan tunduk pada pemerintahan sipil.

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Saturday, September 29, 2018 - 00:00
Kategori Rubrik: