Blunder Teman Ahok

Oleh: Niken Satyawati
 

Isu paling seksi saat ini adalah Pilgub DKI Jakarta. Manusia paling seksi di mata media dan masyarakat media sosial saat ini adalah Ahok. Ahok tak hanya dibicarakan warga DKI namun lebih luas lagi, lebih dari iru siapapun merasa ingin mengomentari bahkan berkepentingan dengannya.

Ahok yang notabene orang nonpartai sejak meninggalkan Gerindra, semula diprediksi banyak kalangan tidak akan bisa maju melalui jalur independen, karena diperkirakan tidak akan mampu memenuhi syarat jumlah dukungan yang memang angkanya cukup cihuy. Namun Teman Ahok membuktikan bahwa mereka mampu mengorganisasi dan akhirnya mengumpulkan 1 juta dukungan warga untuk Ahok, dibuktikan dengan KTP. Tepuk tangan untuk Teman Ahok...

Makin kesini, pencapaian itu rupanya membuat Teman Ahok jumawa. Mereka bukan mencari dukungan yang lebih luas lagi, namun mulai memusuhi sejumlah kalangan. Yang pertama adalah Tempo. Media yang tergolong kredibel ini dimusuhi gara-gara memberitakan hal-hal yang dianggap merugikan Ahok. Ahok sendiri memang keberatan dengan sejumlah pemberitaan Tempo. Dan tokoh-tokoh Teman Ahok memberikan pernyataan dukungan terhadap Ahok. Mereka ikut marah dan membuat hubungan kedua pihak makin meruncing.

Selanjutnya adalah soal rencana partai-partai yang ingin merangkul Ahok. Mereka berebut mengerumui Ahok. Ini membuat Teman Ahok bersikap defensif. Seolah Ahok akan meninggalkan mereka dan untuk itu mereka mempertahankannya dengan memegang Ahok erat-erat dan berhadapan dengan partai. Sikap yang keras ditunjukkan ketika berhadapan dengan PDIP yang memang menunjukkan sinyal ingin mengusung Ahok. Keras dan terkesan arogan karena sudah berhasdil mengumpulkan 1 juta KTP, seakan lupa tujuan mereka: untuk mengantarkan Ahok menjadi Gubernur DKI pada Pilgub 2017. Tujuan yang sama yang dimiliki PDIP. Bila maju melalui partai, posisi Ahok di parlemen akan lebih kuat.

Hingga kemudian kekerasan sikap Teman Ahok itu membuat dukungan PDIP mengendur. Teman Ahok akhirnya melunak, dengan membuat pernyataan termasuk memposting di media sosial bahwa tidak apa partai merangkul Ahok, asalkan bisa mengantar Ahok menjadikan Ahok menjadi Gubernur DKI. Namun agaknya sikap yang melunak ini sudah terlambat.  Sebenarnya bila sejak awal Teman Ahok menyatakan dukungan dan bersatu dengan PDIP untuk mendukung Ahok lewat partai, Pilgub selesai. Ahok hampir pasti menang karena PDIP partai besar.

PDIP sekarang mencoba menelisik calon-calon dari kalangan mereka sendiri. Kini Walikota Surabaya Tri Rismaharini mulai digadang-gadang dan didorong-dorong untuk menjadi pesaing Ahok. Risma saat menyampaikan kata maaf kepada warga Surabaya dan menyebut waktu sudah habis, sangat kental nuansa politisnya. Entah sengaja atau tidak (menurut penulis sih sengaja), Risma seperti sedang melakukan “test the water”, melihat apa yang terjadi di masyarakat bila dia mengeluarkan pernyataan itu. Walhasil, dukungan untuk maju ke Jakarta ternyata mengalir deras dari berbagai kalangan.

Tidak cuma PDIP yang terus membujuk agar Risma maju. Sekarang bahkan PKS mendekati Risma.  Kalau Risma maju, maka Ahok akan mendapat lawan yang seimbang. Sosok Risma ini tidak main-main. Ahok memang sudah berhasil memoles Jakarta dan menunjukkan kinerja yang bagus saat memimpin DKI sepeninggal Jokowi. Namun memiliki banyak hal yang tak dipunyai Ahok.

Kampanye hitam menyangkut SARA akan terjadi di Pilgub DKI, karena efektif dan murah meriah. Risma diuntungkan karena dia orang pribumi dan dia muslim. Kampanye menyasar orang-orang tak berpendidikan dan kaum sumbu pendek yang akan langsung terbakar dengan isu SARA, akan lebih massif, dan terus-menerus demi menyerang dan menjatuhkan Ahok. Bukan tidak mungkin Risma yang akhirnya akan unggul.

Satu karakter Ahok yang bisa disebut kelemahan adalah sifat temperamentalnya. Teman Ahok memang tidak salah bila selalu mendukung apa yang dilakukan Ahok. Namun mereka salah bila mendukung kemarahan dan sikap temperamental Ahok. Bila Ahok menunjukkan sikap temperamentalnya, mestinya Teman Ahok tidak ikut marah, sebaliknya melakukan cooling down dan menjadi penyejuk. Sehingga musuh tidak bertambah. Karena dalam politik mestinya memperbanyak teman, bukan memperbanyak musuh.

Bila Risma akhirnya benar-benar maju, maka nasi menjadi bubur. Masyarakat tinggal menikmati drama politik Ibukota yang heboh di tahun 2017.

(Sumber: Status Facebook Niken Satyawati)

Sunday, August 7, 2016 - 10:00
Kategori Rubrik: