Blessing in Disguise Coronavirus

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Keberuntungan bukan khas milik orang Jawa, atau bangsa Indonesia. Untung sebagai ungkapan rasa syukur khas manusia, manusia yang bisa bersyukur tentu. Dan itu ada di mana-mana. Maka kita kenal idiom; a blessing in disguise. Berkah tersembunyi. Rahmat tak terduga. 

Dalam beberapa hari terakhir, langit Jakarta membiru cerah. Udara terasa ringan (selama ini berat ya?). Menurut seorang teman, Gunung Pangrango bisa kelihatan dari Jakarta. Bener-bener syahdu.

 

Beberapa waktu lalu keliling kawasan Yogyakarta, saya rasakan jalanan yang lega. Lalu-lintas lancar. Tak semrawut. Mestinya begini kota ideal. Orang hanya keluar jika perlu banget. 

Pandemi Coronavirus benar-benar bisa sukses memaksa manusia merenung dan menata ulang. Kita seolah dipaksa retreat. Jauh lebih ampuh dari Nyepi di Bali yang cuma sehari. Meski Bali mungkin akan mengalami permasalahan lebih berat dibanding lainnya. Arus wisatawan turun hingga 95 persen, sebagian besar masyarakatnya bergantung lingkaran ini.

Pandemic Coronasvirus juga “membungkam” agama yang selama ini begitu banyak melakukan claiming. Tentu bukan agamanya, tetapi para penganut agamanya acap melakukan claiming yang kelewatan Lebih sakti dibanding tuhan. Misal menentukan jatah sorga dan neraka, juga berapa jumlah bidadari yang akan menyambut. Temen saya yang lesbi malah muntah. Akibatnya, agama justeru jadi bahan ejekan. Karena mengingkari nilai-nilai welas-asih, toleransi, kesabaran, kesantunan, yang merupakan inti ajaran agama itu. 

Karena kebelet masuk sorga, agama sering dipakai pura-pura tidak takut mati, karena membela Tuhan. Tapi dengan adanya tentara allah itu, ketahuan banyak yang nyalinya kecil. Dema-demo gerombolan 212 istirahat total. Takut terpapar virus. Jika masjid ditutup, bukan hanya di Indonesia, melainkan Arab Saudi pun, yang biasanya dipakai rujukan. Seolah Arab pusatnya Islam. Agama kok pakai pusat, kayak yang jualan carica di Wonosobo. Semuanya pusat. Nggak ada cabang. Cuma Bank yang suka suka buka cabang, bahkan cabang pembantu pula. 

Berbagai kreativitas, “penemuan baru” juga muncul. Di tengah yang buruk, selalu muncul yang baik. Medsos, disamping masih ada yang memakai untuk nyebar hoax dan fitnah, beberapa telah menggunakan untuk mebangun relasi sosial. Ada yang bikin konser musik bersama lewat ponsel. 

Selalu ada kebaikan, yang meski kecil selalu lebih menggetarkan, walau mungkin selalu kalah gaung dengan keburukan yang seolah selalu membubung. Dalam ajakan untuk social dan physical distancing, tingkatkan juga anti-body. Bukan justeru terlena menjadi anti-sosial karena paranoid.

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Monday, April 6, 2020 - 12:15
Kategori Rubrik: