Blacklisting, Kasih dan Keadilan

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Dua hari kemarin kita sibuk membayangkan risiko terbuka kalau menerima pemulangan 600 kombatan ISIS. Sebagian mengacung kisah pengeboman di Surabaya sebagai contoh kasus. Ada yang menyoal beberapa teroris peledak bom yang ternyata bekas lepasan kelompok terorisme luar. Kita gak kuat menerima kemungkinan kalau 600 kombatan itu meledakkan bom di sebelah rumah kita.

Pembayangan seperti itu perlu. Tapi itu tak bisa jadi landasan untuk menolak atau menerima mereka. Kita boleh saja membayangkan kengerian, kenyataan bisa berlangsung berbeda. Jangan-jangan mereka justru betul-betul insyaf dan kelak menjadi barisan terdepan dalam memperjuangkan keragaman Indonesia. Siapa yang tahu?

Maksud saya, betul bahwa mereka berkemungkinan membangunkan sel-sel tidur terorisme di Indonesia. Tapi betul juga untuk membayangkan merekalah yang bakal menyemai benih pluralisme di Nusantara. Keduanya sama-sama berstatus kemungkinan. Keduanya bisa dijadikan bahan untuk memetakan risk analysis. Tapi tak satu pantas untuk jadi dasar penolakan mau pun penerimaan.

Pertimbangan yang harus kita ajukan adalah argumen hukum, bukan pemetaan risiko.

Seperti saya sampaikan dalam dialog singkat dengan Asigor Sitanggang kemarin, saya ragu dalil “bergabung dengan tentara asing” cukup kuat untuk bertahan dari serangan atau tuntutan para pendekar HAM bau pesing.

Imam Samudra atau almarhum teroris lain juga bergabung dengan tentara jihad internasional. Tapi mereka bebas keluar-masuk Indonesia. Kenapa? Gak ada bukti, waktu itu, bahwa mereka penjahat. Pemerintah tak bisa menahan mereka masuk atau melarang mereka ke luar.

ISIS bukan negara. Betul, mereka bertujuan untuk mendirikan negara. Gak ada dalil internasional yang bisa melarang tujuan tersebut. Selama cara yang mereka gunakan berada di koridor hukum, oke-oke saja buat siapa pun untuk bercita-cita mendirikan kekalifahan atau Negara Islam Internasional—bahkan ketika wilayah yang dirancang mencakup satu dunia sekali pun.

Yang jadi soal, ISIS memperjuangkannya dengan cara kekerasan, kejahatan, kebrutalan, dan terorisme. Ribuan perempuan diperkosa. Ratusan kepala dipenggal. Semua pengikut mereka, termasuk 600 kombatan dari Indonesia , meneriakkan takbir ketika kekejaman itu berlangsung. ISIS adalah organisasi kejahatan internasional. Sebagaimana layaknya kita memperlakukan penjahat atau mereka yang mendukung kejahatan, orang-orang tersebut harus ditangkap. Caranya?

Berkali-kali saya katakan, untuk berhadapan dengan soal pelik seperti ini kita harus melakukan blacklisting. Urai siapa itu ISIS dan tujuan jahatnya. Bukti-bukti sudah tersedia bahwa mereka melakukan kebiadaban bahkan memamerkannya secara terbuka melalui rekaman video yang disebar luas.

Nyatakan ISIS sebagai organisasi terlarang dan berbahaya. Anda tak bisa menangkap para anggota ISIS sebelum punya landasan hukum bahwa ISIS adalah organisasi terlarang.

Uraikan juga apa yang disebut sebagai anggota mau pun pendukung. Semua harus jelas dan terukur. Jangan asal bercelanacingkrang lalu kita sebut mereka ISIS. Jangan karena berburqa kita anggap mereka teroris. Jangan ulang kesalahan kita dalam memperlakukan PKI tempo hari.

Selesai? Tuangkan itu ke dalam Perppu. Presiden Joko Widodo harus mengambil inisiatif.

Nah, berdasarkan Perppu tersebut tersedia landasan hukum untuk menangkap mereka ketika mendarat atau tiba di Indonesia. Kita tak bisa melarang mereka masuk. Walau tak lagi punya paspor, bukti-bukti tersedia di tangan mereka bahwa mereka adalah keponakan si Anu di Sidoarjo atau cucu si Anu di Solo, dan lain-lain.

Lakukan itu tanpa pengecualian. Setelah itu, adili mereka. Tetapkan ganjaran berdasarkan derajat keterlibatan. Para anak, mungkin, tak perlu dimasukkan ke dalam kurungan, cukup diwajibkan untuk menjalani program rehabilitasi. Sedikit kejam, memang. Tapi Ric Frederica telah merumuskannya dengan baik. Sila kunjungi wall perempuan Cina pedas ini untuk mempelajari usulannya.

Dengan cara itu keadilan berlangsung dan menyelenggara. Lalu, apakah saya tak punya kasih?

O, ada. Segudang, belum berkurang.

Kirim bantuan berupa makanan, buku-buku bacaan, kepada mereka yang menjalani program rehabilitasi. Kalau perlu kita kunjungi mereka, memberi semangat bahwa tersedia hidup yang lebih baik daripada impian sialan itu.

Bantuan juga kita kirim ke kamp-kamp pengungsian. Saya gak yakin mereka berani pulang kalau ternyata bakal ditangkap.

Kali ini, lakukan dengan benar. Jangan asal nguap. Punyai kejelasan dalam bertindak.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Friday, February 7, 2020 - 12:45
Kategori Rubrik: