Black Hole

Ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Sejak lama program hiburan sebagian besar TV kita rusak berat dan berpotensi merusak mental dan cara pandang masyarakat Indonesia yang sebagian besar tidak punya alternatif lain selain menonton TV gratisan.

Memang ada program yang bagus namun lihat ratingnya. Tidak sebesar kompetisi-kompetisian dan sinetron murahan yang tidak mendidik sama sekali. Ini yang tidak dilihat KPI. Mata mereka buta.

Komunikasi reality show adu nyanyi penuh dengan intimidasi dan gesture pelecehan. Seolah juri yang menentukan nasib kontestan. Bahkan ada dugaan bullyan tersamar sebenarnya merupakan settingan produsernya supaya rame. Ini yang tidak dilihat KPI. Mata mereka buta.

Sinetron lebih parah lagi. Lebih sampah lagi. Jika anda menyaksikan semua sinetron di TV maka Anda yang terheran-heran mengikuti alur cerita yang penuh pelecehan. Anak membentak orang tua. Orang tua mendzolimi anak, saudaranya, pembantunya. Semuanya dibuat hitam putih dan endingnya maaf-maafan. Tidak ada pelajaran yang bisa dipetik dari sinetron sampah itu kecuali kata-kata kebencian yang tertanam di benak pemirsa. Asal tahu saja satu ujaran kebencian akan lebih diingat ketimbang seribu kata bijak.

Coba juga perhatikan di sinetron sampah itu. Mengapa rata-rata di tayangan itu, orang baik pakai jilbab dan berbaju koko berpeci sedangkan yang jahat tidak. Bukankah ini diskriminasi dan pelecehan terselubung?

Ini yang tidak dilihat KPI. Mata mereka buta.

Baru melek ketika ada rok mini sliweran hanya dalam durasi 15 detik. Itupun bukan inisiatif KPI tapi dari laporan masyarakat yang sok moralis.

KPI bungkam dan impoten tidak berdaya akan ujaran dan gesture penuh intimidasi dan kebencian selama 30 menit bahkan berjam-jam. Setiap hari, setiap minggu setiap bulan sepanjang tahun. Di layar TV yang menangguk ratusan milyar lewat tayangan sampah dengan memakai fasilitas publik yakni frekuensi.

Dampak kerusakan mental akibat menonton tayangan sampah justru tidak disorot KPI.

Kenapa? Karena perlu kerja keras. Mikir keras.

Dan KPI tidak mau kerja keras. Hanya bertindak sebagai tong sampah. Mengais sampah kemudian melihat apakah ada sampah yang tersisa sambil melihat apakah banyak orang yang melotot dan meradang.

Oh banyak nih orangnya.. Perlu tindakan nih.. Tulis surat peringatan sambil berkoar soal moralitas.. Dan terkenallah KPI dan berhasil meraih tepuk tangan. Apalagi jika banyak pihak yang juga numpang tenar. KPI dengan senang hati memberikan ruang panggung.

Padahal KPI tahu persoalan moralitas tidak terbatas pada tayangan Black Pink semata. Tapi Black Hole tayangan sampah yang membenamkan nilai-nilai kemanusiaan bangsa ini.

Beginilah jika KPI hanya diisi oleh orang-orang yang setengah hati memikirkan nasib bangsa ini.

Untuk tidak mengatakan mereka sebagai kumpulan orang-orang pemalas.

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Thursday, December 13, 2018 - 10:45
Kategori Rubrik: