Bisnis Itu Dinamis

Oleh: Ditya Sibarani
 

Apa yang terjadi pada Panasonic dan Toshiba adalah murni persaingan bisnis dan itu sangat wajar terjadi. Tidak bisa dikatakan secara tegas bahwa itu indikasi dari kondisi perekonomian apalagi dikaitkan dengan pemerintahan. Yang namanya bisnis akan selalu terkena imbas dari perubahan lingkungan apabila tidak disertai dengan inovasi dan kreatifitas.

Kenyataannya, Toshiba telah menutup 6 pabriknya selama kurun waktu 10 tahun terakhir (tidak termasuk terakhir yg ditutup kemarin). 10 tahun terakhir ya..tahu kan artinya?. Artinya proses runtuhnya Toshiba tidak terjadi secara mendadak dan tiba2, bukan karena siapa presidennya.. siapa sih yang mau usahanya tutup begitu saja?..

Demikian dengan Panasonic Lighting Indonesia (PLI) di Pasuruan, produk lampu panasonic kalah bersaing dengan produk Philips yang sekarang sudah di beli oleh Tiongkok. Setelah di hitung2 ternyata membeli lampu dari Tiongkok jauh lebih murah di bandingkan dengan memproduksi sendiri di Indonesia. Kenapa bisa lebih murah? karena di Tiongkok tersedia semua komponen pembuatan lampu, sedangkan pembuatan di Indonesia masih harus import komponen yg tidak tersedia di Indonesia. Akhirnya PLI memutuskan untuk mengimport lampu dr Tiongkok daripada membuat sendiri.

Di beberapa perusahaan furniture yang saya ketahui, inovasi terjadi dalam bentuk2 furniture. Ada pengusaha furniture yg tidak takut kalau model furniturenya di contek, kenapa? " karena saya tiap 6 bulan selalu ganti model"..

Kasus Toshiba dan Panasonic menjadi pembelajaran bagi kita dan perushaan2 berbasis teknologi, bahwa teknologi itu berkembang sangat sangat cepat dan dinamis. Kalau perusahaan itu lengah untuk berinovasi dan berkreasi ya jangan kaget kalau akan tersingkir..

Wednesday, February 3, 2016 - 19:00
Kategori Rubrik: