Bisnis Dakwah

ilustrasi

Oleh  Ahmad Sarwat, Lc.MA

Tidak ada salahnya kalau seorang ustadz kondang sekalian memanfaatkan ketenarannya untuk membangun bisnis. Ceramah plus bisnis.

Mumpung jamaah yang hadir membeludak. Mumpung lagi viral. Mumpung punya masa. Mumpung trending topik.

Kalau masa segitu banyak cuma dianggurin doang, betapa mubazzirnya. Setidaknya, begitu lah logika berpikir para panitia penyelenggara. Atau lebih kerennya kita sebut para manager dakwah.

Logika sederhana saja, kalau jumlah jamaah membeludak, kan bisa sekalian untuk memungut infaq, sedekah dan zakat yang besar dan instan. Mumpung jumlah jamaah cukup besar.

Selain itu masa yang banyak pastinya butuh jajan dan makan. Maka tidak ada salahnya kalau buka stan makanan. Sekalian juga stan pakaian, buku, souvenir, dan lainnya.

Dengan memanfaatkan potensi jumlah jamaah itu, wajar juga kalau angka pemasukan menjadi ikut besar.

Dan kalau honor buat penceramah jadi besar angkanya, kita bisa mafhum. Apalagi ditambah dengan segala printilannya.

Sebab untuk sekali penampilan, harus membawa serta para kru, yang jumlahnya belasan orang.

Apalagi kalau undangannya keluar kota, luar Jawa atau luar negeri. Maka untuk para pengiring harus juga disiapkan sejumlah tiket pesawat, booking sejumlah kamar hotel, reserve sejumlah restoran, plus belanja oleh-oleh buat mereka semua.

Saya pribadi mungkin masih rada risih melakukannya, kalau untuk diri sendiri. Ada beberapa faktor, diantaranya :

Pertama, karena wajah saya kurang keren.

Kalau foto wajah saya ini dipasang di baliho raksasa di tiap perempatan jalan, resikonya bisa terjadi tabrakan beruntun nanti.

Soale yang lewat situ pasti pada protes sambil misuh-misuh, huh foto siapa sih yang dipasang itu. Emangnya nggak ada foto lain yang lebih keren apa?

Lalu brrrukk....., tiba-tiba mobilnya ditubruk dari belakang.

Kedua, karena saya bukan ustadz kondang.

Yang hadir di pengajian saya jumlahnya cuma sedikit dan pas-pasan saja. Itu pun karena diwajibkan sama pimpinan kantor. Yang gak hadir diabsen, dan yang pasti nggak dapat jatah berkat.

Jadi susah rasanya kalau pengajian saya ini dibisniskan. Boro-boro jualan tiket, masjid bisa penuh sampai shaf kelima pun saya sudah kegee-ran sendiri.

Jadi percuma pengajian saya ini dibisniskan, toh tidak menjanjikan apa-apa.

Kalaupun di luar masjid ada pedagang yang buka stan baju koko misalnya, atau gelar dagangan madu sunnah, jilbab syar'i, atau pijat atau bekam, dijamin juga tidak akan menangguk untung. Sebab pengunjungnya hanya sedikit.

Itupun jamaahnya males belanja. Jadi hanya lewat doang sambil ngelirik dan terus jalan. Tidak ada yang beli dagangannya, bahkan meski sekedar berbasa-basi pura-para nawar.

Ketiga, masalah materi kajian

Materi kajian yang biasa saya sampaikan rata-rata agak kurang cocok untuk jumlah masa yang besar.

Menerangkan skema dan bagan pembagian harta waris dan teknis pembagian yang njelimet kepada ribuan jamaah, jelas tidak tepat.

Atau menjelaskan perbedaan pendapat para ulama 4 mazhab dengan qunut shubuh, lengkap dengan dalil masing-masing.

Kalau ribuan hadirin mendengarkan kajian kayak gitu, bisa-bisa pada merem semua karena mumet sendiri. Atau malah meluruskan kaki sambil mojok nyender di tembok.

Tidak apa-apa juga sih, tapi pahalanya jadi berkurang. Lha kan bagi dua sama tembok.

Satu lagi, yang pasti di majelis taklim itu tidak akan ada pekik takbir, tidak ada orasi, tidak ada sikut sana sikut sini.

Satu-satunya yang diharapkan jamaah adalah : doa penutup.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Sunday, October 13, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: