Birokrat Tak Dijual Di Toko

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Karena birokrat tak dijual di toko, maka sebuah kekuatan politik yang memenangkan Pilkada harus menginstal ulang birokrat yang sudah ada untuk dipersiapkan bisa mengikuti laju kebijakan sang kepala daerah.
Kalau menginstal komputer gampang tinggal beli programnya beres. Tapi instal jiwa manusia yang sudah terlanjur tua dinas dengan kerja korup akan setengah mati. Inilah keluhan para politsi yang hendak bermaksud baik meningkatkan kinerja.

Birokrat sudah satu adonan dengan regulasi yang dibuat baku atur dengan dewan. Dewan dan birokrat saling baku kong kalikong dalam membedah APBD maupun APBN. Sehingga siapa mau kontrol siapa.
Begitupun yudikatif dan penegakan hukum, ikut bermain dalam kolam APBN dan APBD.
Pemodal tinggal bungkus satu kali, berapa pun harganya yang penting dia masih untung. Tujuan bangsa dan negara dalam konstitusi diabaikan. Rakyat tak dihiraukan.

Menurunnya karakter bangsa kita ini seiring dengan karakter korup birokratnya yang nyolongan. Sekarang ditambah lolitisi trsnsaksional. KPU yang menjual demokrasi untuk kepentingan perutnya. Disamping perekrutan KPU juga masih dikendalikan Parpol.

Meski jelas-jelas Pembukaan UUD 45 menegaskan pemilik daulat negeri ini adalah rakyat, namun pemimpin yang sebenarnya hanya wakil saja berlagak seperti penguasa. Seperti seolah dirinya raja, seperti konsep kekuasaan dahulu. Sementara rakyat pun masih belum sadar untuk menggunakan kedaulatannya dengan sebaik-baiknya, rentan dapat serangan fajar.

Demikianlah postur politik kita hari ini. Kekuasaan sibuk dengan kekuasaannya. Rakyat mencari solusinya sendiri. Hanya dijadikan objek politik musiman lima tahun sekali.

Katanya kita harus punya gerakan revolusi Pancasila dalam membangun karakter bangsa. Karakter inilah yang akan dipakai di birokrasi, politisi, alat dan aparat negara, TNI/Polri, dan seluruh progesi pelayanan dan kebaktian di masyarakat. Kalau pemerintahnya sudah baik rakyat kita otomatis akan meniru. Karena birokrasi tak bisa beli di toko.

Dul Kampret : Ketika semua kembali pada manusianya. Siapa bisa membangun karakter bangsa ?

Kang Mat : Dimulai dari kebangkitan jiwa perorangan, menuju sebuah Nation Carachter, Karakter Bangsa. Karaktet kita sekarang, Bangsa Latah.

Sumber : Status facebook Abdul Munib

Tuesday, July 14, 2020 - 11:00
Kategori Rubrik: