Bingung dan Linglung (Mati Ketawa Ala Gabener)

Ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Tadinya kita menduga gabener dan wagabener ini demam panggung. Kikuk begitu sorotan jutaan orang bikin mata mereka silau hingga jalannya nabrak-nabrak. Tapi sudah hampir sebulan berjalan, kayaknya bukan. Mereka naik tanpa program solid yang menggebrak pada kesempatan pertama. Mereka berjalan sesuai dengan kata pembisiknya yang ternyata amatiran dan gagal memberikan peluru jitu pada hari-hari pertama menjabat.

Karena bisikannya kurang mantep, maka gabener dan wagabener kesandung-sandung langkahnya. Tadinya kita tepuk tangan karena bisa menutup Alexis . Harapannya sarang maksiat itu langsung disegel kayak Stadium dan Miles. Tapi sekarang ketahuan, Alexis gak bakal ditutup. Kenapa ? Karena cuma izin hotel sama pijetnya yang tidak diperpanjang. Bar, Karaoke, Live Music dan Restoran di dalam Alexis gak dicabut tuh,,, Jadi Alexis kabarnya masih beroperasi sampai kini.. malahan sekarang dikasih kesempatan hidup dan kata wagabener bakal dikasih izin lagi kalo tobat apalagi jadi hotel syariah.

Abis itu gabener bilang gak sudi terima uang haram. Nah, masih ribuan tempat yang dapet duit gak halal kok masih dibiarin idup. Itu perusahaan bir kapan dilepas sahamnya? Gabener dan wagabener cuma ngeles sana sini karena kepalanya pasti penuh dengan kejengkelan di salah-salahin terus.

Gak heran kalau Balaikota dibuat kayak ruang gelap. Informasi dibatasi. Gabener dan wagabener takut dibully terus kalo rapat-rapatnya di broadcast atau ditaruh di Youtube. Kenapa? Karena program-programnya mentah semua . Abis itu karena gak bisa mikir, maka dia suruh bawahannya mikir. Diketawaian lagi. Diledekin lagi.

Kata pakar, cara berkomunikasi menunjukkan suasana psikologis yang bersangkutan. Jelas dari celotehannya, dua orang ini bingung dan miskin data. Dia sok tahu ketika bilang amdal, padahal semuanya ada amdal. Dia bilang rumah lapis gak tahunya rumah susun. Diledekin lagi. Diketawain lagi.

Terus wagabener juga linglung dan ngaco. Lihat komentarnya soal kemacetan gaya Vicky yang kita gak ngerti artinya apa. Atau dia bilang kemacetan di Tanah Abang karena banyak orang jalan bukan PKLnya. Yang bikin kita terpaksa harus ngata-ngatain dia lagi adalah preman diajak rundingan soal Tenabang. Ini gimana? Kenapa bukan polisi yang diajak rundingan. Yang namanya preman itu penjahat. Titik. Kenapa diakomodasi?

Tapi ya gitulah omongan orang bingung dan linglung. Dia bilang ada 2 juta orang Jakarta stress padahal yang justru dua orang ini yang kayaknya perlu bantuan psikiater. Tapi mana mau? Mereka sombong dan terus jalan cari cara raih simpati publik. Contohnya larangan motor lewat sekitaran Istana dan Monas. Padahal seupil aja itu tempat. Tapi katanya, ribuan UKM dirugikan karena larangan tersebut. Datanya mana sih ? Mereka selama ini bisa menyesuaikan kok.

Gabener itu asal ember dan gak sadar bahwa larangan itu punya dimensi keamanan. Kan dah udah tau daerah yang dilarangnya itu pusat demo. Aturan itu dibuat supaya pendemo jalan kaki dan gak pake motor di Monas atau di Istana. Kalau aturan itu dicabut, ya udah deh para pendemo jejelin itu area dengan motor. Inikah yang diinginkan gabener ?

Kita gak tau. Yang jelas gabener ini makin hari makin kehilangan pamor padahal masih ada ratusan palang yang harus dilalui. Salah satu palang besarnya adalah reklamasi. Kita lihat apa dia mampu mengatasinya meski dengan perasaan miris dan bilang, jangan salah lagi kek.. jangan dodol lagi kek.. . Supaya kita gak ketawa terus dan bilang sama gabener..

Nah itu baru bener…

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Friday, November 10, 2017 - 17:30
Kategori Rubrik: