Bincang Bersama Habib Quraish Shihab: Habib atau Kekasih : 'Yang Mengasihi' dan 'Yang Dikasihi'

Oleh : Wahyu Salvana

Alhamdulillah, Sabtu (24 Desember 2016) sore kemarin, kerawuhan Prof. Dr. KH. Quraish Shihab sekeluarga (anak, mantu, cucu), dan beberapa santri beliau.

Sungguh, kehadiran beliau membuat 'rasa' senang ini tak bisa digambarkan. Saat beliau hendak turun dari mobil, aku mencegatnya, dengan langsung mencium tangan lembut itu. Saat kuulurkan kembali tanganku, bermaksud menggandeng untuk turun dari mobil, beliau ngendikan;

"Oo, tidak usah repot-repot, saya masih bisa turun sendiri!"

Lalu, aku pun mundur dua langkah, memberi ruang untuk beliau turun dari mobil. Beliau turun dari mobil dengan menggunakan tongkat,berjalan pelan menuju kediaman kami. Aku berjalan di samping beliau.

Mas Iben (Ektada Bennabi Muhammad) keponakanku, 'anak mbarep'nya Mbak Ienas Tsuroiya begitu tampak sumringah, saat melihat rombongan Habib Quraish Shihab tiba. Karena dialah yang pertama menunggu di teras rumah.

Mba Ienas pun tampak sumringah pula menyambut kedatangan host #MataNajwa, mba Najwa Shihab.

Sementara, Abah Ahmad Mustofa Bisri memeluk erat Habib Quraish Shihab, dan lantas menggandeng beliau.

Kami semua yang di rumah, sungguh-sungguh sangat bahagia mendapat kunjungan dari seorang 'alim, dan 'ahli Qur'an' di abad ini

Lalu, Abah Ahmad Mustofa Bisri mempersilahkan Habib Quraish Shihab duduk di kursi yang telah kami siapkan. Ada tiga buah kursi, dan satu meja.

"Maaf, saya tidak biasa dan tidak punya kursi. Jadi saya pinjam tetangga, biar Om Quraish betah dan nyaman di sini!"

(Ketika sama-sama tinggal di Mesir dulu, Abah memanggilnya Om Quraish).

Kami yang mendengarnya pun tertawa, termasuk Habib Quraish. Setelah beliau duduk, Abah langsung 'ndeprok' di sebelah kiri beliau. Habib Quraish lalu mempersilahkan Abah duduk di kursi di sebelah kirinya. Selama duduk bersebelahan, Abah pun terus memegang tangan beliau. Sungguh, pemandangan dan pelajaran yang luarbiasa dari orang yang luarbiasa.

 

Seisi rumah, bergantian bersalaman, tanpa terkecuali. Tentunya mengharap doa sekaligus berkah dari seorang 'hamilul Quran' yang sungguh 'alim ini.

"Ini, saya bawa isteri, anak, menantu, cucu, dan beberapa santri. Itu cucu saya yang baru pulang dari Amerika, dia masih kuliah di sana!"

Sambil menunjuk ke arah cucunya yang kuliah di daerah Walawala, di salahsatu negara bagian Amerika Serikat.

"Keempat cucuku, memanggilku habib. Baru, cucu yang ke lima, memanggilku kakek"

Mendengar itu, tiba-tiba Abah menunjuk ke arah Billy (Ektada Bilhadi Muhammad), anak keduanya Mbak Ienas Tsuroiya.

"Bil, kamu tahu nggak, apa artinya Habib?"

Billy yang -memang- pemalu, hanya tersenyum.

"Habib itu artinya kekasih!". Abah langsung memberi jawaban.

Habib Quraish Shihab lantas menambahi;

"Ya, kekasih. Habib atau kekasih itu adalah; 'yang mengasihi' dan 'yang dikasihi'. Jadi, Anda semua bisa jadi habib, asal bisa mengasihi dan dikasihi. Nah, kalau sekarang, sudah jarang yang mau mengasihi, maunya dikasihi. Kalau yang demikian ya bukan habib namanya!" ** (bersambung)

Sumber : facebook Wahyu Salvana

 

Monday, January 23, 2017 - 08:45
Kategori Rubrik: