Bila Ilmu Disikapi dengan Iman

 
Oleh: Sumanto Al Qurtuby
Dari waktu ke waktu saya perhatikan orang-orang yang hobi memaki-maki dan mengkafir-sesatkan saya karena sejumlah tulisanku di buku, artikel jurnal, kolom media, atau postingan Facebook karena mereka menyikapi keilmuan dengan keimanan. Oleh karena itu sering kali tidak nyambung dan bawaannya marah-marah melulu dan akhirnya menuduh sana-sini, menghakimi ini-itu.
 
Kritik atas wacana keagamaan dianggap menghina agama. Menyajikan fakta empiris dinilai melecehkan dogma. Mendiskusikan sejarah dan tradisi keagamaan dipandang melawan kehendak Tuhan. Mengkritik pandangan dan tindakan sejumlah kelompok ekstremis Muslim dituduh menghina Islam. Menjelaskan tentang keragaman tafsir teks-teks keislaman dituduh "kesurupan" ideologi sekuler Barat. Menghadirkan fakta-fakta sejarah harmoni Muslim-non-Muslim dinilai mengada-ada. Ngomong tentang penyerapan Islam terhadap tradisi dan kebudayaan non-Muslim dituduh menghina Nabi Muhammad. Menulis tentang toleransi dan pluralisme agama dianggap "agen remason" (eh salah, freemasonry) dan antek "Wahyudi-Mamarika" (baca, Yahudi-Amerika). Begitu seterusnya.
Itulah dampak dari umat beragama yang "terlalu beriman" tetapi "kurang berilmu". Padahal dalam Islam, ada segunung ayat, hadis, dan teks-teks keislaman serta praktek kenabian yang menjelaskan tentang pentingnya mengoptimalkan akal-pikiran untuk menyikapi problem kemanusiaan, perkembangan zaman, dan menyingkap aneka misteri atau tabir alam ciptaan Tuhan yang luar biasa ini. Karena akal dan pengetahuanlah, dulu umat Islam mampu menjadi "kampium dunia" dalam hal keilmuan, peradaban, dan kebudayaan.
Jauh sebelum munculnya sarjana-sarjana beken Barat, Islam telah melahirkan para ilmuwan hebat yang karya-karyanya bisa kita saksikan hingga dewasa ini.
Berpikir memang sulit (apalagi berpikir secara kritis dan akademik) karena itu banyak orang lebih suka mengkafirkan, mengfitnah, menuduh, menghakimi, dan menyumpahserapahi orang lain. Jika Anda menemui orang-orang yang hobinya seperti ini, maka bisa dipastikan mereka bukan dari golongan orang-orang yang berfikir. Yuk, mari kita perbanyak berfikir, jangan cuma "berzikir," supaya bisa memahami dan menikmati segala ciptaan dan anugerah Tuhan. Sayang kan sudah dikaruniai otak oleh Tuhan kok gak pernah dipakai, mubazir atuh.
(Sumber: Facebook Sumanto Al Qurtuby)
Friday, July 10, 2020 - 20:45
Kategori Rubrik: