Bila Bertemu Penyebar Hatespeech Di Dunia Nyata

ilustrasi

Oleh : Damar Wicaksono

Bagaimana rasanya saat bertemu dengan penyebar hate speech dan atau hoaks di dunia nyata?

Jika ia relasi kerja, hal tersebut pasti akan menjadi bahasan serius. Bahkan bisa jadi hubungan kerja akan berakhir saat kedua pihak sama2 mengklaim kebenaran. Dan tentu menimbulkan luka mendalam sangat lama. Itu kenapa sebagian orang enggan berteman dengan relasi kerja di medsos.

Tp tidak berteman tidak membuat jejak dijital Anda trsembunyi. Saya mengalami sendiri saat bersama mitra saya batal menerima seorang ahli, karena saat kami iseng browsing tentangnya, kami menemukan ia adalah pendukung ideologi "itu". Dan kerap menyebar hate speech ttg pemerintah, bahkan sejak zaman SBY 

Bagaimana jika si penyebar hoaks adalah kawan atau sahabat atau bahkan guru Anda? Senior, sepantar maupun junior?

Kalo saya, tentu ada rasa canggung saat brtemu langsung. Apalagi jika kita tau bahwa ia bahkan adalah mastermind atau otak di balik layar dari sebuah hoaks politik. Rasanya pengen "mencubitnya", tapi tak bisa. Tapi memang saat ini relatif lebih lepas sikonnya saat bisa lebih bebas mengkritik si penebar hate speech dan hoaks.

Kadang Anda harus berani mengambil resiko dengan resiko terburuk adalah tidak disukai oleh lingkaran yang tenyata lebih memihak si penyebar hoaks. Bahkan jika kemudian itu membuat Anda dituduh macem2 atau diblokir di medsos. Trutama saat hoaksnya adalah dalam politik. Hal ini trjadi karena preferensi dan "ketakutan berbeda" lebih mendominasi 

Yang saya angkat tangan adalah jika mendapati si penebar hate speech atau hoaks adalah lingkaran keluarga. Menjaprinya adalah pilihan tepat. Tapi saat sudah keterlaluan, saya memilih pasrah dan mendoakannya 

Beruntung..
Dalam keluarga inti saya dan keluarga besar, tak ada banyak perbedaan dalam preferensi politik. Frase "tak ada banyak" adalah berarti yang berbeda Tak berani bersuara kencang.. hhe

Saya corat coret ini karena kemaren saya dikirimi dua skrinsyut dari temen2 ttg 2 sosok (satunya guru SMA dan satunya lagi senior kuliah) yang msh memblokir saya, karena dulu sempat saya counter hoaks2nya. Tapi kemudian dari skrinsyut2 itu membuktikan mereka masih tidak kapok. 
Bahkan murid2nya (kawan2 saya) ikut mencercanya
Juga yang senior kuliah, mati kutu karena postingan hoaks trakhirnya dikomen oleh puluhan orang.

Kebencian yang sudah mendalam..
Itu kuncinya..
Niscaya itu menjadi sebuah penyakit

PERBEDAANNYA.. (dibanding masa kampanye politik 2014 misalnya..)
Makin banyak orang berani bersuara dan menjadi "berbeda". Tak takut berbeda sendiri di tengah komunitasnya

Itu juga yang menjelaskan begitu banyaknya acara deklarasi dari kalangan intelektual di masa kampanye pilpres ini.

Semua muak dengan hoaks yang masih saja merajalela

Walopun harus diakui, isu sentimen SARA menurun karena ada KMA di kubu Jokowi

Akhirul kata..
Dalam pilpres ini, saya masih berharap bahwa pengorbanan kawan2 yang berjuang melawan hate speech dan hoaks tidak sia2..

Kita berharap terpilih pemimpin yang mengayomi dan menyejahterakan tapi tidak menebar angin surga. Dia bicara apa adanya, bukan untuk melindungi kepentingan pribadinya saja

Sumber : Status Facebook Damar Wicaksono

Monday, February 25, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: