Bicara Islam dan Ekstrimisme dengan Berdebar dan Tergopoh

ilustrasi

Oleh : Hussein Muhammad:

Setahun lalu aku bicara dalam forum Asia-Pacific tentang Agama dan Perdamaian Dunia. Diselenggarakan di Erasmus Huise, Jakarta.
Di samping aku ada : Prof. Roel van der Veen (Belanda), H.E. Dr. Vincent Piket (European Union), Mr. Michel Cottier (Switzerland) dan Ms. Anita Nirody (United Nation).
Sesungguhnya pikiranku kacau balau. Bagaimana tidak?. Aku didaulat ketua penyelenggara bicara dalam sesi/Acara pembukaan.

Selain itu aku satu-satunya pembicara dan peserta yang tidak bisa bahasa Inggris, hanya bisa baca dengan mengeja. Untung ada penerjemah yang pintar dan memahami serta mengenal dg baik perspektif dan pikiran-pikiranku. Maka aku "nekad" tampil dengan durasi waktu yang sangat terbatas : 10 menit. Nah, sudah pasti aku bicara tergopoh-gopoh.

Pada kesempatan itu aku bicara soal : "Islam dan Ekstrimisme Kekerasan".
Aku bilang begini :

Hari ini dunia sedang dihadapkan pada problem besar relasi antar komunitas manusia yang mengancam dan berpotensi menghancurkan masa depan kemanusiaan. Problem kemanusiaan itu adalah muncul dan berkembangnya gerakan radikalisme, ekstrimisme kekerasan dan hate speech yang dilakukan atas nama agama.

Gerakan itu kini telah memasuki hampir segala ruang sosial, politik dan pendidikan dari tingkat dasar sampai tinggi. Bahkan juga lembaga-lembaga negara. Dan banyak peristiwa kekerasan, penganiayaan dan pembunuhan terjadi di sejumlah tempat di negara ini.

Berbagai institusi negara, agama dan adat mengutuk keras aksi-aksi radikalisme, ekstrimisme kekerasan dan semua bentuk idiologi dan gerakan anti kemanusiaan itu. Dalam waktu yang sama berusaha keras mencari cara menangkal dan menghentikannya melalui berbagai cara yang mungkin berdasarkan konstitusi dan hukum.
Agama apapun dan etika kemanusiaan tak pernah membenarkan indakan dan aksi-aksi anti kemanusiaan tersebut.

Menarik sekali bahwa situasi tersebut menjadi problem krusial di berbagai negara di dunia dan sedang dicarikan pemecahannya.

Dalam situasi seperti ini saya terpaku pada pandangan Ali bin Abi Thalib. Katanya:

حين يسكت اهل الحق عن الباطل توهم اهل الباطل انهم على حق.

"Manakala orang-orang yang baik berdiam diri atas suatu kejahatan, maka para pelaku kejahatan mengira tindakan mereka adalah benar dan baik".

Dan Martin Luther King Jr, yang menghentak kesadaran :

علينا ان نتعلم العيش معا كاخوة
او الفناء معا كاغبياء

"Kita harus belajar hidup bersama sebagai saudara, atau kita binasa bersama sebagai orang-orang dungu".

Pertanyaan utama kita adalah
1. Mengapa ada radikalisme dan ekstrimisme kekerasan?.
2. Bagaimana Islam melihat realitas yang mencemaskan ini ?.
3. Bagaimana konsep Islam mengatasinya?.

Lalu aku bicara sedikit panjang menyampaikan gagasan-gagasan Kemanusiaan Islam dengan fokus pada "Moderatisme" dan "Kesalingan/Resiprocity". Dst. Dst.

Sumber : Status Facebook Hussein Muhammad

Wednesday, December 2, 2020 - 08:30
Kategori Rubrik: