Bibit Teroris Di Surabaya

Ilustrasi
Oleh : Mohammad Bahrudin (Kandidat Doktor Ilkom Fisip UI)
 
Bibit-bibit radikalis sebenarnya sudah sangat tampak di sekitar kita. Bahkan sudah lama. Di kampus, masjid, kos, kontrakan, dan lain-lain. Saat menjadi mahasiswa S1, saya sudah 3x diajak bergabung dengan kelompok-kelompok yang mengaku paling agamis, paling Islam, paling tahu jalan surga. Bahkan sekali saya dihipnotis di sebuah rumah kontrakan. Beruntung, Allah masih menolong saya. Aksi hipnotis tak berjalan sesuai dengan harapan..
 
Seorang teman kos nyaris tiap hari didatangi, dirayu, dan dirajuk untuk ikut kelompok mereka atas nama "kajian". Dia gamang, antara tertarik tapi juga khawatir. Bersama saya, akhirnya kami bendung dengan berbalik "menceramahi" mereka.
 
Nyaris sama dengan kejadian yang terjadi pada saya dan kakak saya, sebelum kuliah.  Sang marketing agama itu tiap hari ke rumah saya. Iming-iming surga dan semangat membela agama selalu disulut untuk membakar kami yang saat itu sedang getol ngurusi remaja-remaja masjid dikampung kami. 
 
Mereka berusaha menyusup dengan dalih dan dalil yang dianggap paling benar. Seolah saat itu Islam dalam keadaan terjepit sehingga harus diselamatkan dari kaum kafir, munafik, dan dibawah rezim yang dzalim.
Beruntung kami lebih dulu dijejali dengan dalil-dalil agama Islam yang mengedapankan cinta damai oleh bapak saya dan guru-guru saya sehingga apa yang disampaikan kaum radikalis itu selalu bertentangan dengan hati nurani kami. Kami secara tegas menolak dan memberikan ultimatum untuk tidak datang lagi ke rumah kami.
 
Masih tentang kaum radikalis. Sungguh sulit saya menyebut mereka adalah orang yg beragama, apalagi agama Islam.  
 
Seorang saudara keponakan tiba-tiba sangat rajin "mengaji" di kawasan Surabaya hingga larut malam, sekitar 15 tahun lalu. Ibu bapaknya kerap menangis karena tiap hari dia mengumpat negara-negara kafir di televisi. Kedua orangtuanya takut dg perubahan drastis anaknya.
 
Suatu ketika dia bercerita, sang ustadz menawarkan jihad di negeri Afganistan. Respon para peserta kajian, yang sebagian besar dari para mahasiswa di Surabaya, saling berebut untuk ikut dan segera mendaftar. Tentu saja sebagian disiapkan jadi "pengantin" untuk masuk surga.
 
Saya bertanya, 
"Kenapa kamu tidak ikut?"
"Belum siap," jawabnya
"Koq belum siap? Udah, ikut aja. Katanya dijamin masuk surga?" tanya saya retoris.
Dia diam. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Saya mulai bercerita ttg pengalaman saya saat dihipnotis, diajak kajian, hingga saya jelaskan paham-paham radikal yang menggejala di Indonesia, termasuk di Surabaya. 
 
Syukurlah sejak saat itu dia berhenti mengikuti kajian-kajian yang berisi kebencian dan kebencian. 
 
Yang merepotkan, bibit teroris itu saat ini semakin masuk dan mulai banyak diterima masyarakat. Korbannya adalah orang-orang baru mempelajari Islam atau orang-orang yang baru menginjak Indonesia karena lama di negeri seberang. Mereka sangat mudah dijebak. Tanpa harus dihipnotis, mereka dengan sukarela masuk dalam ajarannya dan dengan senang hati merayakan di medsos-medsos. Apalagi paham radikalis semakin berpolarisasi ke dalam sub-sub kelompok, sub-sub kajian, sub-sub agama, sub-sub budaya, dan sub-sub politik.
 
Yang menjadi dilematis adalah ketika aparatur negara (dengan pendampingan MUI) mengatur ajaran-ajaran agar tak bertentangan dengan konsensus NKRI, Pancasila, dan UUD 1945, justru dianggap mengkriminalisasi ulama. Yang memprihatinkan, ini diamini oleh sebagian masyarakat dan dikomodifikasi sebagian para politikus.
 
Semoga Surabaya yang damai akan terus damai. Toleransi akan terus dijaga. Turut berduka cita sedalam-dalamnya bagi saudara yang menjadi korban keberingasan teroris. Save Surabaya!
 
Sumber : group Whatsapp
Monday, May 14, 2018 - 17:30
Kategori Rubrik: