Biaya Pengurusan STNK, BPKB Indonesia Rendah di Bandingkan Negara Lain

Oleh : Adrian Kaifan

Judul suatu berita adalah cerminan isi berita tsb dan biasa dibuat sekalian utk menarik perhatian orang yang membacanya. Judul selalu tidak detail, dan bisa mengambil sekitar 1% saja dari info bacaan keseluruhan. Ketika si 'pintar' hanya membaca judul dan mengambil kesimpulan hanya dari judul, maka fitnah pun tersebar. Masih blum cukup kah koleksi perbuatan penghapus pahala mu???

Screenshot spt di bawah ini saat ini sdg marak di-share ke sana ke mari, ditertawakan, dan dicerca, seolah2 yg nge-share dan mencerca sudah sangat tau isi berita hanya dari judul. Padahal, dalam kegiatan metacognitive reading, mendapat gambaran dari suatu JUDUL tulisan hanyalah permulaan dari membaca secara baik, bukan malah jadi kesimpulan setelah membaca judulnya saja, ehemm.. grin emoticon
_______
1. Kenaikan biaya penerbitan STNK & BPKB memang BUKAN dari Polri. Artinya, bukan keinginan Polri semata-mata. Akan tetapi berangkat dari temuan BPK yg kebetulan mengaudit Polri, bhw harga material untuk STNK dan BPKB sudah naik dan sejak 6 tahun lalu belum ada kenaikan. Lebih lanjut BPK menemukan: bila dibandingkan negara lain, kenaikan biaya pengurusan STNK dan BPKB ini masih terbilang rendah, sehingga perlu dinaikkan karena daya beli masyarakat juga meningkat, pada akhirnya bisa menambah penghasilan negara. Untuk yg ini clear-kan? smile emoticon

2. Untuk menghitung berapa besar BILANGAN rupiah yg harus ditambahkan pada tiap penerbitan STNK & BPKB hasil temuan BPK yg mengaudit Polri, Polri meminta Kemenkeu utk menghitungnya, shg jadi bilangan yg wajar dg variabel bebas: inflasi, peningkatan pelayanan penerbitan, 6 tahun mati suri, dan daya beli rakyat naik (jumlah kendaraan bermotor tiap tahunnya meningkat kepemilikannya). Jadi, kenaikan tarif penerbitan STNK & BPKB ini adalah juga bukan origin nya dari Kemenkeu. Kemenkeu lebih lanjut memberikan justifikasi bhw penyesuaian tarif wajar dilakukan oleh Kementerian dan Lembaga (K/L) dalam periode waktu tertentu.

3. Akhirnya, dari koordinasi K/L ini dan rapat dg Presiden, di-deal-kanlah dan diundangkanlah dalam PP 60/2016 yg diteken Presiden pada 6 Des 2016 serta mulai berlaku sebulan kemudian (hari ini).

4. Karena ini policy sangat non populis, pada rapat Kabinet Terbatas di Bogor tgl 4 Jan 2017, Presiden mengingatkan kembali ttg itung2an dan justek kenaikan tarif tsb ke Kemenkeu sebelum diterbitkan, dan BUKAN mau membatalkan kenaikan. Menkeu sbg otoritas yg ngitung2 memberi keterangan itung2an tsb adalah sudah benar dan justek: ikut trend inflasi, peningkatan pelayanan, 6 tahun tarif STNK & BPKB mengalami dormansi, tiap bulan puluhan ribu kendaraan baru mampu dibeli rakyat (daya beli meningkat), dan kebutuhan addendum biaya negara utk membangun infrstruktur rakyat.

5. Kemudian baru datang DPR ribut2 nanya2: 'Hey kamu, udah betul blom ngitungnya? Gua wakil rakyat lohhhhhhggqqhhggddpp!!! (sampe keselak lidah sendiri dianya)' You know lah DPR kita, klo ada duit dikutip dari rakyat utk rakyat mereka mendadak hati2, giliran ada duit dikutip dari rakyat utk dompet mereka utk kepentingan personal mereka, mereka ngotot nge-klaim ke beban kerja yg makin gede (dosanya). Yup, dalam hal tanya2 ini, DPR menggunakan hak interpelasi nya.. smile emoticon

Sudah paham kira2? Tak ada yg lempar tanggung jawab. Nah, budayakan baca paripurna, bukan malah dari judul udah cukup jadi kesimpulan, jangan jadi manusia berpikiran sempit!**

Sumber : Facebook Adrian Kaifan

Friday, January 6, 2017 - 20:30
Kategori Rubrik: