Biaya Logistik Turun, Kala Bandara dikembangkan

Oleh : Ahkmad Sujadi

Luasnya wilayah Nusantara dengan ribuan pulau menjadikan Indonesia termasuk negara besar di dunia. Jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 254 juta jiwa juga menjadi ciri khas negara besar. Luas wilayah Indonesia dari Sabang hingga Merauke membentang lebih dari 13 ribu pulau termasuk lima Pulau; Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulwesi dan Papua merupakan pulau terbesar. Disusul pulau-pulau besar seperti Halmahera, Nusatenggara, Bali, dan lainnya. Disamping ada pulau terbesar, pulau besar, masih terdapat ribuan pulau kecil di tanah air, baik yang berpenghuni maupun tidak ditempati.

Salah satu permasalahan di negeri ini adalah tidak meratanya penyebaran penduduk di seluruh wilayah. Penduduk Indonesia lebih dominan menempati Jawa, Sumatera, sebagian Sulawesi, Bali. Jawa merupakan pulau dengan penduduk terpadat. Kemudian disusul Pulau Bali, Sumatera, dan Madura. Sedangkan penduduk di Sulawesi, Kalimantan serta Papua dan pulau-pulau lainnya yang masih sangat jarang penduduknya.

 Ketimpangan penyebaran penduduk dipicu beberapa hal, terutama ketersediaan infrastruktur jalan, listrik, telekomunikasi, kesehatan, pendidikan. Pusat pendidikan dan berbagai kemudahan dalam berkativitas sehari-hari masih menumpuk di Jawa. Penduduk di Jawa begitu mudah memilih kendaraan, memilih operator telepon, milih rumah sakit dan beralangganan listrik, di Jawa semua tersedia. Sementara di Indonesia Timur, jalan belum mencukupi, mau telpon, internetan sinyal lebih sering hilang dan hanya satu operator seluler.

 Keberadaan infrastruktur sangat penting untuk mendorong kemudahan manusia untuk bergerak, berkomunikasi dan berbagai kemudahan yang diinginkan seiring perkembangan teknologi informasi yang bergerak demikian cepat. Sementara di Papua jalan darat tidak tersedia cukup. Rel kereta apalagi, masih sangat jauh tertinggal.

Ketertinggalan infrastruktur menimbulkan kesulitan ekonomi karena hasil pertanian, hasil perkebunan tak dapat dijual karena terkendala transportasi. Karean kondisi infrastruktur yang tidak tersedia, maka distribusi logistik dari daerah pelabuahn ke pedalaman menggunakan pesawat udara. Kita semua tahu, pesawat udara memiliki keterbatasan daya angkut. Sehingga harga semen di Wamena mencapai Rp 800.000,- per zak, sementara di Jawa berkisar Rp 70 ribu. Ketimpangan ini sedang diatasi pemerintah dengan berbagai upaya.

Yang sangat lucu keberadaan pabrik, semua numpuk di Jawa, khusunya di sekitar Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hasil industri ini dibutuhkan di luar Jawa untuk menggerakan pembangunan. Karena pabrik terkonsentrasi di Jawa, hal ini mendorong urbanisasi tidak hanya dari desa-desa di Jawa ke Kota, namun terjadi transmigrasi penduduk dari luar Pulau Jawa ke Jawa. Jakarta sebagai Ibu Kota Negera memiliki magnet bagi penduduk luar Jawa untuk mencari nafkah , tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Hal ini harus dicegah dengan pembangunan infrastruktur di luar Jawa.

Syukur Alhamdulillah, kebijakan pemerintah dibawah Presiden Jokowi pro luar Jawa. Pembangunan kereta api Trans Sumatera telah dimulai di Dumai, Provinsi Riau. Kemudian dari Binjai ke Besitang mulai dibangun kembali. Binjai-Besitang merupakan cikal bakal pembangunan kembali kereta api Medan-Aceh. Targetnya pada 2018 mendatang rel Trans Sumatera telah tersambung dari Banda Aceh hingga panjang di Bakahuni, Lampung. Kemudian jalan Tol Trans Sumatera sudah diawali dan akan terus bergerak agar jalan Tol Trans Sumatera tersambung di seluruh Sumatera. Infrastruktur jalan, kereta api dan listrik menjadi pemicu sektor industri di semua lini. Dengan demikian pergerakan ekonomi akan merata di seluruh negeri.

Kementerian Perhubungan dan PUPera, merupakan dua kementerian terdepan dalam penyiapan infrastruktur jalan, kereta api dan Bandara. Saat ini Kementerian Perhubungan mengelola sekitar 121 Bandara. BUMN Angkasa Pura I mengelola 13 Bandara di wilayah Indonesia Timur. Sementara BUMN Angkasa Pura II mengelola 13 Bandara di wilayah barat Indonesia. Selain dikelola Kemenhub dan BUMN ada beberapa Bandara dikelola oleh Pemda. Bandara yang dikelola BUMN umumnya Bandara besar dan memiliki nilai komersial. Contohnya Bandara Soekarno Hatta, di Jakarta, Kualanamu di Medan. Juanda, Surabaya dan Ngurahrai di Bali.

Sedangkan 121 Bandara dan beberapa Bandaara yang dikelola Kementerian Perhubungan dan Pemda, umumnya Bandara kecil, di luar Jawa, pengguna pesawatnya sedikit, dan umumnya pula landasan pacunya pendek. Sehingga hanya pesawat berbadan kecil yang bisa singgah. Karena pesawatnya kecil, maka tarif penerbangan ke Bandara ini juga mahal. Kondisi Bandara kecil-kecil ini sedang dibenahi oleh Kementerian Perhubungan. Landasan pacu diperpanjang, wajah terminal dipoles lebih modern, bersih, aman dan nyaman.

 Sejak Kementerian Perhubungan dipimpin Ignasisu Jonan, wajah Bandara di Indoenesia Timurdan juga di Aceh tak kalah penampilan dengan wajah Bandara yang dikelola BUMN. Bandara Wamena di Pegunungan Jayawijaya, Papua merupakan salah satu Bandara terbersih, di Indonesia Timur. Jonan sedang membangun image, pelayanan pemerintah tidak selalu buruk. Kementerian Perhubungan sebagai regulator dan sebagai pengelola Bandara non komersial juga dapat tampil menawan melayani rakyatnya. Penampilan wajah Bandara, perpanjangan landasan pacu dan penampilan SDM di belakangnya kini memacu pembangunan di luar Jawa.

Perpanjangan landasan pacu dimaksudkan untuk mendorong dunia penerbangan mengganti pesawat berbadan kecil dengan pesawat berbadan lebar dengan kapasitas angkut lebih besar. Kalau sebelumnya beberapa Bandara hanya mamapu disinggahi pesawat jenis Fokker dan ATR, ke depan semua Bandara di luar Jawa akan dapat disinggahi pesawat berbadan besar sekelas Boing, Airbus. Sehingga kapasitas angkutnya meningkat dan operator dapat menurunkan tarif lebih murah.

Makin murahnya tarif pesawat akan mendrong orang untuk bepergian, mengunjungi obyek wisata yang selama ini terkesan mahal karena tarif pesawat ke daerah timur tergolong mahal. Kunjungan wisata ke daerah timur dan akan meningkatkan perekonomian. Salah satunya pembangunan Bandara di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, akan mendorong kunjungan ke wisatawan ke Pulau Komodo dan obyek wisata pantai serta bawah laut yang menawan.

Tidak hanya untuk pengembangan pariwisata saja, pengembangan Bandara juga akan mendorong distribusi logistik. Untuk disitribuasi logistik ke wilayah pedalaman Papua misalnya, semula menggunakan pesawat berbadan kecil, ke depan dapat ditingkatkan dengan pesawat jenis twin otter atau caravan, sehingga daya diangkut pesawat lebih besar, dengan demikian barang yang diangkut tentu lebih banyak. Sehingga dapat mendorong biaya logistik semakin murah. Untuk angkutan logistik ke pedalaman pemerintah masih memberikan subsidi angkutan logistik ke daerah terpencil, terluar dan terdepan Indonesia yang Masih sulit dijangkau.

Bandara sebagai pintu gerbang pesawat udara terus dibenahi Kementerian Perhubungan. Demikian pula pelabuhan laut dan pengoperasian kapal perintis milik negara terus ditertibkan dan ditata agar nilai manfaatnya bagi masyakarat lebih terasa dengan kualitas pelayanan yang memenuhi standar pelayanan minimum transportasi. Tidak hanya pembenahan Bandara, Pelabuhan dan kereta api, pengelolaan jembatan timbang dan Terminal Bus kelas A juga dalam proses pengambilalihan oleh Kementerian Perhubungan, tujuanya satu agar pengelolaan tertib, biaya terjangkau dan wajah pelayanan melebihi standar pelayanan minimum. ***

Sumber : kompasiana

Friday, January 29, 2016 - 11:45
Kategori Rubrik: