Biarkan Jokowi Bekerja untuk Indonesia Lebih Baik

Oleh: Kajitow Elkayeni

 

Masih banyak kampret yang menggoreng sertipikat gratis dan perhutanan sosial. Sebenarnya itu dua hal yang berbeda, tapi dicampur-adukkan karena kebodohan mereka. Lalu menyinggung soal Prona. Itu kan bukan program Jokowi, katanya.

Proyek Operasi Nasional Agraria (Prona) yang dimulai sejak 1981, berbeda dengan Program Perhutanan Sosial. Prona tetap dilanjut dengan perbaikan. Karena sejak tahun 1981 sampai era Jokowi (2014), proses sertipikat tanah baru dilaksanakan 44%.

 

 

 

Padahal jumlah tanah yang harus bersertipikat sebanyak 126 juta hektare. Masih tersisa 80 juta hektare. Jika melihat kecepatan BPN sebelumnya, yang hanya bisa memberikan sertipikat 500-600 ribu pertahun, dibutuhkan waktu 160 tahun untuk membereskannya.

You semua sudah koit sebelum itu selesai. Padahal pemecahan tanah dan perpindahan kepemilikan baru akan terus terjadi. Makanya Jokowi memberikan target pada BPN. Perkiraan tahun 2025 soal sertipikat ini harus selesai.

Berarti Jokowi hebat? Ya hebatlah! Gitu kok masih nanya.

Perhutanan Sosial bukan pembagian hak kepemilikan tanah. Tapi hak pengelolaan terhadap hutan sosial. Satu kawasan hutan yang sebelumnya telah mengalami kerusakan. Yang dulunya digagahi korporasi besar macam Prabowo. Itu yang dialihkan ke rakyat.

Sekarang hak itu diberikan kepada rakyat secara langsung. Gratis. Kalau ada yang bayar laporkan ke Saber Pungli. Jangan nyocot di medsos. Terlebih lagi jika situ bego naudzubillah. Tahu diri.

Program perhutanan sosial tak ada kaitannya dengan cara komunis su, bajindul, kampret. Tidak ada penyerobotan tanah yang kau sebut cara PKI itu. Program itu hanya hak konsesi yang diberikan kepada rakyat. Hutannya tetap punya Negara.

Perhutanan sosial sudah dimulai di era sebelumnya, bedanya, soal jumlah dan pendampingannya. Jumlah lahan yang mau dibagi 12 juta hektare. Jokowi juga memberikan bantuan pendanaan dan bimbingan. Lagipula jaman SBY itu baru wacana. Semuanya ruwet dan tidak jelas.

Jangan bersikap tolol, sok kritis, dasar SJW palsu. Cari tahu dulu baru nyocot di medsos. Kritik tentu boleh, tapi sesuai kapasitas. Syaratnya situ bisa berpikir, jadi manusia dulu.

Mengakui hasil kerja Jokowi memang sulit. Tapi kalau bisa jangan memfitnah. Silakan cium bokong Prabowo, sembah dia kalau perlu. Tapi jangan memfitnah Jokowi. Katanya situ punya agama? Ngakunya agamanya paling benar? Ingat dosa su asu!

Biarkan Jokowi bekerja untuk Indonesia lebih baik. Mafia tanah macam Prabowo ngurus kuda sana.

(Sumber: Facebook Kajitow Elkayeni)

Saturday, February 23, 2019 - 19:30
Kategori Rubrik: