Biarkan dan Maafkan

Oleh: Erizeli Bandaro

 

Tahun 2010 , Cuaca winter diluar mendekati nol derajat. Sangat dingin. Tapi tidak didalam ruangan dimana saya dan bersama dia sedang berbicara. Suasana terasa panas ketika dia berbicara begitu kerasnya. Berbagai kata yang tak pantas terucapkan. Dia berkali kali menyalahkan situasi dan juga saya. Kesimpulannya dia tidak lagi mempercayai saya. Saya hanya diam sambil menatapnya. Pada situasi ini yang harus saya lakukan adalah mendengar semua keluhannya dan mencoba untuk mengerti sikapnya. Setidaknya dia butuh orang lain untuk mendengarnya dengan segala tekanan akibat kegelisahannya, ketakutan, kekawatirannya terhadap masa depan. Saya tak ingin berdebat atau membela diri saya. Bagaimanapun dia adalah anggota team saya dan juga sahabat saya.Kami telah melewati waktu kebersamaan cukup lama. Setelah panjang lebar dia berbicara dengan segala emosi bercampur baur , akhirnya dia terdiam. Saya tahu dia lelah dengan sikapnya itu.

Keesokan harinya dia datang menemui saya untuk minta maaf atas sikapnya yang kemarin. Saya hanya tersenyum dan mengatakan kepada dia bahwa apa yang dia katakan tidak ada yang salah. Saya bisa memaklumi cara dia meng-ekspresikan sikapnya. Saya bersyukur emosinya tidak membuat dia pergi dari saya. Dia bingung akan reaksi saya. Padahal dia tahu betul kata katanya kemarin sangat menyakitkan. Apalagi ada beberapa anggota team saya sempat memerah wajah. Dan berusaha menenangkannya bahwa dia tidak pantas bicara sekasar itu kepada saya. Namun saya justru membiarkan dan membenarkan dia berkata apa saja.

 

 

Kadang bila kenyataan tidak bersua dengan harapan maka timbul rasa sesal dan kekecewaan, dan mulai menyalahkan situasi dan kondisi. Ketahuilah bahwa ketika seseorang itu sedang frustrasi karena didorong oleh rasa takut, rasa kawatir , rasa kecewa dan segala rasa , maka dia telah kehilangan kesejatiannya. Dia tidak lagi mengendalkan dirinya. Itu biasa saja. Tidak ada manusia yang sempurna. Karena suka tidak suka, tidak ada orang yang tahu akan masa depan. Tidak ada orang yang ingin kegagalan. Tidak ada orang yang ingin kekecewaan. Tidak ada. Tapi kehidupan ini tidak seperti apa yang kita inginkan..Tugas kita adalah menjaga sahabat dari rasa frustrasi itu untuk mengembalikan kesejatiannya. Caranya ? sabar dengan memaklumi sifatnya. Dia dalam kondisi sangat renta secara emosional.

Dia adalah sahabat saya. Sebagai sahabat, saya bertanggung jawab untuk mengembalikan sahabat saya kepada dirinya sendiri setelah dia terjebak oleh emosi rendahnya. So tidak perlu kita kecewa dengan kemarahan orang lain karena ini bukanlah antara kita dengan orang lain tapi antara kita dengan Tuhan untuk menguji kesabaran diatas niat baik karena Tuhan. Karena sikap saya, teman saya kembali kepada saya. Dia merangkul saya. Sampai kini apabila ada masalah kami tidak lagi menggunakan kata kata untuk mengungkapkan sikap kami, tapi dalam bentuk tindakan untuk saling memaklumi dan saling menjaga atas dasar saling hormat.

Anak ku. Ketika orang memaki mu sebetulnya ada ribuan malaikat hadir bersama mu. Para malaikat sedang menyaksikan sebuah keutamaan anak adam melawan hawa nafsunya untuk menjadi mulia dihadapan makhluk apapun yang diciptakan Allah. Namun apabila kamu membalas makian dengan makian, fitnah dengan fitnahan, saling menebar aib pada saat itulah para malaikat berhamburan pergi. Yang datang dan mengelilingi kamu adalah Iblis. Ketika itulah kamu menjadi hina sehinanya dari semua makhluk ciptaan Allah. Kamu tidak akan pernah bangkit dari keterpurukan kamu, dan akan terus menderita akibat mental rendahmu.

Anakku, Sikap sabar bukanlah kelemahan.Jusru adalah kekuatan sejati. Karena itu tandanya kamu tidak tergantung dari orang lain dan tidak takut hancur karena hujatan manusia. Ketika orang marah dan memaki , dan kamu tidak membalas maka yang terjadi adalah kamu sedang melatih kekuatan spiritual kamu dan sekaligus menolong orang yang sedang marah dari kehinaan dihadapan Tuhan. Biarkan dia dan maafkan.
Pahamkan sayang..

 

(Sumber: Facebook Erizeli Bandaro)

Monday, March 12, 2018 - 00:15
Kategori Rubrik: