Biar Dosanya Kami yang Tanggung

Oleh: Sahat Siagian

 

Sebuah keluarga. Sang Ayah beragama Kristen. Sang Ibu semula muslimah lalu berpindah jadi pengikut Kristus. Mereka dikarunia 3 anak: Fara, Aryo, dan Adi.

Beberapa tahun menikah, Sang Ayah meninggal dunia. Sang Ibu berbalik, kembali menjadi muslimah. Dari 3 anak, Aryo dan Adi memeluk agama Kristen; 1 anak, Fara, beragama Islam.

 

 

Beberapa tahun kemudian Sang Ibu meninggal. Dia dikubur secara Islam, tentu saja. Saat penguburan, beberapa muslimin masuk ke liang lahat untuk menerima dan menurunkan jenazah Bunda. Aryo dan Adi kepingin nyebur. Handai-taulan melarangnya.

"Ibumu sudah dimandikan. Dia sekarang suci, tak boleh dijamah oleh sesuatu yang haram," kata Tantenya yang beragama Islam..

Dua pengikut Kristus itu terbelalak. Mereka ngotot ikut nyemplung. Sang tante bersikeras mencegah. Fara, anak tertua, satu-satunya yang Muslim—diperankan Prisia Nasution, berkata tegas:

"Biarin Tante, dosanya kami yang tanggung."

Hadirin tersima. Aryo lolos dari hadangan, nyemplung ke liang lahat. Bersama para Muslimin ia menerima jenazah bunda, menurunkan dan menguburnya secara Islam.

Demikian secuplik adegan film "Lima", mulai tayang sore ini di jejaring bioskop XX1 dan CGV. Lola Amaria jadi produser. Ia muslimah tangguh, bersama 4 sutradara lain membesut film ini.

Satu gosip sampai ke telinga saya. Beberapa saat setelah "Lima" selesai diproduksi, seorang pejabat publik memberi dukungan. Dia hadir saat preview "Lima" bersama para aktivis keragaman. Ternyata mereka dapati satu hal dari "Lima" dirasa kurang pas bagi sebagian muslim.

Lagu ibadah Kristen "Kekuatan Serta Penghiburan", yang diambil dari kitab nyanyian Kidung Jemaat, berkesan terlalu mendominasi bahkan merasuki "Lima". Mereka minta agar kehadiran berulang lagu tersebut dikurangi.

Hari ini "Lima" diputar. Berbagai kelompok pendukung keragaman telah berpencaran ke sana - ke mari, menghimpun penonton dari berbagai penjuru agar "Lima" bertahan lama di jejaring bioskop, agar suara dari rahim pertiwi bergema ke seantero Nusantara.

Saya telah mengosongkan waktu untuk senja nanti. Bersama dengan banyak teman, kami akan hadir menjadi saksi utama: "di sini, di negeri ini, bom boleh meledak tiap hari. Tapi kami berdiri bersama Bunda menjaga Indonesia, memastikan segenap kaum dan golongan hidup rukun, berkesempatan adil meraih kemajuan."

"Dosa dia kami yang tanggung," kata si Kakak Muslim. Sementara orang Kristen masih sibuk berkaok-kaok memastikan surga hanya milik mereka.

Kekuatan serta penghiburan diberikan Tuhan padaku 
Tiap hari aku dibimbingNya; tiap jam dihibur hatiku 
Dan sesuai dengan hikmat Tuhan 'ku dib'rikan apa yang perlu. 
Suka dan derita bergantian memperkuat imanku.

https://www.youtube.com/watch?v=jF6WtWRR7EM&t=4s

Thursday, May 31, 2018 - 15:00
Kategori Rubrik: