Betsapa Panjangnya Kemarau

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Negeri kita Indonesia, hanya mengenal dua musim. Penghujan dan kemarau. Meski yang sekarang kita tidak tahu lagi, pembagian kedua musim itu. Puisi ‘Hujan Bulan Juni’ Sapardi Djoko Damono, mungkin tak lagi sangat mengesankan, karena hujan bisa saja menerobos hingga Juli dan Agustus. Tidak juga sebagaimana ungkapan orang Jawa, ketika masuk bulan April pun hujan sudah mulai pral-pril.

BMKG pun kini paling banter hanya bisa memprediksi seminggu-dua minggu ke depan. Mungkin kita berada dalam situasi transisi, di mana segala kebiasaan dan kemestian juga berubah. Bahkan pun untuk yang dulu kita yakini sebagai ukuran-ukuran normative. Hingga kita ngotot mengenai nilai-nilai tapi kita tak mampu mengubah sisi pandang.

 

Apakah Muhammad, Kanjeng Nabi Rasulullah shallallahu’ alaihi wasallam hepi dengan alasan Abdul Somad Batubara, yang disebut-sebut ustadz atau guru agama itu? Bahwa dirinya tidak bersalah, karena itu soal keyakinan agamanya, dengan rujukan kitab sucinya, dan itu kajian tertutup? Kajian tertutup kok divideo dan kemudian bisa bocor!

Abdul Somad bukanlah manusia bijak, karena hanya berapologi pada teks, dan sama sekali tidak membaca konteks sebagai ajaran Kanjeng Nabi mengenai asbabun nuzul. Dari situ, dimana nilai dia sebagai guru agama, kalau cuma bisa ngotot hanya menyampaikan apa yang ada dalam keyakinannya? Dia hidup di jaman apa? Di negara mana?

Cara pandang Abdul Somad dan kawan-kawannya yang sejenis itu, adalah yang juga membuat tindakan-tindakan sebagaimana yang dilakukan masyarakat Papua beberapa hari lalu. Apapun alasannya. Meski sesungguh-sungguhnya, yang luput diperhatikan, apa sebenarnya inti masalahnya? Benarkah diskriminasi seperti selama ini yang didengungkan? Rasialisme? Ketimpangan ekonomi? Atau pendidikan?

Saya ingin sodorkan hal lain, tentang apa yang diistilahkan dengan ‘Bisnis Penggulingan Rejim’, yang sepertinya tengah dipraktikkan di Indonesia, setelah ‘sukses’ dengan Prahara Suriah dari apa yang disebut ‘Arab Spring’. Ini sebuah proxy-war dengan konsultan yang sama, dan para netizen tanpa sadar ikut menjadi bagian dari permainan. Beberapa terlihat enjoy ikut pula membuat api menjalar makin lebar, dengan isu-isu ketimpangan ekonomi, ketidakadilan, memainkan sentimen agama dan etnis. Media mainstream, apalagi televisi, selalu terlihat bodoh memposisikan diri.

Pada sisi itu, soal bendera dan kata ‘monyet’ pun, juga soal isu pengusiran, bisa membakar seluruh kota. Padahal, apakah yang terjadi sebenarnya? Siapakah yang mengatakan itu semua? Anda yang tidak cross-check kebenarannya pun, turut serta memanaskan dengan menyebarkan. Apalagi ikut menghakimi dengan keberpihakan.

Kita mudah diadudomba karena musim kemarau yang panjang. Kemarau yang memunculkan kegersangan, kekeringan. Kekeringan dari siraman ilmu pengetahuan yang integrated dengan peradaban dunia; Dari guyuran rohani yang tidak direcoki kepentingan politik; dan dibebaskan dari permainan elite politik yang asyik masturbasi untuk kenikmatan mereka sendiri.

“Ketika pintu fitnah dibuka, hanya orang bijak yang tahu awal pintu dibuka,” berkata Asy-Syahid Syekh Butty. Menurut ulama Aswaja Suriah itu, orang bodoh baru mengetahuinya setelah semuanya hancur! Maka, pertanyaannya kini, di mana para filsuf, penyair, pemain teater, atau siapapun yang bergerak di lapangan kebudayaan dan kemanusiaan? Jangan hanya Polisi dan Tentara mulu! 

 

(Sumber: facebook @sunardianwirodono)

Wednesday, August 21, 2019 - 14:45
Kategori Rubrik: