Bertoleransi dengan Sehat

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Lagi musim, dai-dai sebelah, memanipulasi infomasi dengan cara-cara yang sering tidak kita sadari. Misalnya di grup WA LBM Muda Lirboyo ada yang share tahun-tahun wafat ulama sejak Nabi saw abad 1 hingga abad 2 hijriyah.

Pada abad 7 disebut Ibn Taimiyah dan abad 14 disebut Bin Baz dan Ustaimin. Kita digiring tanpa sadar. Sejak kapan para ulama kita mengakui "mujasimah", antromorpis yang menganggap Allah berjasad bersemayam seperti bin Baz dan Ustaimin sebagai ulama?

Ada juga ustadz Wahabi (Adi siapa namanya) yang menyebutkan nasab KH. Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan bertemu di Maulana Ishaq dan menekankan keduanya sama-sama murid Syeikh Ahmad khotib Sambas kemudian menafikan perbedaan serius paham keagamaan diantara keduanya.

Toleransi, perseduluran, guyub rukun itu perlu. Tapi bukan berpura-pura atau menutup-nutupi perbedaan. Kita bisa rukun dengan Kristen yang meyakini trinitas tanpa harus mencari pembenaran keyakinan mereka dengan mengaduk-ngaduk kitab suci kita.

Seperti kita bisa rukun dengan Muhammadiyah tanpa harus menafikan perbedaan tajam antara kita dan mereka, misalnya;

Mereka meyakini Allah bersemayam di Arasy (dari Muhammadiyah muncul istilah "Yang Diatas" sebagai kata ganti Allah, kita tidak mengenalnya).

Mereka mengingkari Thariqat (baca saja tasawuf modern Hamka).

Dalam Fiqih mereka juga tidak mengakui hierarki dalam bermadzhab, mujtid mutlaq mustaqil-mujtahid mutlaq muntasib-mujtahid madzhab-ashabul wujuh -mujatid fatwa - mujathid tarjeh - hamalatul fiqhi dll. Mereka tidak memghormati kompleksitas dalam bermadzhab. Karenanya mereka melarang taqlid dan orang awam dipaksa berijtihad.

Mereka juga mengingkari karamat dan mukjizat (baca saja al-Manar kitab tafsir rujukan mereka).

Mereka juga tidak meyakini hierarki kewalian afrad, nujaba, abdal, qutub, qutbil aqtab dll.

Tauhid mereka aswa wa sifat uluhiyah-rububiyah tidak dikenal dan tidak mengakomodir tauhid ahli hadis, ahli kalam maupun tauhid kaum sufi. Dan ada banyak perbedaan fundamental lainnya.

Tahun 1926 NU harus lahir karena mereka melakukan banyak kekeliruan dalam memahami dan mengamalkan Islam.

Tapi kita bisa hidup rukun tanpa perlu berpura-pura tidak ada perbedaan apalagi menutup-nutupi perbedaan atas nama kerukunan umat padahal tujuannya membodohi umat supaya jualannya laku. Berhati-hartilah.

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Friday, November 10, 2017 - 17:15
Kategori Rubrik: