Bertemu Suami Orang itu Qodarullah atau Ujian?

ilustrasi

Oleh : Sari Musdar

Bagi kita yang muslim percaya adanya qadarullah.
Qadarullah dipahami sebagai segala hal yang terjadi baik atau pun buruk adalah takdir Allah

Ada beberapa muslim kemudian yang sering 'mengkambinghitamkan' qadarullah
Padahal saya percaya, Allah juga memberikan free will, kebebasan berpikir dan manusia bisa berusaha yang terbaik sebelum menunggu qadarullah terjadi.

Saat kita melihat langit mendung, kita sudah antisipasi membawa payung.
Bukan nanti saat kehujanan karena kita ngga bawa payung, kita dengan pasrah bilang "Ya qadarullah sore ini saya kehujanan"

Contoh lainnya adalah saat seorang pelakor syari bilang bertemu dengan suami orang yang kemudian menikahi dia diam-diam adalah qadarullah.

Saya sih pengen ketawa.
Seolah-olah dia kucing betina yang ngga punya kemampuan berpikir dan pasrah

Kucing betina kalau didekati kucing jantan yang akan mengawini dia dan dia ngga suka, akan menabok muka si kucing jantan.
Dengan segala usaha dia akan menolak dikawini.
Sampaii kemudian si kucing jantan terus gigih memaksakan kehendaknya, akhirnya terjadilah perkawinan.
Itu kucing betina

Manusia?
Manusia punya akal dan qalbu
Akal dan qalbu ini yang membedakan kita dengan hewan
Akal dan qalbu yang membuat kita sadar, sebagai manusia kita punya batasan, batasan agama, norma sosial dan norma hukum.
Kita ngga bisa berbuat seenaknya tanpa berpikir akibatnya.

Saya misalnya, ketemu cameraman good looking dari luar negeri yang bekerjasama dengan saya selama 3 hari.
Selama bekerja dengannya dia memperlakukan saya dengan sangat baik dan penuh perhatian hingga repot mencari tissue saat saya makan nugget dan tangan saya belepotan.

Bertemu dengannya adalah qadarullah
Saat tahu dia sudah menikah dan punya anak, saya sadar ini ujian.
Di sinilah peranan free will, saya menggunakan akal dan qalbu saya.
Sebaik apa pun dia ke saya, saya tahu batasan, dia suami orang, maka saya membatasi ini adalah hubungan kerja

Sebagai single, terutama saat bekerja di Site di papua, dulu saya sering mengalami didekati suami-suami orang.
Untungnya saya paham dengan baik qadarullah dan ujian hidup.
Saya tidak menyalahkan qadarullah.

Bagi yang percaya ada reinkarnasi mungkin jauh lebih memudahkan untuk tidak berbuat jahat.
Dalam reinkarnasi, orang percaya, saat kita berbuat jahat, mengambil hak orang lain, merenggut kebahagiaan seorang istri dan anak, kita harus membayar / bertanggung jawab pada karma itu di kehidupan saat ini atau kehidupan akan datang.

Percaya pada karma dan reinkarnasi membuat orang jauh lebih berhati-hati, sebab segala perbuatan baik atau jahat akan kembali ke kita.
Kita tidak bisa pergi sebelum mempertanggungjawabkan perbuatan jahat kita.

Bagi muslim yang tidak percaya karma dan reinkarnasi, mestinya sadar juga, segala perbuatan kita baik atau pun buruk tetap harus kita pertanggungjawabkan di akhirat nanti.
Kita tidak hanya hidup di bumi, tapi ada alam akhirat.

Saya percaya apa yang ada di alam semesta adalah energi.
Energi menurut fisika tidak akan berubah jumlahnya, hanya berubah wujud
Contohnya, Air berubah jadi es atau embun.

Pikiran juga energi
Benda-benda di alam semesta juga energi
Saat kita merusak energi keluarga lain yang tadinya bahagia, alam/ Allah akan menyeimbangkan energi tersebut.
Tunggu saja alam bekerja dan mengembalikan keseimbangan tersebut !

Orang yang mencintai dirinya, terutama jiwanya, akan lebih berhati-hati saat bertindak.
Orang yang percaya dia adalah jiwa, ngga akan menuhankan egonya
Bagaimana bisa bahagia dengan merenggut kebahagiaan orang?

Orang yang percaya dirinya jiwa, percaya segala tindakan kita akan berbalik ke kita
Sayangi diri, pilihlah berbuat baik.

#empath #tafakur #selflove

Sumber : Status Facebook Sari Musdar

Wednesday, November 13, 2019 - 11:00
Kategori Rubrik: