Bertemu "Obama" dan "Michelle" di Papua

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

 
Salah satu daerah yang saya kunjungi sewaktu liburan akademik tahun ini adalah Papua di ujung timur Indonesia. Secara khusus, kedatangan saya ke Papua ini adalah untuk memenuhi undangan pimpinan STFT I.S. Keijne di Abepura yang meminta saya mengisi kuliah umum tentang pentingnya merawat perdamaian dan pluralisme di Tanah Papua khususnya. 

Acara kuliah umum yang semula mau digelar di aula kampus STFT IS Keijne akhirnya dipindah ke auditoriaum Universitas Cenderawasih (Uncen) yang berkapasitas lebih besar guna mengantisipasi membeludaknya peserta. Selain di Uncen, acara kuliah umum juga digelar di kantor Gubernur Papua.

 

 
Sambutan masyarakat Papua sungguh luar biasa. Peserta datang dari berbagai kalangan dan profesi: akademisi, mahasiswa, tokoh agama, birokrat, militer, polisi, aktivis, pimpinan gereja, dlsb. Bukan hanya para tokoh Kristen saja, para tokoh Islam juga ikut memeriahkan acara diskusi. 

Salah satu tema penting yang dibahas dalam kuliah umum adalah bagaimana membangun relasi Kristen-Muslim yang lebih sehat dan kondusif di Papua guna mewujudkan toleransi antaragama dan sebisa mungkin meminimalisir potensi konflik.

Karena waktu yang sangat terbatas, mereka menjadwalkan saya kembali tahun depan untuk hadir dan mengisi berbagai diskusi dan workshop Kristen-Muslim yang lebih intensif di berbagai daerah di Papua, baik Papua pantai (pesisiran) maupun Papua gunung (Pedalaman). 

Selama di Papua, saya bukan hanya mengisi kuliah umum saja tetapi juga saya sempatkan untuk berdiskusi informal dengan berbagai kalangan akademisi dan tokoh agama. 

Selain itu, saya juga sempatkan untuk mengunjungi dan melihat sejumlah "landmark" pembangunan megah yang dilakukan oleh pemerintah Jokowi: jembatan, pasar, pembangkit listrik, jalan raya, dan kantor perbatasan Papua-PNG yang cukup mewah.

Melihat maraknya pembangunan di era Jokowi ini, karena itu tidak heran jika respons masyarakat dan tokoh Papua (yang saya temui) terhadap Jokowi pada umumnya sangat positif dan antusias. Mereka menilai, selain Gus Dur, Presiden RI yang menjadi "pujaan hati" warga Papua adalah Jokowi. 

Hal lain yang tak kalah menariknya sewaktu di Papua adalah saya sempat bertemu dan berfoto bersama (seperti di bawah ini) dengan mantan Presiden AS, Pak Obama dan Bu Michelle, sebuah kesempatan yang sangat langka, sama langkanya dengan politisi, tokoh agama, dan birokrat waras di Indonesia. 

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

 
 
(Sumber: Facebook Sumanto AQ)
Sunday, August 5, 2018 - 09:45
Kategori Rubrik: