Bertanya Jadi Curhat

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.MA

Setiap kali ada orang izin bertanya via WA, telpon atau sosmed, saya langsung potong saja. Maat ya Pak, maaf ya Bu. Nampaknya saya bukan orang yang tepat sebagai tempat curhat.

Apalagi urusan rumah tangga. Mohon maaf sekali, silahkan hubungi ustadz anu dan anu atau dan cari saja ustadz lain saja ya, yang mau dijadikan tempat curhat.

Kok gitu?

Bukan apa-apa, saya ini sudah kekenyangan dan blenek mengikuti kisah-kisah sinetron kehidupan, yang mana persoalannya tidak ada habisnya. Semua episodenya terus bersambung, berseason-season dan nggak kelar-kelar juga.

Curhat model begini, apalagi urusannya kalau bukan urusan rumah tangga? Biasanya nggak jauh-jauh dari selingkuh, cemburu, sudah tidak sayang, dipoligami suami secara diam-diam, suami istri saling ber-CLBK dengan masing-masing mantan dalam acara reuni, atau merebut suami orang dan yang sekelas-kelas itulah jurusannya.

Dan paling males ketika harus mendengarkan seorang istri menceritakan kejelekan-kejelekan suaminya. Atau sebaliknya, suami mengadukan ulah istrinya ke saya.

Atau urusan keributan bagi waris, dimana dua kubu keluarga saling betot membetot urusan harta.

Dan yang paling sering adalah urusan ribut sama orang lain, yang demi Allah, saya tidak kenal satu pun orangnya. Bahkan yang curhat pun tidak saya kenal juga. Ini siapa sih, kenal juga nggak, tiba-tiba curhat urusan rumah tangga.

Lu kira gue Uya Kuya?

Dulu sekali saya masih lugu dan mudah terenyuh kalau ada yang telpon mau ngadu dan curhat urusan rukah tangga. Wahaha, gaya saya sudah kayak petugas BP4 aja, Badan Penasehat Perkawinan dan Perceraian.

Sampai banyak pasangan muda yang minta saya selesaikan urusannya, mereka datang ke rumah, saling curhat, saling melaporkan, saling menceritakan pengkhianatan masing-masing.

Tapi lama-lama makin banyak saja orang ngadu ke saya dalam urusan rumah tangga, tidak ada habis-habisnya kalau dituruti. Waktu saya terbuang amat banyak dengan percuma.

Akhirnya saya putuskan untuk berhenti dari berlagak bak dewa penolong. Ini bukan passion saya, ini bukan style saya. Dunia saya bukan disini.

Lalu sampailah saya pada tahap mengurangi bahkan menolak urusan begituan. Namun saya masih cukup sopan dengan menolak secara halus kalau ada yang izin minta curhat urusan rumah tangga.

Tapi lama-lama saya capek juga, sehingga saya sudah mulai menolak secara tegas. Apalagi kalau lewat medos, saya cuekin bahkan saya hapus dan blokir. Buat saya akhirnya orang curhat seperti itu sudah selevel dengan spam. Jadi sudah auto delete di sistemnya.

Tapi apa yang terjadi?

Saya malah dihujat dan dimaki-maki, dibilang sombong lah. Sudah kirim WA, inbox, SMS, email tapi kenapa tidak dijawab?

Maka mejret lah saya.

Sumber : Status facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Saturday, February 8, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: