Bertahan ditengah Pandemi

ilustrasi

Oleh : Aldira Maharani

Tadi saya keluar rumah untuk belanja kebutuhan pokok karena stok makanan di rumah sudah habis.

Saat sampai di komplek perumahan dibukalah portal oleh Pak Iwan, satpam komplek.

Lalu beliau menyapa,

"Selamat siang Bu Dira, baru pulang kerja ya. Mohon maaf bu ada yang mau saya bilang mumpung ketemu ibu."

"Kalo boleh, saya mau beli telur dari ibu soalnya aga susah disaat situasi sekarang."

Saya menoleh lalu bilang,

"Saya habis belanja dari supermarket pak beli kebutuhan pokok. Kebetulan beli telur buat stok di rumah. Silahkan ambil aja kalo mau."

Tiba-tiba Pak Iwan memberikan uang. Dan dia bilang,

"Gpp bu saya beli aja telur nya."

Kemudian langsung saya tolak. Dan beliau bercerita, katanya baru dapat honor jaga malam lalu mau beli telur habis dimana-mana.

Saya bisa memaklumi dan saya faham kesusahan yang dirasakan Pak Iwan. Tapi untungnya saya beli telur banyak jadi bisa memberikan telur kepadanya.

Saya beli kebutuhan pokok seperti daging, sayuran, susu, telur dll karena di rumah tinggal banyak orang. total ada 6 orang. Saya, suami, 2 anak, ART, dan supir.

Setelah berbincang dengan Pak Iwan dan memberikan telur, lalu saya pulang ke rumah dan merenung di dalam mobil.

Saya mikir, Bagi yang punya gaji bulanan seperti pegawai negeri mungkin masih aman walau tak tahu sampai kapan wabah ini berlalu.

Yang punya gaji harian bahkan yang baru bisa punya uang jika keluar rumah, gimana ya dengan system stay at home.

Sungguh simalakama terberat dan ini lebih berat mungkin daripada krisis tahun 98.

Bahkan Pak Iwan sempat bilang, ini lebih berat daripada perang bu. Saya mau ketemu istri aja gak bisa karena mau pulang kampung gak boleh mudik.

Berat banget musibah kali ini yang menerpa tak hanya ekonomi saja, tapi juga silaturahmi antar sesama dan juga melaksanakan kewajiban agama seperti sholat jumat untuk sementara jadi terhambat.

Saya juga mau kasih bantuan ke orang-orang tapi gimana caranya ya, terakhir 3 minggu yang lalu saya memberikan bantuan membagikan masker kain di panti jompo, itupun saya mesti jaga jarak aman, tidak berkerumun, setelah selesai membagikan masker langsung pulang tidak sempat ngobrol banyak sama opa oma.

Sementara untuk sekarang harus stay at home dan dibatasi ruang gerak serta aktivitas kemana mana kecuali darurat. bahkan untuk bersedekah pun sulit.

Apa yang terjadi dan dialami Pak Iwan serta banyak orang diluar sana, ini wujud kepasrahan diri dari segala ketidakberdayaan.

Apa lagi yang bisa dilakukan? Bukannya tak mau berikhtiar, bukan juga tak bersimpati, bukan juga gak nurut sama pemerintah dan ulama, tapi segitulah kemampuan yang bisa dikerahkan.

Jadi, tolonglah buat kalian yang mampu melaksanakan segala himbauan, masih bisa kerja dari rumah, kerjain yang bisa kalian kerjain. Beribadah di rumah jangan bandel maksa ke Masjid, Gereja, dll.

Bersyukur masih bisa di rumah yang rapi, bersih, luas, stok makanan melimpah, uang cukup. Jangan cari gara-gara dan perkara.

Semoga saya dan kita semua mampu untuk resilient menghadapi masa-masa sulit seperti ini. Karena kita tidak tahu kapan wabah ini akan berakhir.

Seberapa panjang perjalanan ini, kadang kita butuh ruang untuk menghela napas sejenak. Its ok kalau tidak bisa kuat setiap saat.

Pengakuan akan membuatmu lebih menghargai diri sendiri, jauh lebih mudah untuk bersyukur dan beradaptasi terhadap perubahan.

Kita semua harus yakin, mampu melewati wabah ini serta menghadapinya dengan lebih resilient.

Kita pasti mampu untuk bisa bangkit, tetap produktif, dan menjalani hidup dengan normal kembali tanpa ada kepanikan dan ketakutan yang berlebihan.

Percayalah, setelah badai akan ada pelangi yang indah dan Tuhan akan senantiasa menjaga dan bersama kita semua. Aamin.

Sumber : Status facebook Aldira Maharani

 

Monday, April 13, 2020 - 22:30
Kategori Rubrik: